Skip to main content

Posts

Khilafah Para Titah (Daur-II • 297)

Di antara manusia-manusia selama beratus-ratus bangunan sejarah peradaban, ummat manusia di Zaman Now inilah yang paling tidak memperlihatkan tanda-tanda bahwa mereka serius mengurusi manusia. Kemajuan harta bendanya canggih, pembangunan peralatan fisiknya dahsyat, tetapi sukar menemukan gejala bahwa mereka peduli kepada manusia.

Tidak peduli, atau memang tidak mengerti dan tidak merasa punya keperluan untuk mengerti manusia dalam konteks infinitas ruang dan keabadian waktunya. Yang mereka maksud dengan manusia dan peradaban hanyalah animasi kartun instan dan sesaat. Mereka berderap beramai-ramai penuh riang gembira menuju jurang. Mereka sangat sibuk menggagas kehancuran. Kemudian muncul generasi berikutnya belajar, bersekolah dan merancang kehancuran berikutnya.

Manusia-manusia yang paling terpelajar, bekerjasama dengan yang paling punya uang, sangat sibuk berjuang agar bisa memanjat naik panggung yang disorot oleh spotlight sejarah, kemudian berebut mikrofon. Per …
Recent posts

PSEU-DO-HAM (Daur-II • 296)

Anak-anak muda itu ditertawakan oleh Sundusin. “Sebenarnya”, katanya, “orang tidak mengerti Do sama sekali juga tidak masalah. Asalkan hidup dan perilakunya berada tepat pada Do ketika memang seharusnya Do. Dan berada di La Si atau koordinat apapun tatkala semestinya memang demikian”

Kalau alam, hewan dan Malaikat selalu pada kewajaran Do sebagaimana Tuhan mengonsepnya langsung. Hanya manusia, yang karena diberi ruang demokrasi dan kemandirian untuk mengambil keputusan, maka ia bisa melakukan berbagai penyelewengan: seharusnya Do si manusia malah Sol, misalnya. Manusia diberi ruang untuk berdusta, memanipulasi, berpura-pura, menjebak sesamanya, memalsukan atau membikin topeng Do padahal yang di baliknya adalah La.

Sesungguhnya, masalah utama pada manusia bukan ilmu. Mungkin akhlaq, atau aqidah, meskipun antara ketiganya bisa saling berdialektika dan sebab-mengakibatkan satu sama lain. Anjing tidak mungkin memiliki alat untuk memahami Do, tapi ia tidak pernah berada …

Do = Raja Kambing (Daur-II • 295)

“Rasa-rasanya kok urusan Do ini malah bikin njelimet keadaan”, kata Jitul tiba-tiba.
“Lho saya hanya menyampaikan pesan Mbah Sot kepada kalian”, jawab Pakde Tarmihim.

Terdengar suara tertawa Sundusin. “Saya sudah hapal gayanya Markesot”, katanya, “dulu banyak orang minta tolong untuk menyelesaikan masalah. Tapi maunya Markesot disuruh atau diharapkan menjawab sesuai dengan solusi yang orang itu maksudkan, bukannya membuka diri untuk model penyelesaian dari Markesot.

Jadi orang itu sebenarnya hanya tidak berani mengambil keputusan dengan dirinya sendiri. Maka datang ke Markesot dengan tujuan agar nasehat Markesot sesuai dengan keinginannya dalam menyelesaikan masalah. Akhirnya Markesot malah kasih orang itu model penyelesaian yang sesuai dengan kemauan pemintanya itu, tetapi di-sangat-kan, di-bengkak-kan…”

Seger ikut tertawa. “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta[1](Al-Baqarah: 10…

IN DO NESIA (Daur-II • 294)

Karena setiap titik bisa menjadi Do. Karena setiap koordinat bisa berposisi Do. Karena setiap ungkapan bunyi bisa berperan Do. Juga setiap kata bisa beraktualisasi Do. Dan itu tergantung pada keterkaitan interval-intervalnya. Tergantung pada konteksnya, spektrum tematiknya. Setiap dan semua bisa menjadi Do, Re, Mi, Fa, Sol, La maupun Si.

Maka “Allahu Akbar” pun bisa berposisi Do, Re, Mi, Fa, Sol, La ataupun Si. Teriakan Allahu Akbar bisa bernuansa ketakjuban dan rasa syukur. Bisa juga tampil sebagai ancaman yang mengerikan. Pun tidak mustahil ia aktualisasi rutin orang sedang melakukan shalat, takbiran Idul Fitri atau Idul Adlha.

Paralel dengan itu “Pancasila” bisa menaikkan adrenalin nasionalisme. Tapi bisa juga memancarkan kegeraman atau amarah kepada siapa saja yang dimaksudkan diam-diam di balik teriakan Pancasila.

Demikian pula Merah Putih bisa menjadi lambang pengayoman bagi Hijau Coklat Kuning dan warna-warna lain. Atau justru merupakan peringatan keras kepada…

Do = Cinta = Benci (Daur-II • 293)

Seorang tokoh yang pernah mengenal dunia musik mungkin menjawab: “Do adalah nada pertama dalam susunan Solmisasi”. Lainnya agak detail: “Do adalah nada sebelum Ré sebelum Si dalam susunan baku nada musik Barat”. Sejumlah praktisi musik menjawab lebih aplikatif: “Do pada C-mayor beda dengan Do = E-minor”.

Do tidak bisa ada, menjadi Do atau disebut Do karena diri Do itu sendiri. Do tidak bisa meng-ada atau berbunyi sebagai Do tanpa ada unsur-unsur lain yang bukan Do yang hadir sebagai satu kebersamaan. Do bukan terutama eksistensi, melainkan posisi. Do bukan ekspresi otentik dan mandiri, melainkan bagian dari suatu susunan fungsi.

Do disebut Do semata-mata karena berkaitan dengan Ré atau Si dan titik-titik nada lainnya dalam suatu interval atau jarak ketinggian atau kerendahan nada. Do eksis sebagai Do sepanjang ia berada dalam suatu silaturahmi dengan nada-nada lainnya. Tanpa interval-interval silaturahmi itu Do hanyalah setitik bunyi, yang tidak bisa disebut atau me…

Nada Mayor untuk Meminorkan (Daur-II • 292)

Seger tertawa dan bernyanyi “do re mi fa sol la si do”, nadanya naik, kemudian turun: “do re mi fa sol la si do…

Junit menyahut: “a b c d e f g…v w x y z… sekarang aku tahu bagaimana a b c…

Jitul tak mau kalah: “Ahad Itsnain Tsulatsa Arbi’a Khamis Jum’ah Sabta…”, ia tertawa, “hari keenam disebut Jumat, tidak meneruskan angka Arbi’a dan Khamis, karena sesudah lima hari kerja, dianjurkan rekap dan rembug kolektif (jum’ah), lantas kontemplasi dan tafakur di hari Sabat (Sabtu), terus kerja lagi di hari pertama: Ahad. Lha kok pada hari Ahad malah libur…”

Tentu saja Toling tidak bisa menahan diri. Ia berjoget-joget: “Alif difathah a alif dikasroh i alif didhommah u… hono coroko, doto sowolo, podho joyonyo, monggo bothongo bali podho joyonyo monggo bothongo…pahing pon wage, kliwon legi, iku dino pasaran tumrap wong Jowo…

Seger bicara serius: “Pasti kita menghormati semua ijtihad atau kreativitas pemahaman waktu yang dilakukan oleh berbagai bangsa. Tetapi kenapa pembelaja…

Ngajak Berantem Allah (Daur-II • 289)

Salah satu prestasi tingkat tinggi demokrasi dan freedom of speech yang dicapai oleh Indonesia era Now adalah kemerdekaan manusia untuk melecehkan Tuhan, menghina Nabi, menginjak-injak Islam dan mencanangkan bahwa biang dari segala bencana sejarah adalah Al-Qur`an dan Sunnah. Prestasi itu mencapai puncaknya ketika tak ada risiko apapun dari manusia, masyarakat dan ummat, juga dari Negara, sesudah melakukan penghinaan-penghinaan itu.

Bahkan puncak prestasi itu menjadi sempurna karena dilakukan di Negara yang sangat getol mencanangkan Pancasila sebagai dasar filosofi dan ideologinya. Semakin hari semakin kentara bahwa yang dimaksud Tuhan Yang Maha Esa di Sila Pertama itu bukanlah Allah swt. Sampai hari ini saya belum memperoleh bahan tentang siapa Tuhan Yang Maha Esa itu sebenarnya. Sementara saya hanya tahu ia bukan Allahu Ahad, [1](Al-Ikhlas: 1) melainkan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga ada dua-nya, tiga-nya dan seterusnya.

Allah swt sendiri mempersilakan, membuka pintu …