Skip to main content

Nada Mayor untuk Meminorkan (Daur-II • 292)

Seger tertawa dan bernyanyi “do re mi fa sol la si do”, nadanya naik, kemudian turun: “do re mi fa sol la si do…

Junit menyahut: “a b c d e f g…v w x y z… sekarang aku tahu bagaimana a b c…

Jitul tak mau kalah: “Ahad Itsnain Tsulatsa Arbi’a Khamis Jum’ah Sabta…”, ia tertawa, “hari keenam disebut Jumat, tidak meneruskan angka Arbi’a dan Khamis, karena sesudah lima hari kerja, dianjurkan rekap dan rembug kolektif (jum’ah), lantas kontemplasi dan tafakur di hari Sabat (Sabtu), terus kerja lagi di hari pertama: Ahad. Lha kok pada hari Ahad malah libur…”

Tentu saja Toling tidak bisa menahan diri. Ia berjoget-joget: “Alif difathah a alif dikasroh i alif didhommah u… hono coroko, doto sowolo, podho joyonyo, monggo bothongo bali podho joyonyo monggo bothongo…pahing pon wage, kliwon legi, iku dino pasaran tumrap wong Jowo…

Seger bicara serius: “Pasti kita menghormati semua ijtihad atau kreativitas pemahaman waktu yang dilakukan oleh berbagai bangsa. Tetapi kenapa pembelajaran kita harus dimulai dari Do? Kenapa tidak Ho, misalnya, atau Alif atau Ji? Apakah karena Do lebih bergengsi dibanding Ji? Sebagaimana Alif Allah dirasa lebih kuno dibanding A=Apple? ”

Tarmihim lagi yang menjawab: “Mungkin Mbah Sot tidak tega kita menjadi bangsa Pahing terus. Beliau berharap kita mulai belajar agar kelak menjadi bangsa yang Legi…”

“Tidak terlalu nyambung, Pakde, meskipun bisa paralel”, sahut Junit.

“Apakah pada tahapnya nanti pembelajaran Do tidak hanya sampai ke Si, tetapi mengaplikasi menjadi Do Bahasa Inggris?”, Seger mengejar.

Tarmihim hanya tersenyum. “Yang penting lelaku Do dulu lah…”, katanya, “Kata Mbah Sot, Do ini hanya salah satu gerbang metode. Bisa cari dan pakai gerbang lainnya yang berposisi Ibu Ilmu. Coba sambil menghayati Do, cari bahan-bahan bagaimana para Ulama menguraikan kenapa Al-Fatihah disebut sebagai Ibu Qur`an. Ummul Kitab. Induk pengetahuan. Coba urut kata dan kalimatnya, kenapa Bi-ismi adalah induk, kenapa Rahman dan Rahim adalah pangkal, kenapa pengulangan dua karakter utama itu adalah titik pijak, dan urut sampai tartil”. [1] (Al-Fatihah 1-7)

“Nanti pasti mampir di Babul ‘Ilmi untuk memasuki Madinatul ‘Ilmi ya Pakde”, Junit menyahut.
“Harus”, kata Brakodin, “orang beramai-ramai, berkerumun dan berlari kesana kemari di kota raya ilmu pengetahuan, tapi salah memasuki pintunya. Sehingga mereka tidak punya ukuran apa beda antara kota raya ilmu dengan rimba raya pengetahuan…”

“Saya ingat Markesot bilang bahwa sangat aneh manusia-manusia yang merasa paling beradab sekarang ini selalu mengutuk hukum rimba”, Sundusin menambahkan, “padahal hukum rimba adalah habitat, organisme dan metabolisme alamiah yang terbaik, karena diciptakan oleh Tuhan.

Selalu berlangsung dalam keseimbangan dan ekosistemik. Sementara peradaban manusia meniru-nirunya tanpa pernah benar-benar berhasil. Manusia berpikir bahwa mereka paling pandai dan paling berkuasa, padahal prestasi manusia di setiap kurun peradaban adalah menciptakan ketimpangan dan ketidakseimbangan. Sehingga tidak pernah tidak hancur pada akhirnya…”

“Sudahlah”, kata Tarmihim lagi, “lakukan saja belajar Do. Supaya kalian tidak ikut-ikut meleset ilmu ketika bicara tentang pribumi, asing-aseng, pluralisme, liberal, radikal, intoleran, makar. Hahaha…dari mana mereka pinjam kosa kata ‘makar’ itu? Yang lantas di-DO-DO-kan dengan nada mayor tapi untuk meminorkan?

Semarang, 6 Desember 2017

Comments

Popular posts from this blog

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

HUTANG TUHAN

Tahun 1984 di Berlin saya dikursus privat oleh Senior (usia) yang tak bisa balik ke Indonesia sejak 1965 tentang Ekonomi Sosialis: hasilnya saya tidak lulus. Kemarin saya diceramahi oleh Junior (usia) tentang “sunnatullah” kapitalisme liberal: hasilnya lebih tidak lulus lagi, gagal paham dan tidak mampu move-on. Allah dalam “sunnatullah” di sini maksudnya uang. Uang adalah the Second God, tuhan kedua. Bagi Negara ataupun manusia, hidup adalah “membangun reputasi di hadapan sumber keuangan”. Keselamatan adalah “mematuhi kondisi yang ditetapkan fund manager”. Jalan menuju sukses adalah “menunjukan performa terbaik, supaya investor masuk, menghutangi kita tuhan”. Sudah terlanjur tua renta saya baru timik-timik mulai sangat sedikit paham bahwa hidup adalah keseimbangan berlayar di atas gelombang hutang-piutang. Hidup adalah menjaga posisi di atas ombak sebab-akibat keuangan yang berputar dan dinamis: bukan soal yang kau makan itu milikmu atau bukan, melainkan tetap bisa makan atau tid...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...