Skip to main content

MATI KETAWA CARA REFOTNASI(7)

Seri PadangBulan (90)
MATI KETAWA CARA REFOTNASI
Bagian 7
------------------------------------------------------------------------
Prosentase Ketergantunga kepada Negara, Alam dan Tuhan

"Apakah hidup Anda, kesejahteraan Anda, nafkah Anda, tergantung kepada negara dan pemerintah?"

"Sepenuhnya Tidak."

"Seberapa besar atau tinggi ketergantungan Anda kepada negara dan pemerintah?"

"Belum pernah dihitung."

Selain bergantung pada negara dan pemerintah, kita juga bergantung pada alam dan Tuhan. Karena kita punya kebun, masa krisis ini malah menguntungkan. Karena Anda aktif mendayagunakan tanah dan alam, maka tingkat gangguan krisis negara ini kepada kita menjadi tidak terlalu tinggi. Sementara itu kita juga sangat punya ketergantungan kepada Tuhan.

"Seberapa besar?"

"Belum pernah dihitung."

Kalau Anda nyopir taksi, pada jam tertentu Anda mangkal di tampat tertentu yang Anda perhitungkan banyak calon penumpang. Tapi kebanyakan waktu Anda pakai untuk keliling-keliling. Seseorang keluar dari sebuah gang pada detik tertentu, dan pada detik yang sama Anda lewat di depannya, sehingga ia memanggil Anda untuk naik taksi. Siapakah yang menentukan pertemuan-detik itu? Kalau Anda lewat tiga detik lebih cepat, maka penumpang itu akan menjadi rejeki taksi di belakang Anda. Siapakah yang menentukan pertemuan Anda dengan calon-calon penumpang. Siapakah yang mengatur berapa banyak detik-detik di mana calon penumpang melambaikan tangan memanggil taksi Anda.  

Comments

Popular posts from this blog

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

HUTANG TUHAN

Tahun 1984 di Berlin saya dikursus privat oleh Senior (usia) yang tak bisa balik ke Indonesia sejak 1965 tentang Ekonomi Sosialis: hasilnya saya tidak lulus. Kemarin saya diceramahi oleh Junior (usia) tentang “sunnatullah” kapitalisme liberal: hasilnya lebih tidak lulus lagi, gagal paham dan tidak mampu move-on. Allah dalam “sunnatullah” di sini maksudnya uang. Uang adalah the Second God, tuhan kedua. Bagi Negara ataupun manusia, hidup adalah “membangun reputasi di hadapan sumber keuangan”. Keselamatan adalah “mematuhi kondisi yang ditetapkan fund manager”. Jalan menuju sukses adalah “menunjukan performa terbaik, supaya investor masuk, menghutangi kita tuhan”. Sudah terlanjur tua renta saya baru timik-timik mulai sangat sedikit paham bahwa hidup adalah keseimbangan berlayar di atas gelombang hutang-piutang. Hidup adalah menjaga posisi di atas ombak sebab-akibat keuangan yang berputar dan dinamis: bukan soal yang kau makan itu milikmu atau bukan, melainkan tetap bisa makan atau tid...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...