Skip to main content

Meskipun Kulempar Matahari (Daur-II • 279)

Kasihan Gentoling dan teman-temannya. Usia masih muda belia tetapi Pakde-Pakde mereka mempengaruhkan sesuatu yang tidak produktif untuk hidup mereka. Generasi muda harapan bangsa yang sedang giat-giatnya membangunkan jiwanya dipenuhi oleh hal-hal yang menyangkut ke-Tuhan-an, nilai-nilai rohani, monomor-satukan Akhirat dan monomor-duakan dunia. Gimana tak macet perjalanan mereka ke masa depan.

Mestinya anak-anak Zaman Now dipacu adrenalin materialismenya. Dicambuk kariernya untuk sukses. Menjadi penguasa besar, pejabat tinggi, kaya raya. Memanjat waktu sampai setinggi langit. Mengarungi ruang sampai berkuasa mengeruk seluruh kekayaan cakrawala. Anak-anak muda harus ambisius, menggunakan hak-hak hidupnya untuk menjadi manusia besar, pemimpin pembangunan dan pengendali sejarah.

Lha para Pakde ini mewakili Mbah Markesot malah menenggelamkan mereka ke dalam kosmos spiritual, filosofi, sangkan paraning dumadi, prinsip “inna lillahi wa inna ilaihi roji’un”. Jadinya hidup kaum Zaman Now ini terlalu diganggu oleh hal-hal mengenai Tuhan, Malaikat, Kitab Suci, Nabi dan Rasul. Semua yang dikisahkan tentang Markesot adalah semesta nilai-nilai seperti itu. Tak ada gunanya di tengah kompetisi mencapai sukses di dunia. Anak-anak muda itu akan berposisi marjinal sepanjang hidupnya.

Tetapi Pakde Tarmihim punya alasan lain. “Supaya kelak kalau kalian meninggal, generasi sesudah kalian tidak mengarang-ngarang tentang riwayat hidup kalian. Berapa banyak tokoh-tokoh sejarah dimanipulasi fakta-fakta hidupnya sesudah mereka meninggal. Dipalsukan baik untuk kebaikan atau kejahatan. Untuk berlindung atau menunggangi. Untuk menghikmahi maupun untuk pijakan politik eksploitasi”

“Sejarah bisa merupakan gelombang besar kebohongan dan pembalikan fakta. Tokoh penjajah bisa diangkat jadi pahlawan. Yang di sana-sini bikin perkara dan perpecahan, bisa dicatat sebagai tokoh pendamai. Pemimpin yang praktik tindakannya sangat primordial dan egosentris pada kepentingan golongannya sendiri, bisa dimonumenkan sebagai Bapak Pluralisme”

Demikian jawaban Pakde Tarmihim atas gugatan Toling: “Untuk apa sih harus diceritakan hal-hal seperti itu tentang Mbah Sot? Apa itu bukan riya`. Pamer jasa dan kepahlawanan. Apalagi levelnya ècèk-ècèk…”

Sebenarnya agak menyakitkan juga pilihan kata Toling bagi Pakde Brakodin maupun Sundusin. Tapi Gentholing ini memang lebih liar dibanding teman-temannya. Dan yang diperlukan dari karakternya adalah kecerdasan kritisnya.

Toling meneruskan. “Pakde yang saya hormati. Sekarang ini orang menyangka Fir’aun itu adanya dulu di zaman Mesir Kuno, dan Abu Jahal itu eksis di era Nabi Muhammad. Sekarang kalau ada Hitler beragama Islam, akan diangkat menjadi Khalifah Kaum Muslimin sedunia. Andaikan Mbah Markesot melempar pasir ke sebuah gedung sehingga terbakar, petugas hukum belum tentu merasa perlu melacaknya, sebab soal terorisme sudah ada skenario bakunya sendiri. Andaikan Pakde Tarmihin mengejar dan menghentikan rombongan 400-an orang yang akan menyerbu kota sebelah kemudian menggiringnya masuk Masjid, lantas mengatasinya dengan Mara`dia – orang tidak akan mencari tahu asal usulnya. Karena yang dianggap penangkap penjambret adalah siapa saja yang duluan berfoto memegang tangan penjambret itu”

“Bahkan andaikan Asif bin Barkhiyah bersama Jin Ifrith memindahkan Gedung Putih ke samping Istana Negara di Jakarta, pedulikah orang selain kepada bendanya? Andaikan tim arsiteknya Nabi Sulaiman datang membuat saluran-saluran raksasa sehingga air meluap ke darat dan seluruh Ibukota menjadi danau besar. Andaikan kelompok utusan Nabi Hud meratakan bagian tengah Pulau Jawa dari ujung barat ke ujung timur untuk runway pesawat-pesawat diplomatik dan dagangnya. Andaikan Habibullah Muhammad saw turun di puncak Gunung Merapi, mengangkat kedua tangannya ke atas sehingga terbelahlah rembulan. Apakah itu semua akan mengejutkan bagi masyarakat Peradaban Setnov?”

“Andaikan Muhammad meneguhkan sumpahnya: “Lau wadla’as syamsa fi yamini wal qamara fi yasari, lan atruka hadzal amra”: Andaikan matahari digenggamkan di tangan kananku dan rembulan di tangan kiriku, tak kan kutinggalkan urusan ini. Coba saja Kanjeng Nabi datang ke sini dan viralkan tekad itu — kurang dari sepuluh menit insyaallah akan segera menjadi umpan lambung untuk di-bully”.
                                                                                                                                                                   
“Bukannya mereka meremehkan Nabi Muhammad, tapi tak akan percaya bahwa itu Nabi Muhammad. Mereka hanya percaya kepada Nabi Muhammad yang sudah tidak ada, dan takkan percaya kepada Nabi Muhammad yang ada sampai hari ini di tengah jutaan pecintanya yang menshalawatinya di sana sini. Nabi, Rasul, Wali, orang mulia, hanya mereka percaya kalau tidak di depan mata mereka. Kemungkinan besar segera akan ada berita dari pihak keamanan bahwa ada orang datang mengaku Nabi Muhammad, padahal ia adalah salah satu anak buah jaringan teroris Bahrun Naim”.

Sesungguhnya orang-orang yang membawa berita bohong itu adalah dari golongan kamu juga. Janganlah kamu kira bahwa berita bohong itu buruk bagi kamu bahkan ia adalah baik bagi kamu. Tiap-tiap seseorang dari mereka mendapat balasan dari dosa yang dikerjakannya. Dan siapa di antara mereka yang mengambil bahagian yang terbesar dalam penyiaran berita bohong itu baginya azab yang besar.[1] (An-Nuur: 11)

Jika Allah menghendaki, niscaya Dia musnahkan kamu wahai manusia, dan Dia datangkan umat yang lain sebagai penggantimu. Dan adalah Allah Maha Kuasa berbuat demikian”. [2] (An-Nisa: 133) Sedangkan manusia hidup punya tradisi memusnahkan orang yang sudah mati. Menghancurkan karakternya, membalik profilnya, memanipulasi posisinya.

“Ketika hidup seseorang mengkhianati Bapaknya sendiri. Sesudah Bapaknya mati, ia mengumumkan ke seantero kampung bahwa pertengkaran dengan Bapak dulu hanyalah ‘acting’ yang didesain Bapak untuk keperluan tertentu. Si anak kemudian mengumumkan bahwa ia sebenarnya sangat setia kepada almarhum. Dengan demikian semua produk jasa sejarah almarhum Bapaknya kini menjadi aset anaknya”.

“Bahkan manusia yang religius, tokoh di jalur Agama, lahir di persekolahan nilai-nilai luhur — bisa berbuat sesuatu seolah-olah Tuhan tidak ada, sehingga tak akan ada tindakan atau balasan apapun yang akan menimpanya. Jangan dikira dalam kehidupan yang sedang kita alami ini cukup banyak manusia yang benar-benar percaya kepada eksistensi Tuhan dengan pernyataan-pernyataan firman-Nya”, kata Toling, “apalagi cerita abal-abal Mbah Markesot yang Pakde sibuk mengisahkannya”.

Yogya, 24 November 2017

Comments

Popular posts from this blog

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

HUTANG TUHAN

Tahun 1984 di Berlin saya dikursus privat oleh Senior (usia) yang tak bisa balik ke Indonesia sejak 1965 tentang Ekonomi Sosialis: hasilnya saya tidak lulus. Kemarin saya diceramahi oleh Junior (usia) tentang “sunnatullah” kapitalisme liberal: hasilnya lebih tidak lulus lagi, gagal paham dan tidak mampu move-on. Allah dalam “sunnatullah” di sini maksudnya uang. Uang adalah the Second God, tuhan kedua. Bagi Negara ataupun manusia, hidup adalah “membangun reputasi di hadapan sumber keuangan”. Keselamatan adalah “mematuhi kondisi yang ditetapkan fund manager”. Jalan menuju sukses adalah “menunjukan performa terbaik, supaya investor masuk, menghutangi kita tuhan”. Sudah terlanjur tua renta saya baru timik-timik mulai sangat sedikit paham bahwa hidup adalah keseimbangan berlayar di atas gelombang hutang-piutang. Hidup adalah menjaga posisi di atas ombak sebab-akibat keuangan yang berputar dan dinamis: bukan soal yang kau makan itu milikmu atau bukan, melainkan tetap bisa makan atau tid...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...