maiyahkc

Blog ini Insya Allah dapat digunakan sebagai media untuk gudang dokumentasi Padhang mBulan Net milist (padhang-mbulan@yahoogroups.com) juga newsletter Kenduri Cinta (kenduricinta@yahoogroups.com) Terima kasih utk teman2 PmBNet yg telah selama ini posting utk Padhang mBulan Net, juga media2 online yang telah membantu kami untuk mengkoleksi tulisan2 Cak Nun. Mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua.

Thursday, May 20, 2010

Suluk Tuhu Linglung (2)

Terlebih yang belum yakin benar ia
Terbelenggu hanya oleh tata krama
Sembahyang sunnah dan fardhu tak putus-putusnya
Agar tertabiri ketidaktahuannya
Puasa dan sedekah
Juga zakat fitrah-nya
Dijadikan berhala yang dipuja-puja
Sungguh mereka yang sedemikian terlena
Belum seberapa baktinya
Pengetahuannya masih biasa-biasa saja.

Suluk Tuhu Linglung (3)

Sepedati penuh kertasnya
Tiada lain yang diperbincangkan
Kenapa sedemikian sesat
Memeluk titipan tanpa sisa
Terlena karena dipercaya
Padahal itu tak benar-benar disadarinya
Nabi, wali, mukmin, sirna
Hancur, lebur, luluh, musnah, hilang
Namun tak dicapainya kekosongan.
("Suluk Pesisiran Kode LOr 7375, Puitisasi Emha Ainun Nadjib", Mizan, 1995,
PadhangmBulanNetDok)

Suluk Tuhu Linglung (1)

SULUK TUHU LINGLUNG

Dhandhang
Karya Sunan Panggung

Tuhu Linglung 1

Merasuki sastra
Sungguh bisa bikin bingung
Yang diolah senantiasa gagasan
Ilmu diuraikan
Lafal dihitung-hitung
Benar salah dipersoalkan.
Maka bukanlah tanda orang berpengetahuan
Jika terpana hanya dalam laku
Merasa malu untuk mengulang bertanya
Seakan telah ia temukan segala
Padahal belum apa-apa.

("Suluk Pesisiran Kode LOr 7375, Puitisasi Emha Ainun Nadjib", Mizan, 1995, PadhangmBulanNetDok)

Friday, April 23, 2010

Para Patriot (4)

Anak kita yang lain dari Jl. Kartini, Babad, juga memerlukan bantuan biaya untuk sekolah, sambil mengutip Surat at-Taubah 103 rnengenai "mensucikan harta" dengan cara menyedekahkan.
Sambil mengingatkan agar tak usah "menodong" dengan ayat, saya tetap imbaukan kepada calon Bapak atau Ibu Penyantun. Termasuk buat anak kita yang lain, siswa Aliyah di Guluk-Guluk (Luk-Guluk), Sumenep, Madura, yang orang tuanya megap-megap karena kapital teri tembakaunya semakin tak bisa diandalkan.
"Pekerjaan saya dan keluarga adalah bercocok tanam," katanya, "Cak Nun, apakah zaman sekarang ini memang bukan zamannya kaum tani? Apakah ini yang disebut Gelombang Industri dan Gelombang Teknologi Informasi, di mana Gelombang Agraris sudah lewat, sehingga kami tak punya prospek hidup?"
Jembatan Madura-Surabaya baru akan dibangun, memang. Artinya, dari Madura yang masa silam" baru akan ada jembatan ke masa depan" itu akan juga sangat menggelisahkan. Belum tentu Madura akan menyerap, salah-salah malah hanya akan diserap.
Tapi memang pembangunan yang sedang gencar kita selenggarakan ini fokusnya adalah pertanian, belum tentu petani.
Ada juga anak kita yang lain yang lebih tua, yang kasus hidupnya relatif sama dengan yang barusan kita bicarakan. Seorang mahasisva Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah: keluarganya pontang-panting menutupi biaya kuliahnya. Empat kali cocok tanam: tembakau gagal terus. Padahal sekarang ini diperlukan setidaknya setengah juta rupiah untuk kuliah dan beli buku-buku wajib.
Kok lembaga pendidikan banyak memproduk problem, sih? Tampaknya Indonesia belum makmur, jadi belum bisa menggratiskan sekolah. Atau sudah makmur, tapi belum adil, belum ada just economic sharing.

Pendistribusian keadilan itu kalau tak bisa ditempuh melalui sistem sosial ekonomi yang berlaku, tak bisa melalui Majelis Ulama atau Dinas Sosial -- yang cobalah melalui kearifan sosial di hatinurani hamba-hamba Allah tersebut.
Saya yakin di antara Anda ada yang dipanggil oleh Allah, misalnya, untuk membapak-asuhi puluhan, bahkan anak-anak kecil SD-SMP yang hidup mereka beserta keluarga mereka sangat
terbengkalai di bukit kering kerontang tepian Waduk Kedungombo, Jawa tengah.
Kalau sekolah mereka berjalan kaki beberapa kilometer menapaki bukit-bukit, kemudian naik Akudes. Kalau tak ada uang seratus rupiah saja pada suatu pagi, mereka tak bisa sekolah. Jangan bayangkan mereka punya realitas sosial yang memungkinkan mereka kelak bisa meneruskan sekolah. Menamatkan SD saja sudah slametan rasanya. Menurut Anda, apakah Allah lebih sering "berada" di tempat sepi, terasing dan amat jauh dari kesejahteraan itu; ataukah Allah lebih suka rnenemani kita di sini? Betapa indahnya kalau kita mengambil dan mengantarkan mereka ke hari depan! Sebab betapa indahnya pula tangan-tangan mungil mereka mengantarkan kita kepada cinta kasih Allah.
Tentu saja tidak harus mengambil mereka atau salah seorang dari mereka ke rumah kita dan menjadi anak angkat. Bisa cukup dengan membiayai sekolah salah seorang dari mereka sekarang. Atau mengambilnya dan mengirimkannya ke Pesantren atau lembaga pendidikan lainnya. Atau, sangat mungkin juga sesekali dolan ke pinggiran waduk raksasa yang sangat bermanfaat buat orang-orang kota itu: bawa beras, ketan, baju, tikar untuk "masjid alamiah" mereka. Dan yang terpenting bawa: cinta dan senyuman.
(Harian SURYA, Senin 22 Maret 1993)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kampung Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Wednesday, April 14, 2010

Para Patriot (3)

Anak kita, seorang pelajar SMA yang tinggal di Jalan. P. Sentik, Tanah Grogot, Kalimantan Timur, berkirim surat meminta sebuah mesin ketik. "Itu sangat berarti bagi saya, untuk mengembangkan bidang tulis menulis untuk dimuat di media massa," katanya.
Ini salah satu contoh dari banyak anak-anak kita yang bersurat ke rubrik ini, yang memandang kehidupan ini sedemikian sederhana dan penuh jalan pintas. Bekerja sebagai penulis sedemikian gampangnya: ada mesin ketik, menulis, lantas dimuat di media massa. Padahal jarak antara mesin ketik dengan menulis itu bukan main lebar dan ruwetnya. Apalagi jarak antara tulisan dengan pemuatan di media massa.
Tentu saja akan sangat mengharukan kalau lantas ada yang bermurah hati mengiriminya mesin ketik. Tetapi harus kita ingatkan bahwa itu belum tentu merupakan 'jalan keluar' bagi sukses menjadi seorang penulis.
Juga pastilah siapa saja yang beritikad untuk menolong, ia berhak dan memang lebih afdhal apabila terlebih dahulu bersilaturahmi, berkorespondensi atau syukur berdialog langsung dengan orang yang ingin ditolongnya demi agar ia memperoleh pengetahuan dan kepercayaan yang lebih pasti tentang yang akan ditolongnya.
Saya sendiri belajar menulis di Yogya awal era 1970-an dengan banyak teman. Kami tidak pernah berpikir teknis: ada kertas atau tidak, ada mesin ketik atau tidak. Itu soal gampang. Bisa nunut sesekali, atau ditulis tangan. Sebab yang 'bergemuruh' dalam diri seseorang yang berjuang belajar menulis adalah soal-soal yang kualitatif: bagaimana menghayati kehidupan merenungi masalah-masalah, peka terhadap nilai-nilai, kerja keras dengan otak, akal budi, perasaan dan hatinurani.
Soal kertas dan mesin ketik, itu masalah teknis yang amat gampang diatasi. Bisa numpang tetangga, atau di Kantor Kelurahan, dan Insya Allah tanpa harus menyodorkan Sertiikat Lulus Penataran P-4. Tetangga dan Pak Lurah pasti senang ada warganya yang belajar kreatif, sebab mereka mestinya bukan orang sakit jiwa.
Pesan pribadi saya kepada para calon penulis atau patriot pemburu masa depan: berapa jam kerjamu dalam sehari-hari? Saya sudah tua, dan justru karena itu saya tidur setelah subuh, kemudian pukul 08.00 pagi sudah siap 'perang' lagi. Seandainya saya ini boleh diangap penulis yang sudah 'jadi', modal saya ada tiga:
- Pertama, anugerah Allah.
- Kedua, belajar dan bekerja keras.
- Ketiga, keikhlasan doa Ibu saya dan Anda semua.
Apa yang harus kita perjuangkan terutama qdalah etos kerja, kesediaan untuk bekerja keras dan 'kejam' kepada diri sendiri. Bukan memimpikan fasilitas. Salah satu wujud kreatiitas adalah 'kesanggupan bekerja maksimal dalam kondisi dan fasilitas yang minimal.'
Tapi anak-anak sekarang baru mau bekerja kalau jelas gajinya. baru mau melakukan sesuatu kalau lengkap fasilitasnya dan ada jaminan hasil. Mereka tidak bisa menjadi pejuang bahkan bagi dirinya sendiri, sebab tidak ada perjuangan yang titik tujuan atau hasilnya bisa dipastikan.
Kalau mereka disuruh masuk hutan, mereka memastikan dulu apakah di dalamnya ada buah yang dicarinya, ada macan atau ular yang rnengancam atau tidak. Bahkan mungkin mereka riset dulu berapa luas hutan, jenis tanahnya, atau ada warung atau tidak, ada pentas dangdut dan metal atau tidak. Kalau sudah jelas semuanya, baru mereka melangkahkan kaki masuk hutan.
(Harian SURYA, Senin 15 Maret 1993)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Wednesday, April 07, 2010

Para Patriot (2)

Seorang pendeta di Tarus, Kupang, Nusa Tenggara Timur, yang saya pernah bersendau gurau dengannya semalam-malaman, menginginkan anggotanya dalam organisasi pengembangan masyarakat ke Pulau Flores yang ditimpa bencana, untuk melihat apa-apa yang mereka bantu.
Memang ada beribu hal yang diperlukan oleh penduduk pulau malang itu dan setiap orang, setiap kelompok atau institusi, menjajaki tingkat kesanggupannya untuk menolong. Salah seorang anggota yang dikirim itu, sesudah melihat lapangan, mengajukan proposal kepada Pak Pendeta: Butuh biaya kurang lebih satu juta rupiah untuk perbaikan dua mushalla yang legrek (rusak berat) oleh gempa.
Ibarat kalau ada orang kejet-kejet ditabrak truk, segera saja Anda lari menolongnya, tak usah dulu tanya kepada korban apa agamanya, apa madzabnya, apa alirannya dan apa proposalnya. Dan Pak Pendeta ini dengan senang hati bersurat melanjutkan keperluan perbaikan tempat ibadat itu. "Tapi terus terang saya agak takut-takut inisiatif saya ini tidak didukung oleh kalangan Kristen, serta dicurigai oleh kalangan Islam," katanya.
Saya katakan kepada beliau: "Itu memang sangat pantas dicurigai. Bahkan kalau karni bersembahyang di masjid, saya terkadang juga curiga apakah orang di sebelah saya sungguh-sungguh salat kepada Allah jiwa raganya, hatinya, perasaannya, cintanya, hidup matinya. Jadi keputusan dan sikap saya adalah: teruslah, salat! Allahlah satu-satunya Hakim Maha, lembut-Tajam-Adil."
Maka imbauannya dan panggilan amal ini pun saya tulis.
***
Adik dari Poto'an Daya, Palenggaan, Pamekasan, Madura, karena situasi ekonomi keluarganya yang semakin seret, sangat khawatir akan tidak bertahan sekolah di sebuah Madrasah Tsanawiyah, apalagi untuk meneruskan kuliah kelak.
Baginya, "gantungkan cita-citamu setinggi langit" bukanlah kata-kata mutiar a, melainkan momok yang membuat hati getir. Untuk rutin membayar SPP dan membeli alat-alat serta buku-buku sekolah saja semakin hari semakin tak bisa dijamin.
Salah satu kelemahan adik kita ini adalah dalam kondisi seperti ini, ia hanya berinisiatif untuk 'meminta'.

Bukankah seandainya ada di antara pembaca yang bersedia menjadi semacam Bapak asuh, menjadi kurang 'optimistis' karena sikap mental semacam ini?
Apa yang harus ia tunjukkan ialah tekad untuk bekerja sambil sekolah, daya juang yang tak kemauan untuk membuktikan peningkatan diri, kemudian selalu bersyukur.
Hal yang sama juga terjadi pada rekannya sepulau: santri di Jaddung, Pragaan, Sumenep, Madura. Ia mengetuk pintu agar ada yang bersedia memberinya biaya yang memenuhi keperluan sekolah. "Ini terpaksa," katanya, "demi menambah pengetahuan untuk hari depan."
Tidak ada yang salah dengan ini semua. Tetapi afdhal (lebih baik) seandainya sebelum la meminta sesuatu, la menawarkan juga sesuatu kepada orang yang dimintalnya tolong. Tapi apa? Barang kerajinan barangkali?

Sesuatu yang khas Madura? Sesuatu yang la ciptakan sendiri yang khas? Atau sekurang-kurangnya tekad dan segala sesuatu yang membuat orang lain bersimpati.
(Harian SURYA, Senin 1 Maret 1993)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Wednesday, March 31, 2010

Para Patriot (1)

Sahabat kita yang lain adalah seorang pemuda gagah namun pekerja keras. Ia mahasiswa (Agronomi di satu universitas swasta Malang, Jawa Timur), namun tak malu bekerja kasar.
Ia putra keenam dari sembilan bersaudara, mengerti kedua orang-tuanya rnemanggul beban terlampau berat, sehingga ia memutuskan untuk ikut mengurangi beban itu. Setidak-tidaknya mungkin ia malu: Wong mahasiswa itu agent of social change, elite intelektual dan calon pemimpin bangsa kok numpang makan dan minta biaya sekolah kepada orang tua yang pendidikannya rendah dan melarat. Mosok ujung tombak era industrialisasi dan globalisasi kok nyusu pada orang agraris-tradisional.
Banyak macam usaha ia tempuh. Makelaran, dagang kecil-kecilan, namun masih belum sumbut untuk keperluan sehari-hari dan biaya kuliah yang merupakan idaman orang tua. Pernah juga ngenger ke sejumlah orang kaya, tapi belum saling ada kecocokan.
Apa yang ia idamkan adalah seandainya ada yang bersedia meminjami modal, dengan perjanjian dan prosedur yang dirundingkan secara fair. "Syukur kalau tanaman anggrek kaya jenis Douglas & Katlya bisa segera laku," tambahnya.
Pemaparan ini tidak hanya mengimbau Kepada Anda-Anda yang bersedia merogoh saku. Ini berlaku juga siapa saja yang tahu manfaat tambah teman dan ilmu pergaulan.
***
Lain lagi Ibunda atau Mbakyu kita berikut ini. Ia bentrok terus dengan suaminya masalah Keyakinan agama dan kini dalam proses meresmikan perpisahan.
Hmmm... yang namanya perpisahan atau perceraian, memang unik. Itu sebuah kemungKinan sunnatullah.

Mungkin karena darurat, mungkin karena memang harus demikian diaektikanya. Bahkan perpisahan bisa merupakan saiah satu bentuk persatuan. Burung 'Dali' di udara terus, burung Gemek/Gemak di daratan dan semak-semak pohon terus: Itu perpisahan fisik, sekaligus persatuan hakiki dalam menjalankan ekosistem kehidupan.
"Lek idek mambu taek, lek adoh mambu kembang." Mbakyu kita ini melihat dan yakin, sebagai mantan suami mantan istri. mereka masing-masing justru bisa berbuat lebih baik di tempatnya sendiri-sendiri yang baru.
Ia sendiri mencoba menemukan diri yang terbaiknya. Output dari segala kompleksitas problem dan kegagalan rumah tangganya, tidak berupa sikap nekad atau kompensasi-kompensasi negatif. Yang menjadi tekadnya kini ialah memusatkan sisa hidupnya untuk "menyeru manusia kepada Tuhan", semacam muballighat, sambil bekerja untuk mencari sandang pangan ala kadarnya sebagaimana orang-orang lumrah lainnya.
Dari Semarang, eks domisilinya, ia telah melakukan perjalanan ke Yogyakarta, Ponorogo (Jawa Timur) dan lain-lain untuk angon nasib, mempelajari agarna secara mendalam dan mencari kemungkinan-kemungkinan.

Ia kiri tinggal di Jember (Jawa Timur); di rumah seorang ibu yang juga aktivis acara-acara keagamaan. Namun ia tidak bersedia menjadi `benalu'.
Apa yang ia perlukan adalah kesediaan suatu institusi keagamaan, lembaga pendidikan, padepokan santri atau apa saja, di mana ia bisa belajar serius narnun juga bersedia bekerja sekasar apa pun, agar ia 'sah' menjadi manusia hidup.
(Harian SURYA, Senin 22 Pebruari 1993)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Friday, March 26, 2010

Awas, 'Waswasa Yuwaswisu' Hatimu

Tersebutlah seorang tukang tenung alias sihir atawa santet bernama Labib bin Asham, seorang Yahudi.
Pada suatu hari Rasulullah Muhammad Saw. menderita sakit yang bukan saja memarahkan, tapi juga aneh dan sukar diidentifikasi. Disantetkah beliau? Seorang Nabi, seorang Rasul, perutusan dan kekasih Allah yang ma'shum, mempan disantet?
Tetapi memang mukjizat Muhammad adalah bahwa ia Nabi yang biasa-biasa saja. Yang Tidak terpelajar.

Bukan jagoan intelektual dan tak ahli bikin syair. Tidak otot kawat balung wesi hingga tak terbakar oleh api seperti Ibrahim. Tak punya tongkat ajaib semacam Musa atau telapak tangan sakti bak Isa. Muhammad lumrah-lurnrah saja. Oleh karena itu ia populis, aktual dan tidak elitis. Tidur beralaskan daun aren ya OK.

Baju tinggal satu diminta orang ya dikasihkan. Kalau kelaparan perutnya diganjal batu sehingga
menggembung bak Dul Gendut.
Maka hari tatkala beliau sakit aneh, didatangkanlah oleh Allah malaikat-Nya. Bagaikan dokter dan perawat, malaikat yang satu duduk di dekat kepala beliau, sementara lainnya di dekat kaki beliau. Cobalah pandang sorot wajah dan sikap tubuh mereka: terasa kedua malaikat itu sayaaang banget kepada nabi.
"Apa yang kau jumpai?" bertanya malaikat yang duduk di dekat kaki kepada rekannya
"Thib", jawab lainnya.
"Apa itu gerangan?"
"Semacam sihir...."
"Siapa yang melakukannya?"
"Labib bin al-Asham. Orang Yahudi." tandanya?"
"Di dekat sumur keluarga sebelah itu...."
Lantas keduanya beranjak menuju pendaman santet sebelah sumur itu, mengurasnya dan rnembakarnya.
Keesokan harinya Nabi mernang beberapa sahabatnya, antara lain Ammar bin Yasir. Nabi meminta mereka untuk memeriksa sumur itu dan tampaklah air sumur itu menjadi kemerah-merahan. Dikuras oleh mereka.

Batu di dalamnya diangkat. Juga sebuah bungkusan, yang lantas mereka bakar. Bungkusan apa gerangan? Pitik putih mulus? Empedu musang? Lemah kuburan?
Kemudian difirmankanlah ayat-ayat dalam Surah yang kini hampir setiap muslim nenghafainya. Surah al-mu'adzdzatain, yakni al' Falaq dan an-Nas. 'Puisi' yang amat bersahaja namun esensial, hakiki, realistis dan merupakan pemadatan dari kebutuhan konkret keseharian manusia:
"Katakanlah:
Aku berlindung kepada Tuhan manusia, Raja manusia
Dari bisikan setan yang bersembunyi Yang terdiri atas jin dan manusia;
Katakanlah:
Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh
Dari kejahatan makhluk
Dari kejahatan malam bila gelap
Dari kejahatan penyihir yang menghembus pada buhul-buhul
Dari kejahatan orang dengki tatkala ia dengki"
Betapa tarneng firman-Nya itu merangkum segala jenis sihir: lontaran-lontaran tenung, bisikan-bisikan di dalam dada, hasutan-hasutan dari apa pun dan siapa pun saja: sesama manusia, tetangga, orang iri, iklan-iklan, informasi-informasi fasik, kampanye-kampanye yang rnempelesetkan kesadaran dan akal sehat.

Alladzi yuzwaswisu fis shudurinnas. Yang mengipas-ngipas hati manusia.
Bisikan, hasutan dan sihir yang menjauhkan kita dari kedekatan dengan Allah itu minal jinnati wan-nas, berasal dari kaum jin dan manusia. Dalam konteks apa pun: pergaulan sehari-hari. Peribadatan. Politik. Perniagaan.
***
Memang hanya jin dan manusialah yang merupakan figur. Sedangkan iblis atau setan adalah potensi atau sistem energi. juga malaikat; meskipun ketiganya bisa memanifestasikan diri menjadi seolah-olah figur seperti halnya dua malaikat yang menyantuni Nabi ketika sakit itu.
Malaikat adalah potensi dan sistem energi yang bekerja di alam dan manusia. Ia mengerjakan metamorfosis sel-sel, mengaktifkan hormon-hormon, menumbuhkan rambut, mengukuhkan tulang, membersihkan hati, menjernihkan akal pikiran, serta melakukan apa saja dalam mekanisme alam dan kemanusiaan menuju konstruksi tauhid.
Adapun setan bekerja memperkembangkan kecurangan, pengingkaran, manipulasi, kemaksiatan, kebodohan dan kemalasan. Sementara itu iblis menyuburkan potensi posessiveness, rasa memiliki yang mencuri hak Allah, keserakahan atas dunia, penumpukan harta dan kekuasaan, serta ketinggian hati dan takabur.
Manusia adalah khallfah yang mengatur sistem pemerintahan atas dirinya sendiri. Dialah yang menentukan 'kabinet pemerintahaninya Dialah yang memilih siapa- perdana menteri kepribadiannya: malaikatkah, ibliskah, atau setan. Pada perilaku setiap manusia, pada realiatas sistem-sistem sosial, tampak jelas siapakah suprastruktur yang dipekerjakan oleh manusia; siapakah the ruling power yang dimanjakan oleh khalifah manusia. Apakah 'negara' kehidupan manusia dipimpin oleh sistem energi malaikat, iblis, ataukah setan. Kita semua tinggal berkaca di cermin, menengok, kanan kiri, mengamati lingkungan, masyarakat, bangsa dan negara untuk mengidenfikasikan siapakah di antara tiga sistem energi itu yang paling memiliki kekuasaan dan alat produksi.
Hari-hari ini adalah hari tenang. Hari-hari sunyi dan sepi. Pernahkah kita menghayati bahwa justru dalam kesunyianlah suara yang sejati itu terdengar? Bahwa dalam suasana sepi, kontemplatif dan meditatif seperti ini, justru bergaung-gaung swaraning asepi? Sirr-ullah, rahasia kebenaran Allah yang hakiki?
Ilmu manusia, ilmu kita, amatlah terbatas. Tiap hari kita membaca dan mendengar tentang Geofge Bush, tentang Hari Bumi di Brazil, atau tentang suara-suara di Surabaya dan Jakarta. Tapi sekadar mendengar dan membaca. Selebihnya kita tidak mengerti persis. Tanya sunyi sembahyang kita, yang insya'- Allah menunjukkan mana yang sejati dan mana yang palsu?
(Harian SURYA, Senin 8 Juli 1992)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Wednesday, March 24, 2010

Buruh 3

Akhirnya teman-teman pekerja itu mengetahui Para juragannya amat sangat sibuk untuk menyediakan waktu menatar buruh-buruhnya: untuk itu, saya menyarankan agar mereka membuat aktivitas drama".
Maksud saya, daripada kalau nganggur-nganggur hanya diisi dengan joget dangdut atau ngramal buntutan, mungkin bisa mendaya -gunakan proses teater untuk menatar diri mereka sendiri. Bisa kumpul-kumpul di Balai RK atau di asrama atau tempat kost mereka. Tidak intuk membuat sandiwara seperti Rendra yang besar-besar, melainkan sekadar untuk proses penataran diri. Ini perlu karena proyek penataran pemerintah tidak bisa menjangkau semua lapisan masyarakat. Jadi kaum buruh harus tahu bagaimana menatar diri mereka sendiri.
Apa yang penting dalam drama itu bukan pementasannya, melainkan proses pembuatannya. Misalnya dalam menentukan lakon, mereka bisa mendiskusikannya, menggali dari pengalaman-pengalaman sebagai buruh.

Mereka menginventarisasi, menganalisis, mendiskusikan dan menentukan artikulasinya.
Drama itu tak memerlukan naskah sampai tahap skenario, melainkan cukup sinopsis atau paling. jauh treatment saja. Para aktor tak usah disediakan kalimat-kalimat, kata perkata, sebab mereka cukup berimprovisasi saja, sepanjang sudah menyepakati batas-batas dan konteks setiap adegan.
Jadi, sesudah pokok temanya ditentukan, tokoh-tokohnya dipilih, penahapan eksposisi, konflik dan solusinya diputuskan, maka dituliskanlah treatment: adegan ini siapa yang tampil, apa yang dibicarakan, seberapa takaran unsur-unsurnya, dan seterusnya. Nanti segala sesuatunya digarap sambil berja!an. Latihan akan dijalankan oleh seorang koordinator, tapi kerja penyutradaraan sesungguhaya dijalankan oleh semua.
Ini jelas teater distribusi alias teater demokrasi. Tidak bergantung dan berpusat pada satu pimpinan sentral.

Ini mernenuhi aspirasi dan idiologi kesenian komunitas: semua berperan untuk semua. Demikianlah hakikat dan realitas teater rakyat. Dan mestinya demikianlah pula yang disebut teater Pancasila, yang bukan hanya sangat mengutamakan dan menggali muatan dari sumber nilai keadilan, kesejanteraan bersama, namun juga melandasi seluruhnya pada nilai kemanusiaan dan religiusitas ke-Tuhanan.
Terserah bagaimana alur dan progresi, bahkan juga suspensi, yang hendak diciptakan. "Tapi yang penting," kata salah seorang dari mereka, sesudah menyetujui dan langsung merancang-rancang, "realitas pengalaman sebagian kaum buruh yang masih mengalami ketertindasan diungkapkan di dalamnya. Juga aspirasi dan sikap mereka terhadap realitas itu:"
Dirumuskan oleh mereka, misalnya, sejumlah alasan riel kenapa pada suatu hari mereka terpaksa mogok.

Ada staf personalia yang tidak rnelaksanakan undang-undang perburuhan sebagaimana mestinya.
Ada ketua serikat pekerja yang dinilai terlalu memihak kepada kepentingan perusahaan, padahal posisi perusahaan cenderung mengisap buruh.
Juga belum dipenuhinya hak bagi buruh yang memenuhi syarat untuk menerima asuransi tenaga kerja.

Kurang ada upaya untuk memperbaiki fasilitas kesehatan buruh. Kelebihan jam kerja yang belum dibayar.

Atau juga ketentuan kerja buruh yang belum dirumuskan, dan menuntut kelayakan dan hak buruh untuk ikut menegosiasikan ketentuan tersebut. Dipertanyakan juga kenapa perusahaan cenderung melecehkan masalah-masalah seperti besarnya uang transportasi, uang makan, Astek, dan terukama hak-hak perempuan (misalnya: cuti haid, cuti hamil, bahkan di Malaysia ada juga cuti cemas--- dan lain sebagainya.
Para buruh melakukan pemogokan, sebagai satu-satunya instrumen politik dan bahasa profesional yang mereka miliki. Dan yang merupakan puncak suspensi dramatikanya adalah tindak penangkapan, tekanan psikologis-politis dan kekerasan fisik oknum keamanan tertentu terhadap tiga orang buruh yang dianggap mewakili keseluruhannya.
Substansi adegan ini bukan sekadar segi negatif dari violence approach, tapi juga tradisi kalangan sekuriti untuk cenderung lebih melakukan pemihakan terhadap pemilik modal. Sebaiknya dipaparkan juga persfektif filosofis dari adegan itu: betapa ekonomisasi, industrialisasi, profesionaiisasi dan komoditisasi, mencerminkan syirik umat manusia dalam menyumbang materialisme.
Ending lakon ini adalah imbauan keras kepada Departemen Tenaga Kerja agar turun tangan menyelesaikan korslueting antara kepentingan subjektif perusahaan dengan hak-hak wajar kaum buruh. Mempertanyakan kenapa Pancasila dengan gampang dilanggar melalui ikut campumya oknum keamanan secara berlebihan tanpa memperdulikan rasionalitas kasus secara jernih dan adil.
"Permasalah kita sekarang," saya menanggapi, "apakah pementasan semacam ini akan tidak dianggap mengganggu stabilitas dan ketenteraman masyarakat umum? Dan apakah itu tidak rawan terhadap tuduhan-tuduhan politik dan subversif?"
"Kaum buruh justru adalah rakyat yang selama ini diganggu ketenteraman hidupnya...," jawab mereka.
(Harian SURYA, Senin, 8 Februari 1993)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Sunday, March 21, 2010

Buruh 2

Para juragan di perusahaan bisa menatar para buruh -sesudah menatar diri mereka
sendiri bahwa perburuhan Pancasila, misalnya, adalah kesejahteraan kolektif pada
semua yang terlibat dalam suatu lembaga ekonomi.
Suatu akhlak yang memperhatikan kepentingan bersama, tidak ada yang menghisap,
tidak ada yang dihisap, tidak ada yang mengeksploitasi dan tidak ada yang
dieksploitasi. Tidak harus berdiri sama tinggi duduk sama rendah, sebab tempat
kedudukan direktur dengan tukang sapu mernang berlainan sesuai dengan struktur
pembagian kerja. Namun setidaknya berat sama dipikul ringan sama dijinjing.
Kalau sudah di tatar oleh direkturnya, para buruh akan berkata: "Kami para buruh
ini punya kepentingan agar perusahaan tempat kami bekerja ini bisa maju
semaju-majunya! Siapa sih pekerja yang menginginkan tempat kerjanya bangkrut?
Tidak ada kan? Semakin maju perusahaan tempat kerja kami, semakin sejahtera pula
kehidupan kami.
Begitu mestinya kan? dan logikanya, kalau buruh tidak sejahtera, tidak terpenuhi
hak-haknya, kurang disantuni kelayakan hidupnya, apalagi kalau standar upah
minimal saja tidak dipenuhi, tentu kemajuan perusahaan juga menjadi tidak
maksimal."
Mereka menjadi mengerti: "Kami ini mesin. Kalau mesin loyo, bensinnya terlalu
ngirit, minyak pelumasnya tidak lancar, yang rugi kan yang punya kendaraan.
Beinsin ngirit membuat temperatur mesin menjadi panas, oli kurang mengakibatkan
onderdil gampang rusak. Siapakah pengurus perusahaan yang menginginkan mesin
kepanasan dan rusak seperti itu?"
Mungkin kemudian ada yang menyaut: "Kalau panas dan rusaknya keterlaluan
akhirnya mesin kan mogok!"
Tetapi pasti ada juga yang meneruskan: "Padahal kami sama sekali tidak senang
mogok...."
"Benar! Kami tidak suka mogok! Kami ingin bekerja baik-baik dan memaksimalkan
hasil perusahaan, sehingga dengan demikian penghidupan kami pun menjadi baik.
Sekali lagi kami tidak senang mogok.

Karena itu kami menginginkan suatu mekanisme kerjasama dalam bisnis ini
dilakukan secara adil dan tidak memakai cara memaksa mesin menjadi mogok."
"Ya, Pak," demikian kira-kira yang lainnya meneruskan, "kalau Bapak punya mesin,
tanyakan kepadanya apakah ia suka mogok, pasti jawabnya tidak. Tapi mengapa
terkadang mesin itu suka mogok ya karena keadaannya harus mogok. Karena
realitasnya mogok, ia dipaksa oleh kenyataan dirinya untuk hanya bisa mogok,
meskipun ia sama sekali tidak senang mogok."
Ketidak sukaan mereka untuk mogok itu, jika sudah ditatar, akan lebih dilandasi
oleh filosofi dan cara berfikir yang benar, di samping oleh kesadaran untuk
memelihara ketentraman sosial. Mereka menjadi paham hakikat mogok. "Hakikat
mogok itu sama dengan hakikat macetnya lalu lintas. Apakah bisa dibuat
undang-undang yang melarang jalannya macet?"
Karena kecerdasan Buruh meningkat, maka mungkin E.kan ada yang membuka wawasan
lain: "Bagaimana kalau jalan yang ditempuh bukan pemogokan, melainkan suatu cara
yang lebih bijak?"
"Apa misalnya?"
"Musyawarah, diplomasi, perundingan...."
Kecil kemungkinan akan ada yang menjawab begini: "Ah, mas ini! Ya Buruh pasti
kalah dan diakali saja kalau pakai diplomasi segala. Kami ini makan sekolahan
hanya sedikit, sedangkan Bos-bos kami orang pandai semua. Kalau kami ini pandai,
mosok ya menjabat sebagai buruh to maaaas .... !"
Artinya, kalau Perburuhan Pancasila menghendaki tidak ada aksi mogok dari para
buruh misalnya melalui musyawarah, dialog, di.plomasi, perundingan dan
sebagainya cara-cara tersebut bisa dilaksanakan dengan adil apabila ada kekuatan
tawar-menawar yang seimbang. Hal tersebut juga tidak bisa dilepaskan dari posisi
dan kondisi sosial, politik, budaya buruh saat ini.
Insya Allah tidak begitu. Kecuali kalau kaum buruh memang disengaja diperbodoh,
dibiarkan bodoh dan dibiarkan lemah dan malah dilemahkan. ()
(Harian SURYA, Senin 1 Pebruari 1993)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka
Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Wednesday, March 10, 2010

Buruh 1

Sejak di Taman Kanak Kanak, kita selalu diajari bahwa cita-cita yang terbaik adalah membela bangsa dan negara. Sesudah kita dewasa, sekarang.kita selalu menyadari bahwa tugas mulia kita adalah bagaimana senantiasa nenyumbangkan tenaga dan pikiran kita untuk menyejahterakan rakyat, membela bangsa, membahagiakan masyarakat, rnenciptakan ketenteraman sosial. Apa saja yang mengancam ketenteraman sosial, akan kita perangi bersama-sama.
Keyakinan itulah yang saya patrikan dalam hati ketika membaca surat dari beberapa pekerja pabrik, yang beberapa hari kemudian langsung menemui saya di rumah kontrakan. Wajah mereka kuyu, sinar mata mereka layu meskipun penuh semangat, dan pakaian mereka tentu saja---tidak trendy. Sebagai pekerja rendahan, tentulah mereka tak punya kapasitas ekonomi untuk mengejar mode yang larinya selalu sangat lebih cepat dibanding 'langkah' gaji kita semua.
Terus terang, kalau bersentuhan dengan strata pekerja, otak saya langsung curiga. Ini ada urusannya dengan ketentraman sosial. Oleh karena itu saya 'siap perang'. Terus terang saja, saya tidak suka pada pemogokan kaum buruh. Itu mengancam ketentraman sosial. Dan sangat lebih tidak suka lagi kepada sumber atau penyebab-penyebab pemogokan mereka. Misalnya, hak-hak pekerja yang tidak dipenuhi!
"Tampaknya Anda-anda ini sahabatnya Si Komo...?" saya nyeletuk, sesudah beberapa kalimat pembicaraan, serta berdasarkan yang saya ketahui dari surat mereka.
"Kata orang, buruh macam kami ini derajatnya sama dengan onderdil mesin. Tapi ternyata mesin lebih berharga dan lebih bernasib baik dibanding kami, Cak!" salah seorang nrombol. "Opo maneh iku!" kata saya.
"Kalau mesin mogok, ia tidak dipukuli, melainkan langsung diperbaiki, agar bisa digunakan lagi. Kalu kami mogok, lain soalnya. Wong masalahnya hanya aus karena kurang oli, kok lantas bisa sampai ke mana-mana yang kami tidak paham. Yang mbalelo, yang subversif, yang..."
"Bukan," jawab saya, "Bukan sampai ke mana-mana. Hanya sampai ke uang. Uang itu titik pusat gerak-gerik lain dalam kehidupan.
Gerak pendidikan, gerak kebudayaan, gerak politik, tuduhan-tuduhan dan retorika dalam hubungan kerja antar manusia, sesungguhnya bermuara pada uang. Tetapi yang penting, saya tidak mau kedatangan Anda kemari ini menjadi potensi yang bisa mengancam ketentraman sosial. Sebagai warga negara yang berusaha baik, saya selalu merasa wajib mencegah segala sesuatu yang bisa meresahkan masyarakat, meskipun yang bisa saya lakukan ya hanya sebatas begini-begini ini saja...."
"Meresahkan masyarakat bagaimana? Dan ikut mencegah bagaimana," mereka mengejar.
"Misalnya," jawab saya, "seperti dalam kasus yang Anda kemukakan kepada saya: para buruh harus kompak dengan juragan dan semua dalam perusahaan untuk mengantisipasi oknum-oknum yang dinilai tidak bisa melaksanakan undang-undang perburuhan. Para buruh harus selalu meletakkan diri dalam satu kepentingan dengan perusahaan, demikian juga pihak perusahaan harus meletakkan diri dalam dialektika profesional dengan buruh, sebab keduanya saling memerlukan. Para buruh kompak dengan perusahaan dalam pemenuhan hak-hak: gaji yang memadai sesuai dengan Moral Perburuhan Pancasila, imbalan lembur, fasilitas kesehatan, cuti haid, cuti hamil, hak berorganisasi, keterbukaan dan keadilan ketentuan kesejahteraan buruh... pokoknya semua segi hubungan kerja - nya. Perusahaan juga harus bertindak tegas
kalau ada buruh yang menyogok atau menyewa pihak luar yang punya kekuatan untuk menekankan kepentingannya. Kalau ternyata buruh tak mungkin melakukan itu karena tak punya biaya, ya perusahaan yang harus waspada jangan sampai dirinya menyewa kekuatan macam itu...."
Saya menganjurkan agar para buruh itu mengusulkan kepada para juragannya, para direktur dan mandor-mandornya, agar memberikan penataran kepada para buruh ---umpamanya---tentang undang-undang perburuhan, apa kata Pancasila tentang hak-hak buruh.... ()
(Harian SURYA, Senin 25 Januari. 1993)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Friday, March 05, 2010

"Sawang Sinawang" Politik

Hidup ini sawang sinawang. Juga kebudayaan. Dan politik.
Pada sisi positif, sawang sinawang mengandaikan empati antar manusia pihak dalam pergaulan. yakni kesediaan dan kesanggupan untuk pada saat-saat tertentu mengidentifikasikan diri sebagai orang lain kepada siapa seseorang bergaul.
Seorang suami dituntut untuk membayangkan seandainya ia adalah istrinya. Ini suatu metode penghayatan atas posisi mitra hidup. Suatu cara untuk saling bercermin. Sang suami. ikut "berada" dalam atau setidaknya rnerasakan posisi-posisi istrinya tatkala membuatkannya kopi, mengecupnya sebelum berangkat kerja, menelentang buat gairah suaminya. Demikian juga sebaliknya, sang istri berempati atas posisi suaminya. Itu semua merupakan metode untuk "menjadi satu", sebab suami dan istri adalah "satu pihak", meskipun dalam sejumlah urusan ada "pihak suami" dan ada "pihak istri". Keseimbangan pergaulan, keadilan hak dan keselarasan hati serta demokrasi menejemen persuami istrian, ditentukan oleh seberapa jauh keduanya bersedia dan mampu saling berempati.
Demikian juga pergaulan antara sahabat dalam pergaulan, antara pihak-pihak dalam kehidupan
bermasyarakat, antar kelompok dalam konstelasi politik atau antar apa pun dalam peta-peta perhubungan tidak menkonsentrasikan nilainya pada hak subjektif untuk berkehendak orang lain di dalam "dada" kita.
Begitulah pula seharusnya demokrasi kebudayaan yang berlangsung umpananya, antara pemerintah dengan rakyatnya atau sebaliknya.
Pada sisi lain yang negatif, sawang sinawang bisa berarti. subjektivisme, egosentrisme atau kesepihakan.
Seseorang hanya menerima orang lain sejauh hasil sawang-nya sendiri. Seseorang tidak diterima sebagai dirinya sendiri, melainkan dilihat berdasarkan, batas penglihatan dan penilaian orang yang memandangnya.
Tahap berikutnya, apa yang berlaku pada orang yang di-sawang, segala sepak terjangnya, harus sesuai dengan cara pandang dan kehendak orang yang memandangnya.
Dalam perikehidupan politik, mekanisme sawang sinawang dalam konotasi yang ini, akan kreatif pada penyangga kedaulatan manusia adalah bagaimana menemukan metode-rnetode agar ada sebanyak mungkin orang merniliki kesanggupan untuk mengambil jarak dari segala sesuatu yang menindih dan menenggelarnkannya.
Pengambilan jarak itu penting, terutama bagi masyarakat yang berada dalam keadaan mendem atau tenggelam dalam sesuatu yang mereka tak bisa menilainya. Pengambilan jarak dengan demikian bisa berarti alienasi, pergeseran untuk mengasingkan diri, dan mungkin pada saat-saat tertentu dianggap gila atau naif.
Tapi memang hanya orang yang berani gila dan naif saja yang punya peluang untuk menilai zaman ini dan mernperbaikinya.
Di tahun 1981 saya pernah menyaksikan 18 orang yang "gila dan naif". Mereka adalah penduduk asli Kepulauan Hawai, yang siang itu melakukan unjuk rasa di depan kantor gubernuran propinsi paling barat Amerika Serikat itu. Kenapa gila dan naif? karena rnereka menuntut hak atas tanah nenek mereka.
Amerika Serikat yang merasa diri sebagai masyarakat dan pemerintah paling demokratis di muka bumi, ditampar mukanya, tapi mereka bisa dengan mudah menemukan seribu alasan untuk menafikan demonstrasi itu. Apakah demi demokrasi dan hak-hak asasi manusia lantas seluruh penduduk Arnerika di Hawai disuruh pergi dari Oahu, meninggalkan gedung-gedung tinggi, industri pariwisata, serta segala bleger kemajuan pembangunan bisa melahirkan wajah sejarah yang membahayakan kemanusiaan. Suatu kekuasaan yang menganggap bahwa cara memandangnya adalah berlaku absolut, maka segala yang berlangsung pada kehidupan rakyatnya harus subordinatif atau menyesuaikan, tidak diperkenankan untuk menjadi dirinya
sendiri, dengan cara pandang sendiri serta dengan aspirasi dan kehendaknya sendiri. Sebab cara mereka berpikir, cara mereka memandang dan meniiai sesuatu, harus yang demikian akan melahirkan proses sentralisasi dan uniformisasi-pemusatan dan penyeragaman - yang bukan hanya berlangsung pada way of approach terhadap permasalahan-permasalahan, tapi bahwa juga tercermin pada penyeragaman dan penunggalan yang fisik di bidang-bidang ekonomi, birokrasi pola budaya, atau bahkan mode dan selera.
Ekspresi kedaulatan rakyat mungkin hanya tersisa ada bunyi ngorok waktu tidur, cara buang air besar, serta metode pemistikan angka-angka.
Yang dimaksud sentral kekuasaan tidak harus pada konteks politik praktis, namun bisa juga pada pola-pola budaya konsumtifisme. Masyarakat tidak perlu kreatif berpikir, sebab untuk menyedapkan sayuran sudah ada moto, untuk menentukan potongan rambut sudah ada disainer-disainer rambut, untuk memiliih lagu sudah ada Aneka Ria Safari, untuk memilih baju tinggal ke Toserba. Kekuasaan atas masyarakat berlaku di hampir semua bidang. Sehingga yang terus menerus menjadi tema mereka?
Tidak sebuah teori dan kearifan empirik pun akan pernah bisa menjawab ironi semacam itu. Sejumlah kecil masyarakat Indian penduduk asli Amerika yang kini diasramakan di Sheatle adalah untuk meminjam istilah Rendra -- "bau busuk yang mengganggu orang tidur" orang-orang Amerika pendatang. Tetapi mereka tak pernah terganggu tidurnya. Mereka tenang dengan "dosa warisan" yang dahsyat itu dan tetap mengumumkan diri sebagai pemimpin demokrasi di muka bumi.
Mau tidak mau mereka harus memakai konotasi negatif dari sawang sinawang-nya, demi memelihara kemampuan sejarah gemerlap yang telah berhasil mereka bangun. Sedikit demi sedikit muncul juga kesadaran masyarakat Amerika segera setelah mereka berbuat dosa sangat besar dengan memusnahkan bangsa asli dari tanah yang kini mereka huni. Christopher Columbus sudah mulai banyak digugat dan tidak lagi terlalu mantap dikukuhkan sebagai "Bapak Penemu Amerika". Budaya rasisme yang mendiskriditkan posisi kernanusiaan kelompok kulit hitam sudah makin terkikis beberapa puluh tahun terakhir. Anda mengerti bahwa arus balik kesadaran itu memang sungguh-sungguh berlangsung. Bahkan kenapa film macam itu dimenangkan, sesungguhnya mencerminkan pergeseran konotasi sawang sinawang politik: bahwa masyarakat Amerika, atas desakan demokratisasi internasional maupun atas sumber nurani mereka sendiri, telah semakin menyelenggarakan "upacara pengakuan dosa". Namun dasar Amerika, pahlawan kemanusiaan dalam film itu tetap juga Amerika pendatang, bukan manusia Tapi tak apa. Peradaban memang watak evolusioner.
Anda mungkin juga mengerti persis riwayat Kaum Murus di "Filiphina Selatan" --nanti Anda tahu kenapa saya pakai tanda petik. "Murus" adalah sebutan untuk "bandit" atau "bajingan" atau "pengacau keamanan". Kaum muslim di utara Sulawesi itu bagi kolonial Spanyol selalu disebut "murus", sedemikian rupa hingga "dengan bangga" mereka memakai nama itu. Sekarang kita mengenal mereka sebagai Bangsa Moro. Pemerintah Filiphina sampai hari ini pun, meskipun masih cukup moderat, tetap secara politis menganggap mereka "murus". Sementara Bangsa Moro sendiri hanya memakai logika sederhana: "Kami tidakpaham kenapa kami dianggap sebagai pemberontak terhadap Manila, dianggap sebagai separatis yang ingin menyempal, padahal dalam sejarah tak pernah kami menjadi bagian dari negara yang bernama Filiphina. Filiphina itu lahir sebagai modus negara sesudah berlangsung penjajahan Spanyol dan Amerika Serikat. Kami tidak tahu menahu itu...."
Bangsa Moro memakai konotasi positif dari sawang sinawang, sementara mereka harus menghadapi klaim establisment modern yang memakai sawang sinawang dalam konotasi negatif. Sejarah kita sendiri menyodorkan PR yang barangkali harus kita lacak di antara dua kutup konotasi itu, baik yang terjadi di zaman Majapahit maupun yang sedang berlangsung hari-hari ini. Kita bebas menentukan sikap, namun objektivitas dan keadilan sejarah juga merdeka untuk melihat siapa yang adil dan objektif dan siapa yang tidak adil dan subjektif dalarn bersawang sinawang.
(Harian SURYA, Senin 25 Nopember 1991)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Thursday, February 25, 2010

Oknum

Kali ini tampaknya justru saya yang berkonsultasi kepada Anda. Ini menyangkut keluhan seorang ibu rumah tangga yang batinnya sedang sangat tertekan. Berasal dari wilayah dekat kampung halarnan saya sendiri, yakni Mojoagung, Jombang, Javva Timur.
Pernahkan Anda membayangkan bahwa di antara hal-hal dan realitas yang saya ketahui, hanya sekitar 25 persen saja--bahkan mungkin kurang dari itu yang bisa saya ungkapkan melalui tulisan? Ada banyak pintu tertutup atau rambu nilai yang membuat sangat banyak harus disembunyikan atau ditutup-tutupi.
Ada 'rambu' tata aturan politik. Ada etika sosial, baik yang universal maupun yang nasional dan yang khas budaya Jawa. Ada kode etik jurnalistik. Ada 'rambu' SARA, yang penafsiran atasnya selalu kabur dan berdasarkan subjektivisme kekuasaan, dan lain sebagainya. Itu semuia membuat kita sering terpaksa menyembunyikan kejahatan, melindungi kebobrokan, atau menutup-nutupi kekejaman. Kita sungguh-sungguh belum lulus dalam hal menentukan strategi aplikasi dari filosofi demokrasi, keterbukaan, atau yang dalam agama disebut 'qullil haqqa walau kana murran'. Katakan yang benar, meskipun pahit. Yang benar tentang kebenaran, maupun yang benar tentang kejahatan.
Oleh karena itu dalam atrnosfir tertentu saya sering mengibaratkan apa-apa yang dimuat di koran-koran itu ibarat - maaf - `bau kentut'.
Maksud saya, seringkali yang kita baca itu baunya saja. Sedangkan bau itu nya indikator dari realitas kentut.

Bau itu bukan. realitas. Kita tidak pernah tahu apa sebenarnya kentut itu, apa warnanya dan bagaimana bentuknya, dan kemudian yang justru harus diketahui oleh para pembaca koran adalah apa isi perut orang sehingga kentutnya kok begitu baunya, apa saja yang dimakannya, siapa yang ngasih makanan itu, ia dikasih, membeli, atau mencuri.
Alhasil kalau kita baca koran, kita harus punya perhitungan rangkap sebelum menyimpulkan sesuatu. Harus dikunyah, tidak boleh ditelan atau apalagi diuntal begitu saja. Sebab di Indonesia ini, terutama yang ada di jajaran kekuasaan, semua baik. Pejabat pasti baik polisi dan tentara pasti baik. Kasubdit, Kabag, apa saja, semua baik. Yang jelek pasti `oknum'.
Hal ibu rumah tangga yang saya kisahkan ini juga terpaksa tidak 'telanjang' menuliskannya. Cukup intinya saja. Ini bahan silaturahmi antar manusia yang toh punya problem masing-masing. Dan terutama silaturahmi antar ibu-ibu yang siapa tahu diam-diam mengalami penderitaan yang sama, tapi selama ini tak tahu harus diomongkan kepada siapa.
Beliau ini istri kedua dari seorang yang tergolong penting dalam masyarakat. Kepala bagian dari satu urutan yang luhur di sebuah kantor eselon tidak rendah. Sudah pula memiliki gelar sesudah menunaikan suatu jenis ibadat tertinggi.
Tak ada yang menyalahi 'hukum' dengan itu semua. Ada izin resmi dari istri pertama. Ia dikawini karena istri pertama tak mampu melayani', dan dipinang dengan alasan daripada si lelaki harus ke pelacuran.
Tentu, betapa luhur wanita yang sedia berkorban demi menghindarkan seorang hamba Allah dari api neraka.

Tapi yang ia jumpai adalah bumerang. Kebiasaan 'jajan' sang lelaki tak berhenti juga. Ditunggu sampai larut malam, katanya rapat, ternyata barusan kencan di Pantai Kenjeran. Si istri kedua sampai pernah meletakkan Quran di atas kepala sang suami untuk mengambil sumpah tentang melacur lagi atau tidak. Ternyata, berdasarkan sejumlah bukti otentik, memang masih.
Padahal. apa saja sudah ia ladeni dari maaf -oral seks, anal seks dan lain sebagainya. Padahal si istri kedua sudah bersedia pisah sama anak-anaknya karena sang suami tak cocok dengan mereka.
Lha, terakhir ini malah ada surat-surat kaleng dan isu beredar bahwa sang suami itu korupsi. "Saya merasa malu, suami saya sering memimpin berdoa, tapi kelakuannya begitu. Saya merasa terhina. Saya minta cerai, tapi tak diperbolehkan".
Jika tak ada siapa pun yang mendengarkan cerita ibu ini, maka tak diragukan lagi justru seluruh suara kesengsaraan batinnya memusat di pendengaran Allah sendiri. Dan jika Allah telah mendengamya, maka hati-hatilah siapa saja yang kelakuan hidupnya menyatakan perang kepada Allah'.
Ibu bisa pilih cara menabraknya secara tegas dan memperjuangkan hak pisah melalui instansi hukum negara dan agama. Bisa juga menghimpun enerji jangka panjang untuk menemani sang suami tercinta menuju khusnul khatimah, dengan berdrum-drum kesabaran dan kepandaian mendidik. Betapa mulia di dunia dan betapa cerah rumah di sorga jika itu dilakukan!
Atau memperbanyak daya kerohanian: salat malam lebih banyak, dzikir lebih rajin, membersihkan hati, mengucapkan wirid-wirid tertentu yang kontekstual untuk itu, serta memasrahkan sepenuhnya kepada kearifanNya.
(Harian SURYA, Senin 13 Januari 1992)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Wednesday, February 24, 2010

Bersalaman dengan Gadis Gila

Hari ini saya menerima surat dari sebuah kota pesisir utara Jawa yang berisi permohonan maaf kepada saya. Tentu saja saya membalasnya dengan kata-kata: "Saya tidak berhak memberi maaf kepada Anda, sebab menurut pengetahuan saya Anda bersalah tidak kepada saya, melainkan kepada Tuhan, kepada gadis gila itu dan kepada diri Anda sendiri."
Meminta maaf kepada diri sendiri bisa ditempuh dengan penginsafan hati dan pembenahan cara berfikir. Memohon ampun kepada Allah bisa dijalankan dengan cara bersujud, shalat sebanyak-banyaknya, kalau perlu puasa dan menyampaikan qurban sebagai semacam ruwatan atau pembersihan diri. Tetapi bagaimana caranya meminta maaf kepada seorang yang dirahmati oleh Allah dengan kegilaan?
Ceritanya, beberapa minggu yang lalu datang ke rumah kontrakan saya tamu-tamu muda anggota suatu kelompok Tarikat. Pakaian mereka necis, rambut klimis, gerak-gerik mereka memenuhi segala konsep kesopanan, dan cahaya wajah mereka bagaikan memancarkan sima'hum fi wujuhihim min atsaris-sujud: ada tanda-tanda bersinar di wajahnya, jejak sujud-sujud rnereka kepada-Nya.
Ada banyak problem dan kepusingan yang sedang menimpa saya seperti juga tiap hari terjadi, tetapi kalau menerima tamu-tamu penuh kemuliaan seperti ini tidak ada lain yang terasa kecuali ketenteraman dan keteduhan.
Ini anak-anak Tariqah! Bayangkanlah. Hampir semua anak muda memperlombakan hedonisme, hura-hura dan menyembah segala jenis materialisasi manusia, tapi anak-anak muda ini tak perlu menanti saat sekarat untuk memilih keabadian ruhani.
Tiba-tiba nongol Si Inur, wanita tamatan SMTA yang oleh semua orang kampung ternpat tinggal saya dianggap sampah karena sinting sesudah ditinggal pacarnya kawin dulu. Lebih dua puluh kali sehari ia datarg dan kami mengobrol. Mungkin karena di rumah saya ia menemukan teman-teman sejawat dan senasib, sehingga bersedia menerimanya dan ngowongke.
Maka saya panggil Si Inur, saya ajak untuk bersalaman dan berkenalan dengan tamu-tamu terhormat saya. Senyum-senyum ia datang sambil satu tangannya mempermainkan helai-helai rambut. Ia menyodorkan tangannya dengan ramah, dan rnendadak saya saksikan tamu-tamu saya kaget, gelagapan dan salah tingkah. Semuanya tidak bersedia menerima uluran tangan Si Inur dan hanya berkata disopan-sopankan: "Sudah, sudah... terima kasih, terima kasih!"
Tahukan Anda bahwa saya sendiri tidak menyangka betapa saya mendadak marah menyaksikan hal itu? Bukan hanya marah, tapi juga meledak-ledak dengan kata-kata amat keras dan terus terang.
Saya amat sangat tersinggung karena tamu-tarnu saya menolak keramahan seorang hamba Allah. Apalagi hamba Allah yang ini berangkat ke alam gila dengan membawa penderitaan hati karena dikhianati cintanya. Sedangkan Allah pun murka kalau kita khianati cinta-Nya!
Apakah tamu-tamu saya ini merasa yakin akan masuk surga dan Si Inur pasti masuk neraka, sehingga tak punya kehormatan setitik pun untuk diterima uluran tangannya? Sedangkan gadis ini sejak beberapa tahun yang lalu telah selamat hidupnya karena segala perbuatannya akan tidak dikalkulasi oleh Allah berkat kegilaannya, sementara tamu-tamu ini rnasih menapakkan kakinya di jalanan licin penuh lumpur dosa-dosa?
Ataukah mereka jijik bila tangannya yang bersih dan wangi harus bersentuhan dengan tangan kumuh kotor si gila? Ahli tarikat anak-anak muda ini, ataukah priyagung-priyagung yang feodal dan suka merendahkan orang kecil?
0, mungkin mereka keberatan salaman karena Si Inur itu wanita yang bukan muhrimnya. Lebih berat manakah takaran antara pahala tidak menyentuh tangan wanita dibanding dosa tidak memelihara bebrayan sosial? Apakah gadis gila ini bagi para ahli tarikat masih seorang wanita? Tinggi benar naluri seksnya!
(Harian SURYA, Senin 7 Desember 1992)
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Friday, February 19, 2010

Memasak Nasi dengan Doa dan Asap Dupa

Ayah saya panik melihat gejala saya akan menjadi mahasiswa abadi. Maka ia mengajak saya ke orang tua, semacam dukun...," tulis seorang gadis manis asal Ngawi, mahasiswa Sastra Inggris yang tampak sebel dengan banyak hal di keluarga juga di lingkungannya.
Mungkin saya sendiri yang bersalah. Hati saya terlalu menampung siapa saja. Antara lain yang berhubungan dengan perdukunan dan lain sebagainya, yang kemudian pernah saya tuliskan di media massa dengan judul Kasekten dan Kagunan.
Kalau di Yogya atau di beberapa tempat lain ada orang mau bikin apa-apa, nama saya suka dipakai untuk dijadikan stabilo kultural. Ada seminar kasekten, diskusi paranormal, pendirian badan pengobatan klasik non-medis: lho kok saya yang disuruh ngasih pengantar atau tampil di pers conference. Seolah-olah lantas menjadi sah kalau saya sudah bilang "Okay!"
Padahal dalam banyak urusan semacam itu saya dukung karena berkaitan dengan perluasan lapangan kerja.

Prestasi pembangunan kontemporer kita antara lain adalah menambah jumlah pengangguran, menugasi sarjana menjadi satpam atau penyiksa ratusan ribu pencari kerja dengan menyuruh mereka beli map dan kertas lamaran kerja sebanyak-banyaknya. Maka segala upaya penciptaan lapangan kerja, sepanjang tidak bermusuhan dengan Tuhan, ya saya dukung sepenuhnya, meskipun untuk itu resikonya saya disalahpahami atau difitnah oleh orang banyak. yang tak mernahami persoalannya.
Maka adik dari Ngawi ini terperangah. Wong Cak Nun kok ngurusi dan seolah-olah meng-OK-kan soal-soal mistik begitu. Tatanan pikiran dan satu dua keyakinannya menjadi terbongkar.
"Saya lahir dan tumbuh di lingkungan Islam KTP alias Islam abangan," katanya, "Ayah saya tidak pernah salat dan hampir semua keluarga saya tidak pernah memperhatikan nilai-nilai agama. Sebenarnya saya ingin hidup di lingkungan keluarga yang Islami. Saya ingin beribadah secara teratur...."
"Bila ada rnasalah atau ingin naik pangkat, ayah saya selalu lari ke orang tua atau orang pintar. Di sana ayah akan dibekali gembolan berisi batu dupa, beras, atau ketan yang dibungkus. Ayah saya orangnya ambisius.

Anak-anaknya menjadi alat kendaraan dari cita-citanya, dia yang menjadi sopir. Makii ketika skripsi saya tidak jadi-jadi karena otak susah diajak kreatif, ia mengajak saya ke orang pintar tersebut. Saya buta masalah-masalah begitu dan sangat takut terjebak syirik. Saya menolak. Saya sempat depressed sebentar karena bingung, takut, cemas, dan kasihan melihat ayah Saya panik. Saya harus mendapatkan jawaban apa hubungan antara syirik dengan dunia kasekten dan pedukunan...."

Sungguh ini pemandangan jamak.
Kisah akan sangat panjang apabila harus kita uraikan.kenyataan tentang dunia pedukunan hakikat realitasnya, juga fungsi kultural dan politisnya. Tetapi untuk saat ini, putri Ngawi kita tak usah membuang-buang energi untuk mengurusi Gunung Kawi, persenggamaari massal Kemukus, dupa, Mbah Karto atau Mbah Karmo. Kelak saja untuk bahan tesis doktor, atau lupakan sama sekali, sebab soal-soal macam itu tak berhak atas ruang dan waktu yang tersedia dalam dirinya.
Yang pertama mesti dilakukan oleh mahasiswa kita ini adalah mensyukuri hidayah Allah bahwa di tengah lingkungan yang sekuler-abangan-kienik, malah lahir dalam dirinya dambaan-dambaan serius untuk meng-Islamkan darah daging jiwa raganya.
Selanjutnya ambil jarak dari diri sendiri: engkau seorang yang dianugerahi kecerdasan pikiran, juga kejernihan hati. Skripsimu tak jadi-jadi hanya karena sukmamu belum bisa antisipatif, sumeleh dan tenteram terhadap banyak hal di dunia yang tak direlakan oleh naturnya. Hidupmu masih gugup dan gamang karena gairah untuk melawan ketidakberesan belum mendapatkan mitra kemampuan dan pengalaman yang seimbang.
Kalau engkau harus ikut bertemu ke rumah Mbah Dukun, datang saja, namun dengan niat bukan untuk merdukun (berdukun) melainkan untuk menyenangkan hati ayah--sementara engkau belum sanggup rnengubah kebiasaannya yang penuh penyakit. Soal syirik itu salah caramu memusingkan. Syirik tidak terletak di kuburan, dupa dukun, gembolan atau keris-keris, melainkan bersemayam di dalam gagasan-gagasanmu sendiri. Silakan tidur di kuburan asal sekadar untuk mengambil jarak dari keramaian. Silakan simpan keris seperti halnya engkau menyimpan sepatu dan boneka. Silakan bawa gembolan ke mana-mana sebagaimana engkau bawa handy talky atau walk-man. Syirik bukan karena bendanya, tapi karena anggapanrnu terhadap benda itu. Jangankan menyembah keris dan dukun, sedangkan menyembah masjid,
menyembah salat, menyembah Nabi Muharnmad saja pun syirik namanya.
Selebihnya segera selesaikan skripsi dengan matek aji, niat ingsun, bismillah dan istiqamah --- demi membahagiakan kedua orangtua dan demi supaya lebih gampang dapat pekeraan. Jangan terlalu membebani sekolahan, kampus, dosen-dosen. dan skripsi atau keseluruhan dunia ilrnu pengetahuan dengan kekecewaan-kekecewaan. Jangan minta terlalu banyak kepada semua itu. Kalau mencari ilmu, kearifan dan kemuliaan hidup, jangan andalkan itu semua. Lebih baik berharap kepada bagaimana caramu sendiri melihat dan memperlakukan matahari setiap pagi, dedaunan, tetangga, pasar atau impian-impian aneh setiap malam. Mintalah ilmu kepada Pemiliknya, petiklah anugerah-Nya di setiap butiran udara.
Adapun cara membuat skripsi sama dengan cara menanak nasi. Ialah tidak memakai asap dupa atau doa.

Menanak nasi sediakan kompor dan panci. Membuat skripsi ya menjalani segala metodologi rasional ilmiah yang diperlukan oleh hakikat kosmos suatu skripsi ilmiah.
Doa baru berhak engkau ucapkan hanya sesudah upaya rasional empirik dimaksimalkan.

Harian SURYA, Senin 28 Desember 1992
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/ PadhangmBulanNetDok)

Thursday, February 18, 2010

Kepada Siapakah Engkau Mengeluh?

Kepada siapakah engkau mengeluh? Kepangkuan siapa engkau menumpahkan airmata? Pintu rumah siapa yang engkau ketuk untuk meminta tolong?
Kalau hari janji telah tiba untuk membayar utang, padahal beras di dapur pun sudah menipis.
Apakah engkau akan mengetuk rumah para artis dan bintang film yang uangnya berlebih dan credit card-nya bertumpuk-tumpuk?
Kalau untuk memperoleh pekerjaan dua hari lagi engkau harus menyediakan ratusan ribu atau sekian juta rupiah uang terobosan: Apakah engkau akan bertamu ke rumah-rumah para eksekutif yang tinggal sekampung denganmu?
Kalau istrimu hendak melahirkan, apakah engkau bisa meminjam kendaraan tetanggamu yang rumahnya berpagar tinggi itu, atau bisakah engkau mencegat kendaraan-kendaaan pribadi yang kosong yang lalu-lalang di jalan umum?
Kalau nasibmu ditimpa gludug "rasionaliasi" alias di-PHK-kan, bisakah engkau lapor kepada Pak RT, Pak RW, Pak KAdus, Pak Kades atau para pamong lainnya yang merupakan pengayorn masyarakat?
Kalau dalam suatu kasus atau konflik di kantor engkau tercampakkan karena engkau tak memiliki kekuasaan, backing dan relasi akankah engkau menumpahkan airmata di kantor Polsek atau Koramil?
Kalau tanah-rumahmu dan tanah rumah teman-temanmu sekampung atau sekecamatn digusur tanpa ganti rugi yang memadai setidaknya karena disunat oleh oknum-oknum pelaksananya: ke manakah engkau akan lari? Apakah ke Kantor Pimpinan Wilayah Muhammadiyah? Kantor Cabang NU? Atau kantor Orwil ICMI Atau ke rumah KH. Zainuddin MZ?
Kalau rasa cemburu memanggang dada-mu karena melihat tetangga begitu gampang berganti-ganti mode mobil. Kalau rasa jengkel menampar-nampar perasaanmu karena meiyaksikan jumlah kendaraan pribadi memenuhi lebih dari lima puluh persen jalan-jalan di kotamu. Kalau rasa perih, sakit dendam, menikam jantung ruhanimu, karena rnenghayati perbedaan-perbedaan tingkat hidup yang mencolok, menghayati ketimpangan, kesenangan dan ketidakseimbangan. Siapakah yang bersedia mendengarkan keluhanmu? Pak Pendeta? Pak Cendekiawan? Pak Seniman? Pak Ulama? Pak Khatib di rumah ibadah yang kata-katanya justru harus engkau dengarkan?
Kalau hatimu bingung oleh kesumpegan ekonomi. Kalau perasaanmu gundah oleh pusingan-pusingan hidup yang bak lingkaran setan. Kalau jiwamu serasa akan berputus asa karena sedemikian sukarnya menempuh hidup yang benar. Kalau sukmamu rasanya mau copot karena himpitan-himpitan nasib yang tak tertahankan.

Ke mana dan kepada siapakah engkau rebahkan keletihamu?
Kepada rninuman. keras, ganja, arak dan joget dangdut, mengasyiki ramalan angka-angka, menghirup rasa aman yang praktis melalui pengajian-pengajian akbar?
Adakah peluang, dan tidakkah dilarang, untuk mengemukakan isi hati kita seadanya dan sejujur-jujurnya kepada Pak Lurah, Pak Polisi, Pak Kiai, Pak Menteri, Pak Ilmuwan, Pak Wakil rakyat, Pak Profesional dan lain-lain?
Kalau mernang mungkin kapan dan di mana? Bolehkah mendambakan bahwa Pak-pak itu pernah sesekali bertanya kepadamu tentang apakah hatimu sedang bersedih, apakah ada kesulitan dan problem yang tak bisa diatasi?
Kalau tidak, lantas kepada siapa engkau nengeluh? Siapa yang bersedia menjamin bahwa engkau dan anak istrimu tidak kelaparan? Siapa yang menemanimu membanting tulang menghabiskan waktu untuk sekadar mempertahankan penghidupan? Siapa sahabatmu di dunia ini? Siapa pemimpin yang santun dan memberimu rasa aman?
Allah menuntun mulut kita agar mengucapkan: "Innama asykubastsi wa huzni illalah."
Aku keluhkan derita dan kesedihanku kepada Allah. Tetapi bukankah Ia telah mewakilkan diri-Nya dan tugas-tugas itu kepada kita? Akankah kita perintahkan Allah agar mengurusi soal kenaikan harga?
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)

Wednesday, February 17, 2010

Leher Kambing si Miskin

Sukses kampanye tauhid Rasululiah terutarna karena mengandalkan uswatun khasanah: teladan hidup yang bersih dan konsisten. Tak banyak omong. Mulut beliau Terpelihara. Beda dengan hobi kita sekarang.
Memang, asyiknya Nabi utusan Tuhan terakhir, Muhammad Saw., ini bukan hanya karena beliau itu manusia lumrah raja, aba ahadin min-kum (sebagaimana bapak anak-anak pada umumnya). Bukan karena karakter kerasulan beliau serius mengandalkan mukjizat atau kasekten yang aneh-aneh. Namun yang paling mengasyikkan adalah bahwa putra Abdullah ini buta huruf dan mernilih hidup melarat.
Pada suatu hari datang bertamu kepada beliau seorang anak yang menyampaikan pesan ibunya agar Nabi memberikan sesuatu kepadanya. Nabi berkata, "Hari ini kami serumah tak punya apa-apa." Si anak ngeyel, "Kata ibu, kalau tak punya apa-apa, mohon Nabi menanggalkan baju dan memberikan kepada kami."
Muhammad pun menanggalkan bajunya, memberikannya, kemudian duduk dalam rumah, kedinginan dan agak menyesal. Allah segera kirim Jibril untuk memuji namun juga mengkritik Muhammad, "Jangan mengalungkan kedua tanganmu di leher, namun juga jangan mengulurkan tangan terlalu panjang."
Artinya, manusia tak boleh pelit. Tapi dalam bersedekah juga harus tetap rasional dan realistis. Sakmadya, kata orang Jawa.
Di saat lain Nabi yang anggun pendiam ini tampak buncit perutnya tatkala sembahyang di masjid, Sayyid Umar bin Khaththab memperhatikan dan menelitinya dengan. seksama. Akhirnya ketahuan bahwa beliau sedang kelaparan, sehingga diambilnya sebongkah batu, diikatkannya di perut, lantas ditutupi gamis. Umar belingsatan mencarikan inakanan untuk beliau.
Ternyata pilihan untuk melarat, asal jangan sampai fagiy, absah juga. Manusia berhak untuk kaya, tapi berhak pula untuk miskin. Muhammad ini contoh yang paling 'gawat' dalam sejarah dalam soal keberhasilan ekonomi, bahkan puasa kesejahteraan atau apalagi kemewahan sedemikian rupa. Kaum orientalis maupun kita-kita sampai sekarang jarang menyebut-nyebut betapa pentingnya etos satu ini untuk mempersyaratkan mutu kepemimpinan seseorang atau masyarakatnya.
Muhammad penguasa jazirah Arab, namun menolak untuk menjadi penguasa. Sebab ia adalah pemimpin.

Penguasa dan pemimpin adalah dua rnakhluk dan dua soal yang sama sekali berbeda. Penguasa memanage kekuasaan dirinya atas orang banyak, sedangkan pemimpin memanage cinta dan sistem penyejahteraan.
Ketika itu Muhammad sanggup memperoleh apa saja: dunia sudah digenggamnya. Ia sudah memiliki segala persyaratan untuk duduk di singgasana dan menikmati segala-galanya: jaringan, akar, geniusitas, ketrampilan manajemen, kependekaran fisik, atau apa saja yang harus dirriliki oleh seorang raja.
Namun Beliau ogah jadi raja. Raja itu malik.
'Malik' itu sifat Tuhan. Beliau memilih term Khalifah dan itu sama dengan fungsi setiap manusia, meskipun Allah memuliakannya dengan status nabi dan rasul. Muhammad makan hanya karena lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Beda dengan kita yang terus lapar dalam keadaan kekenyangan. Muhammad bersedia tidur beralaskan daun aren ketika pulang larut malam dan sungkan membangunkan Aisyah.
Muhammad punya pendahulu nenek-moyang yang bernama raja Sulaiman putra Daud. Allah menawarinya apakah mau menjadi raja dan kaya-raya seperti Sulaiman. Beliau menolak. Supaya masuk syurga duluan, beda dengan Sulaiman yang mendapat jatah terakhir sesudah semua nabi.
Apakah ia, Muhammad itu, seorang masochis-romantik? Seseorang yang sok, anti materi dan cengeng?

Bukankah Allah membuka pintu lebar-lebar, "Kuhamparkah bumi dan langit dan semua isinya. Makan dan minumlah, asal jangan berlebih-lebihan...."? Kenapa Muhammad memilih 'kekurangan' setidak-tidaknya menurut tolok ukur kita sekarang?
Memang kebanyakan kita sekarang jauh lebih kaya dibanding Mohammad. Bahkan 30 juta penduduk Indonesia yang kabarnya masih di bawah garis kemiskinan, belum tentu lebih parah keadaannya dibanding Muhammad. Betapa mungkin, seorang nabi, yang menurut logika moral seolah-olah berhak atas separo jazirah Arab beserta tambang-tambangnya: ketika wafat, malah masih punya hutang beberapa kilogram gandum kepada tetangganya seorang Yahudi? Kita yang satpam atau tukang ojek pun mungkin lebih baik dari itu keadaan ekonominya.
Namun jangankan Muhammad. Sedangkan kepala suku Ammatoa di Kajang, Bulukumba, Sulawesi Selatan, kepala suku Boti, Soe, Nusa Tenggara Timur pun tahu dan konsisten bagaimana berlaku sebagai pemimpin. Ia tak bersedia menerima sesuap pun dari rakyat. "Kalau saya menerima sesuatu dari rakyat saya, mereka berhak meniru saya untuk meminta-minta" katanya, "saya harus mencontohkan bagaimana bertariggungjawab kepada diri sendiri. Harus mencari makan sendiri, maka dari piling yang saya buat sendiri
dan minum dengan gelas yang juga saya buat sendiri...."
Di mata kita dan cara berpikir kita sekarang, Muhammad dan Amatoa adalah pemimpin yang tolol. Mereka tidak tahu mumpung, tak tahu bagaimana posisi, jabatan, kekuasaan dan peluang.
Logika dan moralitas Muhammad terbalik bagi kita. Sebelurn menjadi nabi dan pemimpin, Muhammad membuktikan dulu perilaku yang terpercaya (al-amin), menjadi sales yang jujur dan merijaga setiap ucapannya. Kemudian sesudah jadi nabi malah berhenti berdagang. Padahal 'mestinya' menurut gaya hidup kita yang maju dan modernsesudah tercapai menjadi penguasa itulah justru peluang amat luas untuk menggunungkan omset dagang. Semakin tinggi kekuasaan di jalur birokrasi semakin banyak kesempatan fasilitas (dana, kemudahan-kemudahan, dominasi).
Tapi rupa-rupanya "perniagaan" Muhammad mernang lain. Ketika beliau diberi hadiah seekor kambing, lantas disembelih dan dibagi-bagikan ke seluruh tetangganya.
"Sudah habis semua, ya Rasul," kata Aisyah, "Yang tersisa buat kita tinggal leher kambing itu"..
"Tidak, Aisyah," sahut Nabi, "Yang tersisa menjadi milik kita adalah seluruhnya kecuali lehemya."
Tentu ini diketawam oleh ideolog konsep kepemilikan.
(Emha Ainun Nadjib/"Gelandangan Di Kamping Sendiri"/ Pustaka Pelajar/1995/PadhangmBulanNetDok)