Skip to main content

HARGA MATI NKRI (Seri Pancasila, 8)


NKRI Harga Mati adalah nasionalisme absolut. Ungkapan cinta total warganya kepada Indonesia. Orang yang mengucapkan NKRI Harga Mati bersedia mati untuk membayar cinta dan pembelaannya kepada Indonesia.

Kalau pakai “rasa” atau “jiwa”: cinta Indonesia benar-benar tidak ada matinya. Terutama pada rakyat. Kesejahteraan dan kegembiraan hidup membuat mereka semakin cinta kepada tanah airnya. Kefakiran dan penderitaan tidak membuat berkurang cinta mereka kepada Indonesia.

Sebagaimana suami istri. Kekayaan dan kebahagiaan sangat potensial membuat mereka makin cinta. Tapi kemiskinan dan kesengsaraan bisa justru makin merekatkan cinta mereka. Sebagaimana juga hidup ini sendiri, dengan jenis dialektika unik yang dikonsep oleh Tuhan. Rasa syukur karena kenikmatan hidup membuat manusia lebih dekat ke Tuhan. Tetapi cobaan, ujian, tekanan, sakit, duka dan galau, justru lebih efektif membuat manusia mendekat kepada Tuhannya.

Akan tetapi kalau titik pijak kita bukan “jiwa”, melainkan ilmu dan rasio: mulai ada rasa retak, rasa terbentur, muncul pecahan dan kepingan, atau keraguan dan frustrasi, di dalam diri kita. Misalnya, kita ambil jarak intelektual untuk menilai dan merumuskan: NKRI Harga Mati mengandung kelemahan Bahasa.

Mungkin Bahasa Indonesia memang masih remaja. Belum dewasa dan matang. Atau akal-bahasa atau rasio-kata kita semua yang masih keserimpet-serimpet di antara Bahasa dengan maknanya. Umpamanya kita transfer kata ‘aql’ dari Bahasa Al-Qur’an menjadi ‘akal’ dalam Bahasa Indonesia.

Akal adalah persenyawaan dinamis antara mesin saraf otak hardware di batok kepala manusia, dengan pendaran software pasokan Tuhan, semacam gelombang elektromagnetik yang berpendar-pendar di sekitar ubun-ubun kita. Semakin tinggi kualitas software manusia, semakin banyak, tinggi dan mendalam ia mampu mengakses pendaran magnetik dari langit. Dalam Bahasa Agama disebut ilham, fadhilah, ma’unah, karamah dan wahyu – dengan level kompatibilitas yang berbeda-beda.

Akal adalah perangkat utama manusia sehingga ia lebih dari batu, pohon dan hewan. Ketika manusia merespons dan memperlakukan objek, bahan atau pengalaman, dengan menggunakan akal – kata kerjanya adalah “mengakali”. Padi diakali menjadi beras, beras diakali menjadi nasi, nasi diakali menjadi nasi uduk dan kebuli. Tetapi kata kerja “mengakali” dalam budaya Indonesia terpeleset menjadi sama dengan “ngibulin”, “meliciki”, “mencurangi”, bahkan “mendustai”.

Maka ketika Tuhan bertanya kepada manusia “afala ta’qilun”, apakah engkau tidak “mengakali”? Bangsa Indonesia menjawab: “Lho, ya Allah, kami ini selalu diakali dari era ke era, oleh rezim demi rezim….”

Jadi, kayaknya, kalau mau Revolusi Mental, tahap awal kayaknya harus secara nasional menyelenggarakan Revolusi Akal dulu. Revolusi Logika. Revolusi Paham Sebab Akibat. Revolusi Ngerti Hulu Hilir. Revolusi Dialektika Rasio.

Misalnya, kalau yang kita tempuh adalah mesin liberalisme, bahkan move-on jadi ultra-liberalisme, atau lebih advanced dari itu: maniak-liberalisme – maka NKRI jangan sampai harga mati. NKRI harus berperilaku luwes dan dinamis.

Untuk keperluan pasar global, UUD 45 silakan diamandemen. Harga Negara kita fleksibel kok. Mau saya payungi? Wani piro? Awas kalau ternyata pelit, invest cuma sedikit.

Kecuali kalau yang kita maksud dengan NKRI adalah huruf N+K+R+I. Dan Harga Mati adalah h-a-r-g-a-m-a-t-i, deretan huruf, parade bunyi dasar, bukan pun aksara. Berbedakah antara huruf dengan aksara? Tanya ke Pusat Bahasa.

Sebagaimana mungkin sebagian orang menyangka Pancasila adalah kumpulan huruf p, a, n , c, a, s, i, l dan a. Pancasila adalah kata. Pancasila adalah sebentuk goresan, yang kalau dipandang dengan mata bentuk dan rasa estetikanya beda dengan Bagawadgita, Kutaramanawa, Tajussalatin, Khilafah, Magna Carta, Tsaqafah Madaniyah atau gambar huruf-huruf Declaration of Independence. Maka ketika muncul sesuatu yang “rupa”-nya tidak persis sama dengan rupa deretan huruf Pancasila, disebut anti-Pancasila, dituduh makar kepada NKRI.

Padahal NKRI harga mati. Harga mati adalah harga yang tidak bisa ditawar lagi. NKRI tanpa plus atau minus. Rakyat sangat senang dan mantap dengan jargon KRI Harga Mati. Mereka selalu menantikan penjelasan yang dimaksud itu NKRI yang mana, yang tahap apa, yang tahun berapa. NKRI 1945 atau 1946, NKRI 1949 atau 1955, NKRI 1959 atau 1965, NKRI 1998 atau 2002. Ataukah NKRI lukisan wajahnya abstrak ekspresionis sekarang ini, yang seperti lukisan hasil telapak kaki dan tangan bayi dikasih cat dan ditempelkan ke kanvas.
   
Harga Yang Mati itu NKRI yang mana. Yang awal mula diproklamasikan, ketika bergeser-geser formula kenegaraannya, ketika tangannya terluka dan jari-jarinya terputus 1948 dan 1965. Atau NKRI sesudah kakinya diborgol dan tangannya diputus oleh Amandemen. Ataukah NKRI yang menjelang terpenggal lehernya sekarang ini. NKRI yang tak pakai celana dalam dan celana luarnya sudah dipelorotkan oleh tangannya sendiri atas perintah kepalanya. NKRI yang membungkuk-bungkuk mengemis-ngemis.

NKRI yang tidak percaya kepada kebesaran Indonesianya sendiri. NKRI yang kaya raya tapi berlaku sebagai fakir miskin di muka bumi. NKRI yang raksasa tapi melangkahkan kaki seperti orang kerdil. NKRI yang papan namanya Republik tapi dikuasai oleh Kerajaan-kerajaan yang berwajah Parpol. NKRI yang ber-KTP demokrasi namun bergantung pada Raja-Raja, Ratu-Ratu, Putri Raja, Raja Baru, yang bersaing satu sama lain sebelum menemukan kesepakatan untuk berkuasa bersama. Kerajaan-Kerajaan samar yang terpecah belah dalam kesatuan, dan pura-pura berkawan di panggung persatuan.

Harga Mati NKRI itu nilai absolut dunia akhirat yang mutlak tak bisa ditawar-tawar, ataukah harga “wani piro” yang kapan saja di mana saja silakan menawar. Harga Mati NKRI itu semacam di Amerika Serikat di mana Partai Republik adalah selalu Partai Republik dari atas sampai bawah. Ataukah NKRI dengan Partai Republik di-oposisi oleh Partai Demokrat, tetapi ada koalisi Repukrat atau Demoblik atau Publidem atau Mokrablik serta berbagai variabel lain di Pilkada, Pilgub, Pilbup, Pilwalkot, berdasarkan hukum pasar bebas “wani piro”? Ayo NKRI Harga Mati, bawa ke rakyat yang mana NKRI-nya.

NKRI itu padat atau cair? Pancasila itu lokal-formal atau universal? Kalau NKRI adalah proses sejarah yang memerlukan kreativitas, inovasi, pertumbuhan dan fenomenologi menuju sesuatu yang lebih baru, maka NKRI cair. Kalau cair, harganya tidak mati. Ataukah NKRI adalah evolusi dan transformasi? Seperti padi, gabah, beras dan nasi? Meskipun gabah, ia tetap padi? Meskipun sampai jadi nasi, ia tidak kehilangan jati diri padi? Meskipun misalnya bernilai 9, NKRI tidak menjadi bukan 8, bukan 7, bahkan juga tidak lantas bukan 1?

Apakah NKRI hari ini sudah nasi? Kalau ia sudah nasi, berasnya yang mana? Dan gabahnya, dan padinya? Apakah NKRI punya kesadaran winih padi? Sejak abad berapa benih padi NKRI? Ataukah NKRI berpikir bahwa ia lahir pada 1945? Andaikan NKRI hari ini bernilai 9, delapannya apa? 7-nya, 2 dan 1-nya apa? Ataukah NKRI adalah dirinya hari ini, dan bukan kontinuitas dari NKRI kemarin? Serta NKRI besok lusa tidak harus ada tali persambungan konsistensi dengan NKRI hari ini?

Apakah NKRI Harga Mati adalah harga mandeg? Adalah NKRI yang tak boleh berubah lagi? Sejak kapan NKRI mati dan tak boleh diubah lagi? Kalau dalam suatu demo besar di Jalan Thamrin atau di depan Istana Negara: generasi 1945 berjumpa dengan rombongan generasi 1966, dengan kumpulan generasi 1989, sekaligus juga barisan generasi 1998, ditambah gerombolan-gerombolan lain dari variabel-variabel sejarah generasi 1947, 1974, 2002, 2017 dan lain-lainnya – dan masing-masing gerombolan demo itu memekikkan jargon yang sama “NKRI Harga Mati!” – apakah mereka tidak tawur dan sampyuh brubuh bertempur satu sama lain? Karena sama-sama NKRI dan sama-sama Harga Mati tapi yang dimaksud berbeda-beda, bahkan bertentangan satu sama lain?

Hahahaha tidak. Sama sekali tidak. Kumpulan berbagai generasi itu tidak bertempur. Tidak bentrok. Tidak bertentangan. Tidak konflik. Karena bagi mereka masing-masing NKRI adalah N+K+R+I. Dan Harga Mati adalah h, a, r, g, a, m, a, t, i. Indonesia, Pancasila, Bhinneka Tunggal Ika, adalah parade huruf-huruf.

Tetapi tidak masalah. NKRI Harga Mati adalah urusan jiwa. Hal akal, rasio, logika, ilmu dan segala keruwetan itu, ntar dulu. Kita ini seperti Aremania: “Salam Satu Jiwa”.

Kalau praktiknya mungkin seperti di pasar, penjual selalu bilang harga pas, tapi diam-diam bisa ditawar juga. Kalau kita batal beli, terus ngeloyor pergi: kita dipanggil dan barang dikasih.

(Bersambung)
Emha Ainun Nadjib
29 Agustus 2017
#Khasanah

https://www.caknun.com/2017/harga-mati-nkri/

Comments

Popular posts from this blog

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

HUTANG TUHAN

Tahun 1984 di Berlin saya dikursus privat oleh Senior (usia) yang tak bisa balik ke Indonesia sejak 1965 tentang Ekonomi Sosialis: hasilnya saya tidak lulus. Kemarin saya diceramahi oleh Junior (usia) tentang “sunnatullah” kapitalisme liberal: hasilnya lebih tidak lulus lagi, gagal paham dan tidak mampu move-on. Allah dalam “sunnatullah” di sini maksudnya uang. Uang adalah the Second God, tuhan kedua. Bagi Negara ataupun manusia, hidup adalah “membangun reputasi di hadapan sumber keuangan”. Keselamatan adalah “mematuhi kondisi yang ditetapkan fund manager”. Jalan menuju sukses adalah “menunjukan performa terbaik, supaya investor masuk, menghutangi kita tuhan”. Sudah terlanjur tua renta saya baru timik-timik mulai sangat sedikit paham bahwa hidup adalah keseimbangan berlayar di atas gelombang hutang-piutang. Hidup adalah menjaga posisi di atas ombak sebab-akibat keuangan yang berputar dan dinamis: bukan soal yang kau makan itu milikmu atau bukan, melainkan tetap bisa makan atau tid...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...