Skip to main content

Posts

Syahrul Huzni (Bulan Duka)

Aku terkurung di tengah kayu pintu yang tertutup. Pintu itu terkunci, gerbangnya tergembok.

Siapa yang mengunci pintu? Kewajaran. Siapa yang menggembok gerbang? Keharusan.

La haula wala quwwata illa billah al-‘Aliy al-‘Adhim. Sedangkan yang ada padaku hanya ketakberdayaan.

Terkadang aku harus melumpuhkan diri dengan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak kulakukan, atau tidak melakukan hal-hal yang semestinya kulakukan.

Di saat lain aku memasuki ranjau dengan membuka sesuatu yang seharusnya tak kubuka, atau tidak menguakkan sesuatu yang semestinya kukuakkan.

Pintu gerbang keluar menuju Indonesia habis semua kuncinya tanpa ada yang bisa dipakai untuk membukanya.

Pintu gerbang masuk ke dalam kebun dan rumahku sendiri ketelingsut di bawah ribuan kaki-kaki yang berjejal, riuh rendah, gaduh oleh jutaan kata dan kalimat yang tak bersambung satu sama lain.

Daur wajib kuhentikan putarannya sampai hari yang kunantikan. Tinggal setetes demi setetes air liurku sendiri. Menemani detak-detik jantungku s…
Recent posts

MELUDAHI WAJAH

Pemuda belia Ali bin Abi Thalib, berduel meladeni tantangan Amr bin Abd Wad AlAmiri, mewakili Pasukan masing-masing.

Pasukan apa? Jangan. Ini kisah tentang zaman di mana suatu bangsa bisa berperang besar di antara mereka karena mempertengkarkan satu kata. Misalnya: pribumi, radikal, kafir, makar, khilafah, dan lain-lain.

Cukup beberapa episode pertarungan kecanggihan bermain pedang, Amr tergeletak, ujung pedang Ali menyentuh lehernya, tinggal menancapkannya untuk membunuhnya dan membuat seluruh pasukannya menang.

Tiba-tiba dari posisi telentangnya Amr meludah ke wajah Ali, mengenai sebelah pipinya. Termangu beberapa saat, kemudian Ali menarik pedangnya, menyarungkannya. Tidak menggunakan kesempatan dan haknya untuk menusukkan pedangnya ke leher Amr.

Betapa terkejutnya semua yang menyaksikan, kedua pasukan maupun terutama Amr sendiri. Tatkala ditanya kenapa mengambil keputusan itu, Ali menjawab: "Aku terhina dan marah diludahi olehnya. Kutarik pedangku, karena aku kawatir membunuhnya …

Hantu dan Peci Reformasi (“Untuk Saya Saja ya…”)

Jadi hantu, kadang nikmat kadang capek. Orang pasang macam-macam wajah di mukaku, padahal aku hantu Si Mukarata. Kepalaku menggelinding-gelinding melewati pagar-pagar. Ada yang lari terbirit-birit karena dia bilang aku mengajaknya tertawa “mringis”, sehingga aku digelari Hantu Glundhung Pringis. Padahal aslinya aku menangis.

Bagi diriku sendiri aku juga hantu. Kupikir aku kelapa, ternyata semangka. Tetapi di tengah aku berlaku sebagai semangka, ternyata aku kelapa. Ketika kemudian aku turuti fenomena kelapa, ternyata hanya blarak kering. Bahkan terkadang kujumpai diriku hanya serpihan sabut kotor baru karena barusan dipakai untuk “pèpèr”, pembersih anus seperti di hotel-hotel mewah. Sebagai manusia biasa sampai hari ini aku belum sanggup move on dari peradaban “cebok” ke peradaban “pèpèr” itu. Sungguh dekaden aku.

Hidup sebagai hantu itu nikmat ketika mancala putra mancala putri. Dilempar orang dengan batu karena dipikir aku kaca, padahal aku angin. Di saat lain ternyata batu i…

Masyarakat Tahlil (Pemimpin dan Pewaris)

Bangsa Indonesia sedang terbelah dua. Ada kalangan masyarakat yang sangat bergembira, merasa beruntung, dan berpendapat bahwa kiprah Pemerintahan yang berlangsung ini sebuah kemajuan yang sangat berhasil di semua bidang kehidupan. Ada kalangan lain yang merasa sangat menderita, merasa semakin terpuruk dan berpendapat bahwa Pemerintahan saat ini melakukan penghancuran yang besar-besaran terutama di bidang kesejahteraan dan martabat kebangsaan.

Perbedaan di antara keduanya sangat ekstrem, dengan kekuatan hujjah persepsi serta dengan kemantapan keyakinan masing-masing. Yang satu yakin sedang dijunjung, lainnya menyimpulkan sedang dijajah. Yang satu berpendapat mereka hidup dalam sukses demokrasi, lainnya berpegangan bahwa mereka sedang diinjak oleh otoritarianisme kekuasaan.

Andaikan dua keyakinan menggumpal dan dua kekuatan ini meruncing, maka tidak bisa dibayangkan dahsyatnya benturan horizontal yang bisa terjadi. Tetapi sepertinya tak akan terjadi sejauh itu. Arena peperan…

Sinar Cemerlang (Peradaban Informatika)

Hoax, Intoleran, Radikalis, Teroris, PKI, Khilafah, Makar, Ujaran Kebencian, dan berbagai macam kata dan idiom yang mengerikan itu: siapa yang menentukan “ya” atau “tidak”nya? Misalkan saya menerima info berikut ini, bagaimana saya bisa menemukan “sumber primer” untuk mengkonfirmasi ia benar atau bohong? Apa jaminan bahwa sebuah kantor berita di belahan manapun di dunia bisa dipercaya atau tidak?

“126.778 teroris yang dimasukkan ke dalam tahanan dan 59.254 teroris lainnya dijebloskan ke sel-sel penjara, oleh pemimpin anti-teroris dunia. Dan masih akan lebih banyak lagi. Ia kejar para teroris itu, termasuk kader-kadernya, sampai ke ujung dunia, ke pelosok-pelosok hutan dan tepian-tepian jauh semua laut dan samudera. Negara-negara di permukaan bumi ia kasih informasi tentang jaringan internasional pengkaderan terorisme itu.

Ia mau dunia aman. Kalau perlu ia pengaruhi, ia takut-takuti atau ia paksa sekitar 164 Negara-negara untuk melepas para teroris yang akan ia penjarakan.…

Kiai Hologram (Tuhan itu ada beneran, po?)

Aku tidak pernah beranggapan bahwa ada orang, terutama di zaman sangat modern ini, yang butuh dinasihati, diceramahi, dikasih pengajian atau minta pencerahan. Tetapi kalau kebetulan ada yang berlaku seperti itu kepadaku, aku menjawab: “Aku tak punya apa-apa yang kau perlukan. Tapi mungkin kalimat Tuhan ini ada gunanya buatmu: Orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata: Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka”.

Dahsyat informasi itu: “tiadalah Engkau ciptakan ini dengan sia-sia”. Maka kata-kata anakku tentang Dmitry Itskov, sangat menggangguku. Meskipun aslinya ia bukan siapa-siapa bagiku, apalagi aku baginya.

Ada yang lantas merespons dengan pertanyaan: “Tuhan itu ada beneran, po?”. Kujawab: “Sebagai orang yang sudah tua, kupilihkan jawaban begini: Mending kamu pilih percaya ada …

Pakar Juwet (Revisi Jiwa Manusia)

Apa maunya milyuner Rusia bernama Dmitry Itskov itu bercita-cita kelak pada tahun 2045 menciptakan Hologram yang memiliki kecerdasan seperti manusia? Tidak sekadar robot seperti sekarang, yang hanya bisa melakukan beberapa hal yang diprogram? Baik robot dalam arti benda “bid’ah” bikinan manusia, maupun manusia-manusia yang dirobotkan oleh sistem dan mekanisme yang diberlakukan di dunia?

Yang paling mudah diprasangkai adalah Itskov ingin “menelanjangi” semua ummat manusia, seluruh data tentang manusia ada di genggamannya, sehingga “satu sistem dunia” yang dipimpinnya menguasai dan mengendalikan setiap langkah peradaban manusia.

Prasangka lain adalah manusia hologram ini merupakan kritik kepada Tuhan yang meskipun sudah menciptakan “manusia hibrida baru” yang “ahsanu taqwim” tapi tetap saja kejam kepada sesamanya, gila kekuasaan, maniak keduniaan, merusak bumi dan menumpahkan darah, menipu, merekayasa, menjajah, menjebak, memonopoli. Cita-cita Itskov adalah merevisi software