Skip to main content

Pesta Kambing Gembira (Daur-II • 277)

Apa ini? Kisah-kisah kepahlawanan kelas kacang? Aslinya Toling sudah sangat tidak tahan mendengar cerita-cerita Pakde Tarmihim. Tapi ia coba tetap bertahan.

Siang hari bolong Markesot mendadak mendapat tamu aneh. Seorang Boss toko komputer besar, dengan beberapa stafnya, yang sebelumnya belum pernah datang ke situ. Wajahnya pucat, para pengawalnya juga tertekan air mukanya, diam, bibir tertutup dan menunduk.

Rupanya ada kejadian yang bisa berkembang ke anarkisme dan kriminalitas di toko besarnya. Sekitar tiga puluh orang sangar-sangar masuk. Menyebar ke berbagai titik di ruang tokonya. Masing-masing naik ke meja, memegang komputer, mengangkatnya tinggi-tinggi. Kemudian salah seorang dari mereka berkata keras:
“Siapa tadi yang bilang bahwa Pak Markesot dikasih mobil oleh Harmoko?”
“Dikasih rumah oleh Moerdiono”, sambung yang lain.
“Juga dibilang Pak Markesot sangat ingin diundang ke Istana Pak Harto”
“Siapa?”, kata suara yang pertama, “Ayo ngaku. Semua tuduhan itu menghina harga diri kami dan merendahkan martabat kami. Pak Harto datang menyalami saja Pak Markesot menghindar. Minta ketemu saja Pak Markesot menghindar karena ndak tega sama orang banyak…Srengengeo, mbulano, gèpèngo koyok ilir…

Tidak butuh waktu lama, dua orang mengaku. Memang beberapa di antara 30 orang itu tadi masuk ke toko komputer itu untuk membeli sesuatu. Tiba-tiba tak sengaja dua orang itu omong-omong mengejek Pak Markesot. Ngrasani ini-itu begini-begitu, sebagaimana kebiasaan banyak orang yang rakus melahap ghibah dan qila wa qala.

Tetua dari 30 orang itu berkata keras lagi: “Saya kasih kalian satu di antara dua pilihan, supaya komputer dan semua barang-barang di sini tidak kami banting dan hancurkan, atau kalau perlu seluruh toko ini kami bakar”

Gusti Pengeran. Masyaallah. Preman bener ini. Gentho wal Korak.

“Pertama, kasih kami fakta-fakta yang menjadi bukti tentang apa yang kalian katakan tentang Pak Markesot. Kapan, di mana, siapa yang ngasih, atau fakta apapun yang bisa kuat membuktikan.
Pilihan kedua, kalau kalian hanya punya daftar katanya katanya katanya, sekarang juga kalian harus membuktikan kepada kami bahwa kalian sudah dimaafkan oleh Pak Markesot…”

Pada momentum inilah pemilik toko itu diam-diam mengambil mobil untuk bersegera pergi ke tempat tinggal Markesot.

Beberapa waktu yang lalu di tepian Malioboro bagian dekat Stasiun Tugu malam hari, Markesot tiba-tiba melompat ke seseorang dan mencengkeram lehernya serta mengangkat tubuhnya. Ia berteriak: “Heeee semua para Dauri, Tikyan, Butokempung, Butomati! Ini lelaki bilang bahwa saya dikasih rumah dan mobil oleh Menterinya Pak Harto. Kalian kumpul sini semua! Tanya dan gali data-datanya tentang apa yang dikatakan oleh lelaki ini…”

Kemudian tiba-tiba Markesot berbisik lirih kepada lelaki yang dicengkeramnya. “Kamu pilih, saya pindah gigi-gigimu ke tong sampah, atau sekarang juga kamu berlari pergi secepat-cepatnya…ayo cepat lari!”, sambil Markesot melepaskan cengkeramannya.

Adapun yang toko komputer, Markesot menyuruh beberapa temannya untuk membeli beberapa ekor kambing. Pilih salah satu Pesantren kecil di pinggiran barat kota. Si Boss dan anak buahnya yang bersalah beserta para karyawan, besok siang diundang ke Pesantren itu untuk bersama Pak Kiai dan santri-santri berpesta makan kambing gembira.

Yang diterapkan oleh Markesot adalah panduan sederhana dari Tuhan: “Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. [1] (Al-Hujurat: 6)

Siang itu mereka kenduri daging kambing bersama. Bercengkerama. Bercanda. Mempersaudarakan diri satu sama lain. Sebab tali sambungan silaturahmi dan persaudaraan antar manusia, oleh Allah dipenuhi titik-titik mata air rezeki.

Ada Setan datang dari barongan pring di sebelah Pesantren, membisiki telinga kiri Markesot: “Mestinya kamu todong Boss komputer itu duit banyak-banyak, untuk kamu bagi-bagi ke anak-anak buahmu terutama para Tikyan, Butokempung dan Butomati, yang rata-rata ekonomi keluarganya lemah…”

Markesot tersenyum sambil memaki: “Your eyes!”. Maksudnya: “Matamu!”.

Yogya, 22 November 2017

Comments

Popular posts from this blog

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

HUTANG TUHAN

Tahun 1984 di Berlin saya dikursus privat oleh Senior (usia) yang tak bisa balik ke Indonesia sejak 1965 tentang Ekonomi Sosialis: hasilnya saya tidak lulus. Kemarin saya diceramahi oleh Junior (usia) tentang “sunnatullah” kapitalisme liberal: hasilnya lebih tidak lulus lagi, gagal paham dan tidak mampu move-on. Allah dalam “sunnatullah” di sini maksudnya uang. Uang adalah the Second God, tuhan kedua. Bagi Negara ataupun manusia, hidup adalah “membangun reputasi di hadapan sumber keuangan”. Keselamatan adalah “mematuhi kondisi yang ditetapkan fund manager”. Jalan menuju sukses adalah “menunjukan performa terbaik, supaya investor masuk, menghutangi kita tuhan”. Sudah terlanjur tua renta saya baru timik-timik mulai sangat sedikit paham bahwa hidup adalah keseimbangan berlayar di atas gelombang hutang-piutang. Hidup adalah menjaga posisi di atas ombak sebab-akibat keuangan yang berputar dan dinamis: bukan soal yang kau makan itu milikmu atau bukan, melainkan tetap bisa makan atau tid...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...