Skip to main content

PSEU-DO-HAM (Daur-II • 296)

Anak-anak muda itu ditertawakan oleh Sundusin. “Sebenarnya”, katanya, “orang tidak mengerti Do sama sekali juga tidak masalah. Asalkan hidup dan perilakunya berada tepat pada Do ketika memang seharusnya Do. Dan berada di La Si atau koordinat apapun tatkala semestinya memang demikian”

Kalau alam, hewan dan Malaikat selalu pada kewajaran Do sebagaimana Tuhan mengonsepnya langsung. Hanya manusia, yang karena diberi ruang demokrasi dan kemandirian untuk mengambil keputusan, maka ia bisa melakukan berbagai penyelewengan: seharusnya Do si manusia malah Sol, misalnya. Manusia diberi ruang untuk berdusta, memanipulasi, berpura-pura, menjebak sesamanya, memalsukan atau membikin topeng Do padahal yang di baliknya adalah La.

Sesungguhnya, masalah utama pada manusia bukan ilmu. Mungkin akhlaq, atau aqidah, meskipun antara ketiganya bisa saling berdialektika dan sebab-mengakibatkan satu sama lain. Anjing tidak mungkin memiliki alat untuk memahami Do, tapi ia tidak pernah berada di selain Do kalau “qadla dan qadar”-nya memang Do. Beruang atau Bajing tidak pernah mengambil, mengonsumsi atau melahapi suatu konsumsi lebih dari yang dibutuhkannya. Bahkan Kadal dan Tokek, lebih setia kepada Do dan selalu meletakkan diri pada presisi gelombang hidupnya.

Berbeda dengan manusia yang sangat berbakat untuk hina karena kecurangannya. Berkecenderungan untuk rendah derajat karena ditawan oleh kepentingan, nafsu dan ambisinya. Manusia, bersama Jin, adalah dua makhluk yang dianugerahi kebebasan beserta perangkat-perangkat untuk bebas.

Dan karena manusia sangat hobi untuk memenjarakan dirinya di dalam kesempitan dan kedangkalan, sangat suka mengkonsumsi hal-hal yang rendah dan hina, maka manusia sangat kreatif untuk mencitrakan La Si Sol sebagai seolah-olah Do. Dan itulah modal utama manusia di dalam perebutan kekuasaan politik, pemalsuan eksistensi sosial budaya, serta di wilayah-wilayah manapun tempat ia menipu dan menganiaya dirinya sendiri.

Manusia adalah lukisan yang tidak patuh kepada pelukisnya. Manusia adalah lukisan yang mengambil keputusan sendiri apa warna yang disukainya, garis, guratan, cuatan dan tekstur yang dinafsuinya. Manusia adalah burung yang nekat menggonggong karena dengan menggonggong lah ia memperoleh keuntungan pribadi. Manusia adalah anjing yang pasang baliho dan poster-poster di mana ia mengumukan kicauan dan kokoknya, padahal ia bukan burung maupun ayam.

Landasan nilai dan substansi berpikir seluruh peradaban modern ummat manusia di muka bumi, yang dirintis pada abad 14 dan memuncak pada abad 20-21 saat ini, ada dua. Pertama, manusia yang menciptakan alam semesta dan dirinya sendiri. Kedua, maka desain manajemen hidup dan pembangunan peradabannya adalah manusia merasa memiliki Hak Asasi, sehingga atas kemauan dan ukuran-ukuran manusia pula segala sesuatu diselenggarakan. Nanti satu persatu manusia akan tiba pada hari di mana mereka terpojok untuk mengakui bahwa yang ada padanya hanyalah Pseudo Hak Asasi Manusia.

Para pegawai Allah menemui mereka untuk menyampaikan pertanyaan dan pernyataan-Nya: “Kamukah yang menciptakannya, atau Kamikah yang menciptakannya?[1] (Al-Waqi’ah: 59). “Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran[2] (Al-Qamar: 49)Biarkanlah Aku bertindak terhadap orang yang Aku telah menciptakannya sendirian”. [3] (Al-Muddatstsir: 11)

Jakarta, 10 Desember 2017

Comments

Popular posts from this blog

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

HUTANG TUHAN

Tahun 1984 di Berlin saya dikursus privat oleh Senior (usia) yang tak bisa balik ke Indonesia sejak 1965 tentang Ekonomi Sosialis: hasilnya saya tidak lulus. Kemarin saya diceramahi oleh Junior (usia) tentang “sunnatullah” kapitalisme liberal: hasilnya lebih tidak lulus lagi, gagal paham dan tidak mampu move-on. Allah dalam “sunnatullah” di sini maksudnya uang. Uang adalah the Second God, tuhan kedua. Bagi Negara ataupun manusia, hidup adalah “membangun reputasi di hadapan sumber keuangan”. Keselamatan adalah “mematuhi kondisi yang ditetapkan fund manager”. Jalan menuju sukses adalah “menunjukan performa terbaik, supaya investor masuk, menghutangi kita tuhan”. Sudah terlanjur tua renta saya baru timik-timik mulai sangat sedikit paham bahwa hidup adalah keseimbangan berlayar di atas gelombang hutang-piutang. Hidup adalah menjaga posisi di atas ombak sebab-akibat keuangan yang berputar dan dinamis: bukan soal yang kau makan itu milikmu atau bukan, melainkan tetap bisa makan atau tid...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...