Skip to main content

Membubarkan Tawuran (Daur-II • 266)

Kalau disebut nama Geng seperti “Cobra”, “Murka”, “Kapak Maut”, “Ronggo”, “Tulani”, Anker”, “Pertapa”, “Bledex”, “Alcatraz” dan “Death” — itu bukan nama-nama fiktif yang dikarang untuk sebuah tulisan. Itu beneran. Kumpulan anak-anak muda dengan gejolak hati dan muatan otak tertentu yang mewujud pada aspirasi nama-nama itu. Yang ditulis di semacam papan-papan, ikat kepala, jaket atau kaos, serta ekspresi-ekspresi lainnya, di mana seluruh kostum yang mereka pakai bersesuaian dengan muatan-muatan itu.

Jumlah anggota semua Geng yang dihadapi oleh Mbah Sot di Stadion Titiwangsa Kuala Lumpur itu sekitar 350 orang. Mereka menguasai area pas depan panggung. Sesungguhnya mereka minoritas di tengah sekitar 8 ribu orang yang memenuhi bangku-bangku stadion. Mbah Sot sedang mengawal grup musik asuhannya pentas di stadion itu. Puluhan ribu pekerja dari tanah air di Negeri itu memiliki hubungan diam-diam yang aneh dengan Mbah Sot.

Pimpinan Geng-geng itu sebenarnya sudah berkumpul dan omong-omong dengan Mbah Sot. Menyepakati sejumlah hal. Tetapi pada hari-H, ternyata anak-anak buah mereka tetap tak bisa dikendalikan. Begitu musik berbunyi, 350-an anak-anak muda itu langsung “ndadi”, semacam in-trance, berjoget-joget dan berteriak-teriak hampir mengalahkan bunyi musik. Minimal mengacaukannya. Jenis musik apapun saja yang dibawakan — rock, dangdut, kasidah, jathilan, bahkan pun shalawat-shalawat yang halus dan pelan: tetap direspons oleh warga Geng-Geng itu dengan lonjakan, teriakan dan semacam suara amuk.

Pada nomer musik ketiga, muncul gesekan di antara mereka. Kemudian dengan tempo mendadak tinggi, berlangsung tawur. Semula seseorang dari satu Geng berbenturan dengan satu orang lain dari Geng lain. Berikutnya membengkak dan akhirnya menjadi tawur sungguhan yang semakin massal. Dan ternyata tidak sedikit di antara mereka yang membawa alat-alat keras, yang semula mereka sembunyikan di balik pakaian mereka. Pisau, tongkat besi, palu, kayu, rantai, bahkan kelewang dan bermacam senjata lagi.

Tatkala suasana semakin tak terkendali, tiba-tiba Mbah Markesot terjun dari panggung dan langsung membelah-belah area pertempuran. Semua anggota grup musik terjun juga mengikuti Mbah Sot.
Mereka mencoba melerai. Tidak mudah sama sekali. Dan membutuhkan waktu cukup lama. Tetapi semua situasi sampyuh itu mendadak berakhir ketika terdengar satu teriakan yang sangat keras.
Suasana mendadak senyap. Ratusan anak-anak muda terpana, wajahnya menatap ke kiri kanan dengan sorot mata yang kosong dan misterius. Banyak di antara mereka yang menggeletak. Terluka atau kelelahan. Kemudian dengan gerakan tangan Mbah Sot menggiring mereka bergeser dari area depan panggung ke suatu ruangan. Satu persatu pelan-pelan mereka semua berjalan ke ruangan itu. Sementara Mbah Sot dengan kode juga meminta kepada grup musik itu untuk naik panggung, minta maaf kepada mayoritas hadirin, mengulang sapa kepada mereka kemudian memainkan kembali nomor-nomor musik, sebagaimana seharusnya.

Pakde Tarmihim mengisahkan itu dengan mimik muka yang jauh lebih serius dibanding sebelumnya. Ia menuturkan, teriakan keras dan menggema yang menghentikan tawur itu pasti bukan “shoihatan wahidatan” seperti yang dimaksudkan oleh Allah di firman-Nya. Tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami”. [1] (Yasin: 53)
Tapi kemudian Tarmihim senyum sendiri dan nyeletuk: “Tapi ya nggak lah. Yang dimaksud Allah satu teriakan keras itu adalah hari kiamat. Mungkin itu suara terompet Malaikat Isrofil. Tetapi siapa tahu, mungkin di dalam sejarah manusia akan terjadi momentum teriakan zaman semacam itu, yang mengubah keadaan secara radikal”.

Sementara itu, di ruangan di mana para anggota Geng itu dikumpulkan, Mbah Sot pidato keras: “Kami datang ke sini ini untuk melakukan beberapa pertemuan untuk membenahi etika dan profesionalitas kerjasama ketenagakerjaan antara Negara kita dengan Negara tempat kalian bekerja. Tapi kalian melukai hati saya dan merusak segala sesuatu yang sedang diperbaiki. Kalian mempermalukan bangsa kita. Kalian juga durhaka kepada Tuhan karena tidak bersyukur bahwa kalian mendapatkan pekerjaan dan gaji yang sangat lumayan, di tengah semakin meningkatnya kesulitan berkerja di tanah air kalian. Kalian ini benar-benar anak-anak bangsa yang pekerjaan utamanya adalah menghancurkan diri sendiri”.

Untung pasukan Polisi Malaysia bisa kita atur untuk tidak masuk ke dalam stadion, bahkan mereka tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi. Sebab kalau mereka sampai tahu, media massa dan media sosial Negara dan bangsa yang sombong kepada bangsa kita akan memviralkan apa yang kalian lakukan yang sangat memalukan tadi…
Jakarta, 11 November 2017

 
https://www.caknun.com/2017/membubarkan-tawuran/

Comments

Popular posts from this blog

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

HUTANG TUHAN

Tahun 1984 di Berlin saya dikursus privat oleh Senior (usia) yang tak bisa balik ke Indonesia sejak 1965 tentang Ekonomi Sosialis: hasilnya saya tidak lulus. Kemarin saya diceramahi oleh Junior (usia) tentang “sunnatullah” kapitalisme liberal: hasilnya lebih tidak lulus lagi, gagal paham dan tidak mampu move-on. Allah dalam “sunnatullah” di sini maksudnya uang. Uang adalah the Second God, tuhan kedua. Bagi Negara ataupun manusia, hidup adalah “membangun reputasi di hadapan sumber keuangan”. Keselamatan adalah “mematuhi kondisi yang ditetapkan fund manager”. Jalan menuju sukses adalah “menunjukan performa terbaik, supaya investor masuk, menghutangi kita tuhan”. Sudah terlanjur tua renta saya baru timik-timik mulai sangat sedikit paham bahwa hidup adalah keseimbangan berlayar di atas gelombang hutang-piutang. Hidup adalah menjaga posisi di atas ombak sebab-akibat keuangan yang berputar dan dinamis: bukan soal yang kau makan itu milikmu atau bukan, melainkan tetap bisa makan atau tid...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...