Skip to main content

Ngajak Berantem Allah (Daur-II • 289)

Salah satu prestasi tingkat tinggi demokrasi dan freedom of speech yang dicapai oleh Indonesia era Now adalah kemerdekaan manusia untuk melecehkan Tuhan, menghina Nabi, menginjak-injak Islam dan mencanangkan bahwa biang dari segala bencana sejarah adalah Al-Qur`an dan Sunnah. Prestasi itu mencapai puncaknya ketika tak ada risiko apapun dari manusia, masyarakat dan ummat, juga dari Negara, sesudah melakukan penghinaan-penghinaan itu.

Bahkan puncak prestasi itu menjadi sempurna karena dilakukan di Negara yang sangat getol mencanangkan Pancasila sebagai dasar filosofi dan ideologinya. Semakin hari semakin kentara bahwa yang dimaksud Tuhan Yang Maha Esa di Sila Pertama itu bukanlah Allah swt. Sampai hari ini saya belum memperoleh bahan tentang siapa Tuhan Yang Maha Esa itu sebenarnya. Sementara saya hanya tahu ia bukan Allahu Ahad, [1] (Al-Ikhlas: 1) melainkan Tuhan Yang Maha Esa, sehingga ada dua-nya, tiga-nya dan seterusnya.

Allah swt sendiri mempersilakan, membuka pintu lebar-lebar. “Dan katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; maka barangsiapa yang ingin beriman, berimanlah. Dan barangsiapa yang ingin ingkar, maka ingkarlah“. [2] (Al-Kahfi: 29) Mungkin Tuhan Yang Maha Esa adalah roh, dzat, entitas atau eksistensi yang lain. Mungkin juga ia adalah materi, semacam benda, energi, atau frekuensi. Pun bisa arus, gelombang, nyala, api, sesuatu yang membuat sesuatu menjadi bergolak. Atau mematangkan. Atau membakar, menghanguskan dan memusnahkan.

Saya butuh bertemu dengan pakar yang saya mintai tolong untuk menjelaskan itu. Apalagi di Sila Pertama itu yang disebut bukan subjek, melainkan sifat. Padahal benderanya sangat tegas: Merah, bukan kemerahan. Dan Putih, bukan keputihan.

Tetapi di luar muatannya yang tidak jelas bagi bangsanya, saya tetap pegang Pancasila sebagai paket perjanjian kebangsaan di mana saya berada di dalamnya. Sebagaimana Merah Putih. Pokoknya bukan warna lain, jingga atau hitam. Perkara makna Merah itu apa dan arti Putih itu apa, itu ranah diskusi.

Maka Seger mencatat: Siapapun jangan pernah ragu-ragu untuk menegakkan demokrasi hidup dan kemerdekaan berpikir. Silahkan mem-bully Allah swt, menghina Nabi-Nya, serta mengubah, memalsukan, mengurangi, menambahi atau memanipulasi firman-firman-Nya. Adalah hak asasi setiap manusia untuk melakukan apa saja yang ia maui.

Mungkin ada yang omong-omong begini:
“Beriman silakan, kufur juga monggo, sebagaimana Allah swt mempersilakan —dengan risiko masing-masing”.

“Lho, jadi kafir itu boleh?”

“Boleh. Kan itu keputusanmu sendiri. Cuma yang kamu kufuri kan Allah swt, bukan saya. Jadi urusanmu sama Allah swt. Terserah Dia akan bersikap bagaimana. Kalau kamu berani berantem sama Dia, ya silakan”
“Ah mosok berantem lawan Allah…”

“Kan memang makin banyak orang, terutama para pemimpin tokoh-tokoh yang ngajak berantem Allah. Kalau saya ndak mau terlibat konflik dengan Dia. Beriman atau kafir itu bukan soal kemauan, tapi keniscayaan. Dia yang bikin saya, ya sudah saya ngikut saja sama Dia. Kecuali kalau saya yang bikin Dia, maka Dia jangan macem-macem sama saya, nanti saya bikin kaku lidahnya, atau saya cabut sehelai sarafnya, atau saya remote otaknya sampai gila, jalan telanjang di Thamrin dan Sudirman, atau pas pidato saya bikin gatal seluruh tubuhnya…”

“Tetapi bukankah ada yang jelas sudah masuk penjara karena dianggap atau diklaim sebagai menistakan Agama?”

“Setahu saya itu kasus tafsir, bukan nash. Ranahnya konotasi, bukan denotasi. Kalau yang denotasi, malah belum ada risiko. Menghukum atas kasus tafsir itu pun karena terdesak atau terpaksa. Institusi yang memasukkannya ke dalam penjara sudah mengupayakan secara maksimal untuk tidak memasukkannya ke dalam penjara. Dan sesudah terpaksa masuk penjara, juga tidak ada pengakuan intelektual bahwa ia bersalah. Juga tidak ada kerelaan kultural dan politik bahwa ia masuk penjara”.

Bangkok, 3 Desember 2017

Comments

Popular posts from this blog

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

HUTANG TUHAN

Tahun 1984 di Berlin saya dikursus privat oleh Senior (usia) yang tak bisa balik ke Indonesia sejak 1965 tentang Ekonomi Sosialis: hasilnya saya tidak lulus. Kemarin saya diceramahi oleh Junior (usia) tentang “sunnatullah” kapitalisme liberal: hasilnya lebih tidak lulus lagi, gagal paham dan tidak mampu move-on. Allah dalam “sunnatullah” di sini maksudnya uang. Uang adalah the Second God, tuhan kedua. Bagi Negara ataupun manusia, hidup adalah “membangun reputasi di hadapan sumber keuangan”. Keselamatan adalah “mematuhi kondisi yang ditetapkan fund manager”. Jalan menuju sukses adalah “menunjukan performa terbaik, supaya investor masuk, menghutangi kita tuhan”. Sudah terlanjur tua renta saya baru timik-timik mulai sangat sedikit paham bahwa hidup adalah keseimbangan berlayar di atas gelombang hutang-piutang. Hidup adalah menjaga posisi di atas ombak sebab-akibat keuangan yang berputar dan dinamis: bukan soal yang kau makan itu milikmu atau bukan, melainkan tetap bisa makan atau tid...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...