Skip to main content

NEGERINYA PAK AMIN

Andaikan saya dipojokkan untuk mendefinisikan Muslim dan Mu`min, kelihatannya saya tidak menjawab Muslim adalah orang Islam, atau orang yang beragama Islam. Atau orang yang identitas Agamanya Islam. Juga bukan Mu`min adalah orang yang beriman.

Baru puas kalau saya menjawab “Muslim adalah manusia yang menyelamatkan”. Atau supaya lebih tegas: “Muslim adalah orang yang tidak mencelakakan”. Dan Mu`min adalah orang yang mengamankan. Kalau dikejar: menyelamatkan apa dan siapa? Saya akan menjawab: menyelamatkan dirinya dan semua manusia, dengan konsep keselamatan menurut Tuhan. Mengamankan apa dan siapa? Mengamankan nyawa sesama manusia, serta martabat dan hartanya.

Muslim adalah manusia yang mengerjakan Islam. Manusia subjeknya, Islam alatnya. Sabil arahnya. Syari` jalanannya. Thariq cara menempuh jalan. Shirath presisi ke titik tujuannya. Faktor utama kemusliman saya adalah manusia saya, kemanusiaan saya. Kalau manusia saya sudah manusia, sudah tidak hewan, maka Islam menuntun perjalanan kemanusiaan saya ke yang sejati, yang belum tentu bisa saya ketahui dengan menggunakan ilmu dan daya upaya kemanusiaan saya.

Pagi-pagi ketika mengantarkan anak ke Sekolah, cobalah dibatin pertanyaan ini: “Sekolah untuk anak-anak, ataukah anak-anak untuk Sekolah? Pendidikan untuk manusia ataukah manusia untuk pendidikan? Yang utama urusan pendidikannya atau urusan manusianya?”

Tataplah gedung Sekolah itu, layangkan pandangan ke gedung-gedung Kementerian sampai Dinas-dinas yang mengurusi pendidikan buat putra-putri kita. Coba jawab sendiri pertanyaan itu dengan menemukan faktanya di kerangka berpikir kependidikan yang berlangsung, kurikulumnya, budaya pengajarannya, primer-sekunder nilai yang terkandung dalam kebijakannya, rentang filosofi hulu-hilirnya, motivasi dan tujuan para pelaku pendidikan, yang putra-putri kita sudah kita percayakan kepada mereka.

Ketika sesekali melintas di jalan depan Istana Negara, Kantor Gubernur, Pendopo Kabupaten, atau bangunan-bangunan lain tempat Pemerintah menjalankan tugas yang diamanatkan oleh kita dan semua rakyat – ucapkan dalam hati pertanyaan: “Negara untuk bangsa, ataukah bangsa untuk Negara? Pemerintah untuk rakyat, ataukah rakyat untuk Pemerintah? Sistem politik untuk publik, ataukah publik untuk sistem politik? Demokrasi untuk manusia, ataukah manusia untuk demokrasi? Yang utama Demokrasinya ataukah manusianya?”

Tatkala engkau melintas dekat Masjid, Gereja, Kuil atau tempat ibadah lainnya, bertanyalah kepada dirimu sendiri, persilahkan akal mendayagunakan pikirannya untuk meneliti dan menemukan: “Agama untuk manusia, ataukah manusia untuk Agama? Pelaku kebenaran dan kebenaran itu Agamanya ataukah manusianya? Agama itu subjek ataukah manusianya yang subjek? Agama itu alatnya manusia, ataukah manusia alat Agama? Agama menjadi identitas manusia, ataukah identitas utama adalah manusia itu sendiri? Yang utama dan kelak berurusan dengan Tuhan: Agamanya ataukah manusianya?”

Semua teman saya di bumi menyebut saya seorang Muslim. Saya tidak pernah membantah demi sopan santun dan persaudaraan. Tapi bagi saya Islam bukan identitas. Orang tidak bisa menyimpulkan kemusliman saya melalui peci, qiro’ah Qur`an dan shalawat saya, jumpa di Jum’atan atau Maiyahan di sana sini. Sebab itu semua bisa merupakan penipuan atau penyamaran. Kalau saya berbuat baik, teman-teman Budha atau Kebatinan juga bisa melakukan kebaikan yang sama dengan yang saya lakukan. Maka bisa saja disimpulkan teman itu Muslim dan saya Budhist.

Bahkan kalaupun mereka mendengar saya bersyahadat dengan suara keras, tidak serta merta merupakan tanda pasti bahwa saya Muslim. Bisa saja saya pura-pura di depan mereka. Kalau mau memperdaya, saya bisa pakai gamis dan surban, hadir di pengajian, ikut jamaah shalat di Masjid, mendaftar di organisasi atau parpol yang dikenal sebagai lembaga Islam. Tetapi di balik itu perilaku saya hewan dan nafsu saya bara api neraka.

Islam saya terletak di bilik sunyi lubuk kalbu saya. Hanya Allah yang bisa melihat, mendengar dan memasukinya. Islam adalah perjanjian sangat pribadi antara saya dengan Tuhan, karena hanya Ia yang tahu kesungguhan saya, cinta dan kepatuhan saya. Islam tidak bisa dilihat. Bahkan bunyi musik pun tak bisa dilihat, melainkan didengar. Cantik tak tampak, kecuali hanya wajahnya. Cahaya tak terlihat, kecuali pantulan cahaya dari partikel-partikel ke mata kita.

Ketika Muhammad berusia belasan tahun, ia diuji oleh masyarakatnya, yang kemudian memberinya julukan “Al-Amin”: bisa dipercaya. Semua orang merasa aman kalau ada dia. Aman menitipkan barang, martabat dan nyawa kepadanya. Subjek manusia Muhammad dengan kualitas Al-Amin itulah yang membuat Khadijah menikah dengannya. Tetapi Al-Amin bujangan harus diuji oleh proses Al-Amin suami, Al-Amin kepala keluarga serta Al-Amin warga masyarakat – sampai Tuhan meluluskannya di usia 40. Muhammad yang Al-Amin sebagai individu, sebagai suami, kepala keluarga serta sebagai warga sosial inilah yang membuat ia oleh Allah dinilai cukup integritas dan kredibilitasnya, untuk ‘electable’ memperoleh anugerah wahyu Iqra` sebagai awal Al-Qur`an, panduan keselamatan bagi seluruh ummat manusia. Bahkan rahmatan lil’alamin.

Ketika Allah bersumpah dengan menyebut At-Tin: saya “curigai” itu pertanda tentang era Budha, pembebasan diri manusia dari keduniawian. Kemudian Az-Zaitun: itu ujian dari ancaman pembiasan antara bumi dengan langit, ruh dengan jasad, Tuhan dengan tuhan. Lantas Turi-sinina: ketegasan dan keteguhan orientasi keTuhanan di hadapan penuhanan diri Fir’aun dan ultra-hedonisme Qorun. Dan akhirnya Al-Balad Al-Amin: Negeri Muhammad Al-Amin. Negerinya Pak dan Bu Amin. Negeri manusia yang bisa dipercaya, oleh Tuhan, serta oleh semua makhluk dan segala jurusan.

Jadi, manusia dulu. Pendidikan demi manusia dulu. Negara, ideologi, politik dan pemerintahan untuk manusia dulu. Di abad 21 ini urusan satu kata Islam saja belum matang, ditambah masalahnya dengan kepingan Sunni, Syi’ah, NU Muhammadiyah, HTI, LDII, Gafatar, MTA. Belum lagi Gatholoco dan Dharmogandhul. Saudara-saudara kita berebut tulang yang padat, keras dan mudah melukai.

Manusia belajar dulu menjadi manusia. Belajar memanusiakan manusia. Berlatih menerima manusia. Membiasakan diri menyayangi manusia. Mentradisikan silaturahmi antar manusia. Mengendalikan kebenaran di dalam diri, menyebarkan kebaikan dan kebijaksanaan keluar diri. Sebab eksistensi dan identitas primer kita semua adalah manusia.

Islam memandu manusia untuk mengerti arah, jalan dan titik tujuan. Silahkan memilihnya atau menolaknya. Asalkan tetap berlaku dan berinteraksi sebagai manusia bersama sesama manusia. Islam bukan subjeknya. Bukan pelaku peradaban. Pelakunya adalah “ahsanu taqwim”, karya terbaik Allah, berupa manusia, yang Ia tegakkan untuk memandang lurus ke titik cahaya cinta-Nya.

Emha Ainun Nadjib
4 Agustus 2017
#Khasanah

Comments

Popular posts from this blog

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

HUTANG TUHAN

Tahun 1984 di Berlin saya dikursus privat oleh Senior (usia) yang tak bisa balik ke Indonesia sejak 1965 tentang Ekonomi Sosialis: hasilnya saya tidak lulus. Kemarin saya diceramahi oleh Junior (usia) tentang “sunnatullah” kapitalisme liberal: hasilnya lebih tidak lulus lagi, gagal paham dan tidak mampu move-on. Allah dalam “sunnatullah” di sini maksudnya uang. Uang adalah the Second God, tuhan kedua. Bagi Negara ataupun manusia, hidup adalah “membangun reputasi di hadapan sumber keuangan”. Keselamatan adalah “mematuhi kondisi yang ditetapkan fund manager”. Jalan menuju sukses adalah “menunjukan performa terbaik, supaya investor masuk, menghutangi kita tuhan”. Sudah terlanjur tua renta saya baru timik-timik mulai sangat sedikit paham bahwa hidup adalah keseimbangan berlayar di atas gelombang hutang-piutang. Hidup adalah menjaga posisi di atas ombak sebab-akibat keuangan yang berputar dan dinamis: bukan soal yang kau makan itu milikmu atau bukan, melainkan tetap bisa makan atau tid...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...