Skip to main content

SELAMAT DATANG JUARAKU (Belajar Menjadi Indonesia)


Selamat datang Juaraku. Di semi final kalian bermain sangat bagus dan jauh lebih bagus dari kesebelasan Thailand yang akhirnya menjadi Juara AFF U-18 2017. Fakta persepakbolaan kalian melebihi Juara. Yang mengalahkan kalian sehingga tak bisa masuk final adalah fakta bahwa kehidupan ini lebih luas dari lapangan sepakbola.

Di luasnya kehidupan itu ada makhluk yang namanya “bola itu bundar”, ada Tuhan, ada nasib dan takdir. Di dalam tak terukurnya keluasan hidup itu, perbandingan antara kepastian dan kemungkinan adalah satu berbanding infinity. Kepastian hidup hanya berlangsung di beberapa hal, tapi segera ia digugurkan oleh kepastian berikutnya. Dan seluruh kepastian yang bisa dirangkum oleh pengetahuan dan ilmu manusia, adalah bagian yang sangat relatif dari kemungkinan-kemungkinan.

Saya menemukan sejumlah kepastian dalam proses pelatihan hingga pertandingan kalian. Kesungguhan, ketekunan, ketelatenan, pantang mundur, kedewasaan mental, tanggung jawab individual dan keberbagian kelompok, ketersambungan dengan Tuhan dan nilai-nilai yang jauh lebih luas dari sepakbola. Tetapi sebenarnya itu semua tidak terlalu istimewa, karena kalian adalah manusia, dan memang demikianlah seharusnya dan sewajarnya manusia.

Yang istimewa adalah bahwa kalian benar-benar anak-anak Indonesia. Sungguh-sungguh pemuda Indonesia. Mantap, teguh dan percaya diri sebagai prajurit Indonesia. Merawat kesadaran, sikap dan langkah sebagai patriot Indonesia. Kalian diajak oleh Coach Indonesia-Raya SjafRI untuk belajar kepada dunia, dengan tetap berdiri tegak sebagai pemuda Indonesia. Kalian berlatih nasionalisme di atas rerumputan lapangan sepakbola.

Dengan itu semua kalian adalah Juara. Sehingga kuucapkan selamat datang kembali ke tanah air Indonesia. Juara adalah siapa saja yang cinta dan setia kepada hakiki hidupnya. Terkadang kalian mengungguli kesebelasan lain, di saat berbeda mereka mengungguli kalian. Itu bukan parameter utama untuk menjadi juara. Orang yang menjalankan cara hidup sehat, bisa tiba-tiba meninggal. Gelandangan di jalanan yang menjalani hidup tidak memenuhi persyaratan kesehatan, bisa hidup lebih awet dibanding orang kaya yang nutrisinya mencukupi. Hidup tidak bermakna menang dan juara, mati tidak berarti kalah dan tidak juara.

Siapakah juara di antara tiga legenda tinju kelas berat dunia ini: Joe Fraizer pernah mengalahkan Muhammad Ali, tapi dihajar habis sampai terjengkang lima kali oleh George Foreman. Kemudian Foremen “munting” terputar badannya dan jatuh telentang oleh straight kanan Muhammad Ali. Tidak ada juara di antara mereka, atau mereka semua adalah juara.

Bikinlah turnamen sepakbola, tingkat dunia pun, dapatkan juara berdasarkan gol hasil pertandingan final, kasih piala dan seluruh dunia gegap gempita merayakannya. Sepuluh menit kemudian, pertandingkan kembali dua kesebelasan finalis itu, turunkan kembali ke lapangan. Sesudah 90 menit, apakah Anda dapatkan kembali juara yang sama seperti sebelumnya?

Status juara hanya berlaku satu sekon. Cobalah 90 menit pertandingan diperpanjang menjadi 120 menit, atau diperpanjang lagi sampai semua pemain tak lagi memiliki sisa tenaga untuk melanjutkan pertandingan, supaya kita dapatkan juara sejati. Tapi kalau juara sejati ditentukan oleh batas akhir tersedianya tenaga, batal kesejatiannya. Kalau sesudah pulih kembali tenaganya, kemudian dipertandingkan lagi, tidak bisa dipastikan bahwa juara pada detik yang tadi akan kembali juara pada detik berikutnya.

Juara adalah animasi pada batas ruang dan waktu yang disepakati. Sebuah kesebelasan berbangga menjadi juara, dan lainnya bersedih karena tidak menjadi juara – sesungguhnya itu berlaku hanya karena waktu kita sepakati untuk berhenti. Jika permainan sepakbola harus bersetia kepada mengalirnya waktu, kepada tak pernah berhentinya waktu, pada hakikatnya tak pernah ada juara.
Kesejatian juara hanya terletak di dalam cinta dan kesetiaan. Sebuah lagu dari NTT menggambarkan sangat indah: “Baik tidak baik, Tanah Timor lebih baik”. Kesejatian juara hanya ada di dalam nasionalisme. “Kalah atau menang, Indonesia selalu menang”. Asalkan Indonesia benar-benar Indonesia. Asalkan diri Indonesia bersetia menjadi diri Indonesia. Sepanjang kepribadian Indonesia tidak rendah diri sehingga merasa bahwa yang bukan Indonesia selalu lebih baik dari Indonesia. Sepanjang manusia Indonesia, pesepakbola Indonesia, ikhlas dan mantap sebagai manusia pesepakbola Indonesia, percaya diri atas potensialitas, ilmu, keterampilan dan strategi Indonesia – maka Indonesia selalu juara.

Ini bukan subjektivitas atau apalagi subjektivisme. Bukan sekadar “meskipun istri tetangga secara objektif lebih cantik, tapi istriku tetap paling cantik bagiku”. Ini soal maksimalisasi eksplorasi diri. Ini soal konfidensi. Soal kepercayaan sebagai diri sendiri. Ilmu, wacana, strategi dan semua hal tentang sepakbola, politik Negara atau pembangunan bangsa – bisa kita pelajari dari sudut dunia mana pun. Tetapi kalau pembelajaran itu mengubah subjek kedirian Indonesia menjadi bukan Indonesia, melainkan menjadi Barat atau Utara, maka selamanya Indonesia menjadi ekor dari yang bukan Indonesia.

Selamat datang juaraku. Selamat datang semburat cahaya mercusuar masa depan Indonesia. Selamat datang patriot-patriot Indonesia. Aku, Bapak Ibumu, bangsamu, masyarakatmu, Negara dan Pemerintahmu, belajar kepada kalian untuk lebih percaya diri sebagai Indonesia. Belajar untuk lebih jujur dan ikhlas kepada diri keindonesiaan kami. Belajar mendesain pembangunan hari ini dan program masa depan, yang mengandalkan kenyataan diri Indonesia, akal dan hati manusia Indonesia, budaya dan keberadaban secara Indonesia.

Yogya, 18 September 2017
Emha Ainun Nadjib
#Khasanah

 https://www.caknun.com/2017/selamat-datang-juaraku/




Comments

Popular posts from this blog

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

HUTANG TUHAN

Tahun 1984 di Berlin saya dikursus privat oleh Senior (usia) yang tak bisa balik ke Indonesia sejak 1965 tentang Ekonomi Sosialis: hasilnya saya tidak lulus. Kemarin saya diceramahi oleh Junior (usia) tentang “sunnatullah” kapitalisme liberal: hasilnya lebih tidak lulus lagi, gagal paham dan tidak mampu move-on. Allah dalam “sunnatullah” di sini maksudnya uang. Uang adalah the Second God, tuhan kedua. Bagi Negara ataupun manusia, hidup adalah “membangun reputasi di hadapan sumber keuangan”. Keselamatan adalah “mematuhi kondisi yang ditetapkan fund manager”. Jalan menuju sukses adalah “menunjukan performa terbaik, supaya investor masuk, menghutangi kita tuhan”. Sudah terlanjur tua renta saya baru timik-timik mulai sangat sedikit paham bahwa hidup adalah keseimbangan berlayar di atas gelombang hutang-piutang. Hidup adalah menjaga posisi di atas ombak sebab-akibat keuangan yang berputar dan dinamis: bukan soal yang kau makan itu milikmu atau bukan, melainkan tetap bisa makan atau tid...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...