Skip to main content

Salah Terkam (Daur-II • 300)

“Tulisan ini adalah Halaqah ke 300. Di luar yang 309 dan 122.  Mulai besok kita akan ambil nafas panjang dulu sebelum memasuki yang 9 satu persatu. Apakah Allah memperjalankan kita. Dengan ratusan Halaqah itu. Dengan berjuta kemesraan di ribuan titik-titik itu. Untuk merenangi Ma’lamah saja, atau mengarungi Ma’rafah, kemudian membukakan pintu untuk menghamparkan Ma`dabah: kita belum akan tahu. 2018-2019 mungkin lebih medebarkan dibanding yang kita duga, meskipun kita tidak pernah bermaksud berada di dalamnya”.

Markesot bilang kita semua ini “salah terkam”. Tapi jangan terlalu percaya. Jangan berpikir lurus, linier, flat dan lugu. Kandungan maksudnya pasti tidak di dua kata itu. Perlu pola pikir lipatan dengan tikungan-tikungannya. Supaya besok kita tidak terlalu terkejut.

“Ibarat harimau”, pesan Markesot kepada sahabat-sahabat dan anak cucunya, “kita ini salah terkam. Umpama Garuda, kita salah sambar. Sebagai ikan, kita salah kolam. Bak angin, kita salah badai. Atau kita adalah api yang salah sulut.”

“Kita besar kepala merasa sedang menapaki tahap “Yakadu zaituha yudli’u walau lam tamsashu naar”. [1] (An-Nur: 35) Kita merasa akan berenang terbang di semesta “Nurun ‘ala Nur, Nur ‘ala Nur, Nur ‘ala Nur…” [2] (An-Nur: 35). Ternyata kita tergeletak di tepi jalan, terkapar-kapar, terlapar-lapar, tanpa seorang pun menoleh ke arah kita…”

“Sebagaimana sampai beberapa detik sebelum maut, belum akan kita tatap presisi ujung Shirathal Mustaqim, meskipun arah Sabil sudah kita tempuh, koridor Syari’ah sudah kita disiplini, dan Ijtihad Thariqah sudah kita geluti dan kreatifi. Apa itu semua gerangan?”

“Sangat banyak kalimat yang tidak kita jelaskan, terangkan atau uraikan. Karena kita rendah diri apakah ada seseorang, kecuali para sahabat dan anak cucuku, yang hidupnya memerlukan kejelasan dan uraian itu. Sangat banyak idiom, istilah dan kata yang tidak kita terjemahkan. Karena kita tidak besar hati untuk menganggap bahwa ada manusia di Negeri ini yang membutuhkannya”

“Sangat banyak rangkaian mata rantai pengertian yang kita penggal atau tidak kita teruskan ketersambungannya. Karena kita sangat mafhum tidak ada huruf yang kita tuliskan yang menjadi bagian dari skala prioritas manusia-manusia di sekitar kita. Kita semua ini minggir dari rasa GR, tapi tetap juga terdesak ke petak GR yang lain: “Bada’al-Islamu ghariban wa saya’udu kama bada`a ghariban, fa thuba lil-ghuroba…” [3] (HR. Muslim). Siapa bilang kita sudah ber-Islam? Siapa percaya kita sudah meng-Islam? Siapa setuju kita adalah Muslim?”

“Kita memasuki wilayah nilai-nilai yang bukan minat kebanyakan orang. Kita mengembarai semesta makna-makna yang jauh berada di luar keperluan mainstream. Kita mendalami samudera arti dan hikmah yang tidak hanya berbeda, tapi juga bertentangan dengan pandangan hidup masyarakat dan kebanyakan ummat manusia. Kita adalah orang-orang bodoh yang menyingkir dari orang-orang pandai”

“Kita adalah kerumunan manusia dungu yang terserak di luar kalangan masyarakat mulia. Kita adalah gelandangan-gelandangan miskin di tengah bangsa-bangsa yang kaya raya. Kita adalah makhluk asing yang tidak mampu menikmati apa yang kebanyakan penduduk bumi merakusi dan menserakahinya”

“Tetapi dalam posisi seperti itu pun kita masih menghibur mereka dan bersikap bijaksana: dengan informasi ‘salah terkam’……Tetapi siapapun jangan coba-coba menerkam atau merayu. Bacalah ‘Aku’ Chairil Anwar. Dengarkan putra mahkota Bani Hasyim berkata: Lau wadla’asysyamsa fi yamini wal-qomaro fi yasari, lan atruka hadzal amr…”

“Kita sudah sangat teliti mengamati dan mengalami garak-garik (istilah Silat Minangkabau) perilaku peradaban sejak 700 tahun silam. Kita sudah hapal peta, strategi dan arah nafi atau nofi, serta sudah menemukan isbat atau sibatnya untuk kita antisipasi atau runtuhkan. Tetapi kita takut kepada kemudlaratan massal dan terikat oleh amrullah. Kita sudah lama menyimpulkan banyak katiko di tengah peta kekuasaan dan kesombongan manusia, banyak katiko untuk merespons konstelasi politik palsu. Bahkan sibat dan katiko itu kita peroleh dari titik-titik air hujan hidayah untuk wilayah kenegarawanan, kebudayaan, kemanusiaan sampai tartil, zarrah, tepung dan glepung”

“Tapi sampai hari ini, hingga detik ini, Allah asro bi’abdihi lailan. [4] (Al-Isra: 1) Allah meletakkan kita di sudut kegelapan, di lorong keremangan, di jalan sunyi…”.

Yogya, 14 Desember 2017

Comments

Popular posts from this blog

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

HUTANG TUHAN

Tahun 1984 di Berlin saya dikursus privat oleh Senior (usia) yang tak bisa balik ke Indonesia sejak 1965 tentang Ekonomi Sosialis: hasilnya saya tidak lulus. Kemarin saya diceramahi oleh Junior (usia) tentang “sunnatullah” kapitalisme liberal: hasilnya lebih tidak lulus lagi, gagal paham dan tidak mampu move-on. Allah dalam “sunnatullah” di sini maksudnya uang. Uang adalah the Second God, tuhan kedua. Bagi Negara ataupun manusia, hidup adalah “membangun reputasi di hadapan sumber keuangan”. Keselamatan adalah “mematuhi kondisi yang ditetapkan fund manager”. Jalan menuju sukses adalah “menunjukan performa terbaik, supaya investor masuk, menghutangi kita tuhan”. Sudah terlanjur tua renta saya baru timik-timik mulai sangat sedikit paham bahwa hidup adalah keseimbangan berlayar di atas gelombang hutang-piutang. Hidup adalah menjaga posisi di atas ombak sebab-akibat keuangan yang berputar dan dinamis: bukan soal yang kau makan itu milikmu atau bukan, melainkan tetap bisa makan atau tid...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...