Skip to main content

IN DO NESIA (Daur-II • 294)

Karena setiap titik bisa menjadi Do. Karena setiap koordinat bisa berposisi Do. Karena setiap ungkapan bunyi bisa berperan Do. Juga setiap kata bisa beraktualisasi Do. Dan itu tergantung pada keterkaitan interval-intervalnya. Tergantung pada konteksnya, spektrum tematiknya. Setiap dan semua bisa menjadi Do, Re, Mi, Fa, Sol, La maupun Si.

Maka “Allahu Akbar” pun bisa berposisi Do, Re, Mi, Fa, Sol, La ataupun Si. Teriakan Allahu Akbar bisa bernuansa ketakjuban dan rasa syukur. Bisa juga tampil sebagai ancaman yang mengerikan. Pun tidak mustahil ia aktualisasi rutin orang sedang melakukan shalat, takbiran Idul Fitri atau Idul Adlha.

Paralel dengan itu “Pancasila” bisa menaikkan adrenalin nasionalisme. Tapi bisa juga memancarkan kegeraman atau amarah kepada siapa saja yang dimaksudkan diam-diam di balik teriakan Pancasila.

Demikian pula Merah Putih bisa menjadi lambang pengayoman bagi Hijau Coklat Kuning dan warna-warna lain. Atau justru merupakan peringatan keras kepada siapa saja yang dituduh tidak Merah Putih.

Bagi suatu bangsa dan kepemimpinan atau pemerintahan yang tidak mengajak rakyatnya membangun pemahaman proporsional atas hakikat dan manajemen Do, kata apapun yang diucapkan oleh yang sedang berkuasa — radikalis, intoleran, makar, anti Pancasila, anti Bhinneka Tunggal Ika — akan tidak memancarkan dan menghasilkan kelegaan, rasa aman dan kegembiraan bersama. Melainkan bisa sebaliknya: rasa tidak dikehendaki, rasa dimusuhi, rasa dibuang.

Kalau teriakan “Intoleran, Radikalis, anti-Pancasila” muncul dari wajah-wajah yang melotot, bersamaan dengan wajah-wajah lain yang juga tidak tersenyum yang memekikkan “Allahu Akbar, Pribumi, Asing Aseng” — maka seluruh bangsa ini akan terjungkal-jungkal dan terperosok ramai-ramai memasuki jurang dan lingkaran setan. Indonesia menjadi tidak lagi satu kata, melainkan tercerai berai menjadi In, Do dan Nesia. Berikutnya setiap huruf yang semula menyusun persatuan kesatuan Indonesia, menjadi terpecah belah I dan n dan d dan o dan n dan e dan s dan i dan a.

Huruf-huruf itu tetap pura-pura bisa ditulis di papan-papan nama atau di kertas undang-undang sebagai Indonesia. “Tetapi permusuhan antara sesama mereka adalah sangat hebat. Kamu kira mereka itu bersatu, sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tidak mengerti”. [1] (Al-Hasyr: 14) Antar kelompok diam-diam ingin saling memusnahkan. Antar Parpol bergembira oleh kehancuran lainnya. Antar golongan mensyukuri kehinaan golongan lainnya. Siapa dan yang mana saja terpuruk, akan ditambahi kutukan dan hinaan.

Anak-anak muda itu bertanya: “Andaikan generasi kami tekun memahami dan menghayati hakikat Do, apa artinya untuk Indonesia yang begini luas? Kami bukan siapa-siapa bagi Negara Besar dan Bangsa dahsyat ini. Jumlah kami pun hanya 0,000001 persen”.

Tarmihim menjawab: “Mbah kalian Markesot melihat bahwa sampai hari ini yang sebaiknya kita lakukan adalah: “Serulah manusia kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. [2] (An-Nahl: 125)

Bil-hikmah, bukan bil-haq”, tambahnya, “dengan kebijaksanaan, bukan dengan kebenaran. Sebab Do saja kita belum mampu mengelola, apalagi kebenaran yang sangat-sangat luas, di antara yang relatif dengan yang absolut”.

Kemudian Brakodin menegaskan: “Nanti akan datang hari di mana “yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap”. [3] (Al-Isra`: 81)

“Kapan itu kira-kira, Pakde?”, tanya Gentholing, yang paling kurang sabar di antara anak-anak muda itu.

Sundusin yang menjawab: “Amhilhum ruwaida”, [4] (At-Thariq: 17) sambil tertawa.

Jakarta, 8 Desember 2017

Comments

Popular posts from this blog

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

HUTANG TUHAN

Tahun 1984 di Berlin saya dikursus privat oleh Senior (usia) yang tak bisa balik ke Indonesia sejak 1965 tentang Ekonomi Sosialis: hasilnya saya tidak lulus. Kemarin saya diceramahi oleh Junior (usia) tentang “sunnatullah” kapitalisme liberal: hasilnya lebih tidak lulus lagi, gagal paham dan tidak mampu move-on. Allah dalam “sunnatullah” di sini maksudnya uang. Uang adalah the Second God, tuhan kedua. Bagi Negara ataupun manusia, hidup adalah “membangun reputasi di hadapan sumber keuangan”. Keselamatan adalah “mematuhi kondisi yang ditetapkan fund manager”. Jalan menuju sukses adalah “menunjukan performa terbaik, supaya investor masuk, menghutangi kita tuhan”. Sudah terlanjur tua renta saya baru timik-timik mulai sangat sedikit paham bahwa hidup adalah keseimbangan berlayar di atas gelombang hutang-piutang. Hidup adalah menjaga posisi di atas ombak sebab-akibat keuangan yang berputar dan dinamis: bukan soal yang kau makan itu milikmu atau bukan, melainkan tetap bisa makan atau tid...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...