Skip to main content

Politik Talbis Para Radikalis-Intoleran (Daur-II • 284)

Pesan tentang mengintensifkan laku-puasa dan “suami selingkuh” dari Markesot itu membuat Jitul dan teman-temannya meminta para Pakde mengadakan pertemuan khusus dengan mereka, terutama untuk mewanti-wanti Gentholing.

Soalnya Toling sudah keterlaluan kalap pikirannya. Terakhir ia bilang kepada Junit, Jitul dan Seger: “Kita sekarang sedang dikuasai oleh kaum radikalis-intoleran, yang menuduh siapa saja yang tidak sejalan dengan mereka sebagai kaum radikalis-intoleran. Sedang berlangsung politik talbis besar-besaran, dan akan disempurnakan dua tahun lagi. Mereka mentalbiskan kejahatan sebagai kebaikan, kedhaliman sebagai kesantunan, perusakan sebagai pembangunan, kehancuran sebagai kejayaan…”

Sangat berbahaya arah arus pikiran Toling. Teman-temannya tidak sedikit pun mendapatkan peluang untuk mereaksinya, karena akhir-akhir ini Toling kalau omong sangat gencar seperti mitraliur seribu peluru. Toling terus bicara.

“Para istri, anak-anak dan semua keluarga sebenarnya adalah manusia-manusia yang dahsyat, benih-benih yang multipotensi untuk mrantasi masalah-masalah, bahkan sanggup nungkul dunia. Tapi mereka diselingkuhi oleh Bapaknya. Dibohongi. Diperdaya. Dikasih makan enak. Bapak dirayu menjadi bagian dari Korporasi Perselingkuhan Besar. Keluarganya dikasih minuman lezat. Tetapi di dalamnya telah ditetesi bakteri-bakteri Talbis. Di dalam darahnya sudah mengalir khomr, tuak, arak, yang membuat mereka semakin mabuk, padahal dalam keadaan tidak mabuk…”

Dan gara-gara Markesot berpesan “Sekarang konsentrasi ‘Asyiki Qur`an, Kebunmu Suburkan’, Toling sekarang tidak bicara apapun kecuali membuatnya ingat kepada firman Tuhan. Dan kali ini ia membuka ayat ini: “Ingatlah pada hari ketika kamu melihat kegoncangan itu, lalailah semua wanita yang menyusui anaknya dari anak yang disusuinya dan gugurlah kandungan segala wanita yang hamil, dan kamu lihat manusia dalam keadaan mabuk, padahal sebenarnya mereka tidak mabuk, akan tetapi azab Allah itu sangat kerasnya”. [1] (Al-Hajj: 2)

Jitul tidak bisa membiarkan lebih jauh arus Toling. Ia coba memotong: “Ling, apa keabsahannya bahwa kamu menisbahkan ayat-ayat itu kepada orang-orang yang kamu tuduh? Yang dimaksud oleh ayat itu kan Hari Kiamat…”

“Lho”, Toling membantah, “Katanya ada Qiyamah Kubro ada Qiyamah Shughro. Kiamat besar dan kiamat kecil”

“Siapa Marja`, figur, tokoh, Mufti, Mursyid, Majlis atau lembaga rujukan untuk memastikan bahwa sekarang ini Kiamat?”

“Ya nggak ada. Maka setiap orang perlu punya kemandirian akal dan rasa untuk menemukan keyakinan atas rujukannya sendiri asalkan ia jujur memprosesnya”

“Bagaimana kalau orang membantahmu: Keadaan sedang jaya-jayanya, sedang sukses-suksesnya, sedang move-on ke puncak kemegahannya, kok kamu bilang Kiamat?”

“Lho, saya sendiri sewaktu-waktu mengalami Kiamat kecil. Bisa tiap hari saya mati, untuk lahir kembali. Setiap hari kesadaran kita berhijrah dari kematian menuju kelahiran yang baru. Kenapa orang bersangka buruk kepada Kiamat, yang artinya adalah kebangkitan?”

“Tetapi ayat yang kamu kutip kan tentang goncangan dan kehancuran. Berarti kamu yang radikal dan intoleran, tapi kamu lemparkan klaim itu ke luar dirimu…”.

Yogya, 29 November 2017

Comments

Popular posts from this blog

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

HUTANG TUHAN

Tahun 1984 di Berlin saya dikursus privat oleh Senior (usia) yang tak bisa balik ke Indonesia sejak 1965 tentang Ekonomi Sosialis: hasilnya saya tidak lulus. Kemarin saya diceramahi oleh Junior (usia) tentang “sunnatullah” kapitalisme liberal: hasilnya lebih tidak lulus lagi, gagal paham dan tidak mampu move-on. Allah dalam “sunnatullah” di sini maksudnya uang. Uang adalah the Second God, tuhan kedua. Bagi Negara ataupun manusia, hidup adalah “membangun reputasi di hadapan sumber keuangan”. Keselamatan adalah “mematuhi kondisi yang ditetapkan fund manager”. Jalan menuju sukses adalah “menunjukan performa terbaik, supaya investor masuk, menghutangi kita tuhan”. Sudah terlanjur tua renta saya baru timik-timik mulai sangat sedikit paham bahwa hidup adalah keseimbangan berlayar di atas gelombang hutang-piutang. Hidup adalah menjaga posisi di atas ombak sebab-akibat keuangan yang berputar dan dinamis: bukan soal yang kau makan itu milikmu atau bukan, melainkan tetap bisa makan atau tid...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...