Skip to main content

KEDAULATAN MANUSIA MAIYAH

  1. Maiyah adalah cara belajar kehidupan yang unik.

  1. Keunikan tersebut terlihat pada beberapa ciri yang melekat pada Maiyah, di antaranya: ‘Tidak bersifat otoritatif’, ‘Motif berkumpulnya yang menegasikan motif-motif yang ada selama ini’, dan ‘dibangunnya semangat mencari apa yang benar, bukan siapa yang benar.’

  1. Yang dimaksud ‘Tidak bersifat otoritatif’ adalah di dalam Maiyah siapa saja bisa dan boleh berbicara. Berbeda pada komunitas atau organisasi lainnya, yang lazimnya orang disodori ‘ini lho yang benar’, di Maiyah semua teori dilontarkan. Masing-masing orang yang akan mengujinya di dalam pengalaman hidup. Teori-teori, pengetahuan, dan pandangan yang dilontarkan sebagai diskursus untuk mencari kebenaran masing-masing.

  1. Dalam proses pembelajaran yang unik itu, maiyah cenderung menempatkan kasus perkasus hanya sebagai contoh, sehingga tidak terjeseret dalam wilayah pro-kontra, mendukung-menolak, memihak-memusuhi, setuju-tidak setuju.

  1. Yang dimaksud ‘Motif berkumpulnya menegasikan motif-motif yang ada’ adalah jamaah tidak berkumpul di dalam Maiyah dengan motif yang ada pada lazimnya orang berkumpul, misalnya untuk mencari surga, mencari kekuasaan, mencari keuntungan ekonomi, atau kesamaan nasib, sebab Maiyah tidak menjanjikan semua itu. Pada faktanya, setiap jamaah memiliki motifnya masing-masing (bisa termasuk motif-motif tersebut di atas), tetapi yang mengikat mereka adalah ‘kebersamaan.’ Di dalam kebersamaan itu yang berlangsung adalah pengayaan wacana dan ilmu. Pengalaman masing-masing menentukan apa yang diperoleh. Dan karena itu, mereka tidak memperdebatkan ilmu, karena mereka menikmati kekayaan ilmu, sehingga yang tumbuh di dalam diri mereka adalah kelapangan jiwa dan toleransi, dan mampu menampung semuanya.
  
  1. Di dalam Maiyah, jamaah dinalurikan untuk ‘tidak mencari siapa yang benar tapi apa yang benar’. Lazimnya, ketika menerima informasi, orang akan memiliki reaksi ‘benar’ atau ‘salah’ dan kemudian ‘percaya’ atau ‘tidak percaya’. Dalam hal ini, Maiyah mendorong agar setiap individu mengolahnya (dengan metodologi yang mengandung prinsip ‘tidak mencari siapa yang benar tapi apa yang benar’) sedemikian rupa secara berdaulat sehingga ketika ia sampai pada suatu kesimpulan, itu tetap berdasarkan kedaulatan dan kemandiriannya. Di sini, siapapun bisa menjadi guru dan teori apapun diterima sebagai wacana untuk masing-masing individu menemukan kebenaran. Pemahaman dan pengalaman hidup yang akan menguji kebenaran itu. Demikianlah, Maiyah memberi jarak antara wacana dan kepercayaan akan kebenaran, sehingga masing-masing individu memiliki ruang untuk mengolah semua informasi yang diperoleh untuk menjadi kebenaran yang diyakininya.

  1. Output dari semua proses di atas adalah kedaulatan manusia Maiyah. Yaitu manusia yang berkebersamaan. Di dalam kebersamaan itu, mereka membangun naluri-naluri dasar. Mereka mengidentifikasi, lalu memiliki kesimpulan, yang boleh jadi sama. Kebersamaan di dalam Maiyah tersebut membantu memperkaya view yang akan menumbuhkan dan meneguhkan kedaulatan individu tersebut.

  1. Di dalam maiyah tidak ada kewajiban untuk patuh terhadap figur. Jika pun masing-masing jamaah Maiyah merasakan dan menemukan keharusan untuk patuh terhadap figur semata didasarkan dan merupakan hasil dari proses kedaulatan individu.


  1. Aktifitas ber-Maiyah berangkat dari keseharian masing-masing individu. Sehingga sikap bermasyarakat orang-orang maiyah tidak berbasis isu tapi berakar pada permasalahan hidup yang dihadapi sehari-hari di lingkungannya.

Comments

Popular posts from this blog

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

HUTANG TUHAN

Tahun 1984 di Berlin saya dikursus privat oleh Senior (usia) yang tak bisa balik ke Indonesia sejak 1965 tentang Ekonomi Sosialis: hasilnya saya tidak lulus. Kemarin saya diceramahi oleh Junior (usia) tentang “sunnatullah” kapitalisme liberal: hasilnya lebih tidak lulus lagi, gagal paham dan tidak mampu move-on. Allah dalam “sunnatullah” di sini maksudnya uang. Uang adalah the Second God, tuhan kedua. Bagi Negara ataupun manusia, hidup adalah “membangun reputasi di hadapan sumber keuangan”. Keselamatan adalah “mematuhi kondisi yang ditetapkan fund manager”. Jalan menuju sukses adalah “menunjukan performa terbaik, supaya investor masuk, menghutangi kita tuhan”. Sudah terlanjur tua renta saya baru timik-timik mulai sangat sedikit paham bahwa hidup adalah keseimbangan berlayar di atas gelombang hutang-piutang. Hidup adalah menjaga posisi di atas ombak sebab-akibat keuangan yang berputar dan dinamis: bukan soal yang kau makan itu milikmu atau bukan, melainkan tetap bisa makan atau tid...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...