Skip to main content

TOMBO ATI, PAPPERANDANG ATE, BULAN PRIANGAN....

Seri PadangBulan (121)

TOMBO ATI, PAPPERANDANG ATE, BULAN PRIANGAN....

Berita dari Sulawesi Selatan :

------------------------------------------------------------------------

Semangat berdialog dengan hati dan mengedepankan kebenaran nurani tampaknya terus berkembang di berbagai wilayah. Pola ini kini terus berperang melawan pola kebencian, saling hujat menghujat yang terus berkembangbiak di era reformasi.

Awalnya adalah sebuah dialog 50 orang yang ingin mendiskusikan sebuah masalah yang sedang terjadi di masyarakat. Tempatnya di Desa Menturo, Sumobito, Jombang, Jawa Timur. Karena ingin menjadi rutin, salah satu sahabat jamaah ini, Emha Ainun Nadjib dan A.Fuad Effendy, kemudian mencoba mencari pola dialog yang berbeda. Karena itu kemudian mereka mencari ・intu masuk・agar dialog mereka tetap terjaga. Maka kemudian jadilah dialog rutin bulanan itu menjadi pengajian tafsir dan diberi nama pengajian Padhang mBulan.

Setiap bulan bertambah, dari seratus orang, seribu orang, hingga tahun ketiga ini mencapai 25 ribu hingga 30 ribu orang setiap bulannya hadir,papar Nasrul, salah seorang pengurus. Dan pendekatan berdialog dengan hati dan mengedepankan kebenaran nurani adalah kunci siapapun yang datang ke pengajian tidak pernah dihujat atau dimaki.

Selama empat tahun mulai tokoh Hijau hingga merah dan kuning datang dan diterima dengan hati yang dingin oleh jamaah. Bahkan beberapa bulan terakhir beberapa tokoh kontroversial datang dan berdialog dengan jamaah Padhang mBulan. Mulai Prabowo, Kemal Idris, Rachmat Witoelar, dan Duta Besar Iran juga datang dan berdialog dengan jamaah. Alhamdulillah dialog berjalan dengan lancar dan semua pihak tidak sampai menghujat apalagi memaki, tambah Nasrul.

Tombo Ati

Sebenarnya sudah sejak lama banyak pihak yang mencoba mengadakan acara yang sama seperti Padhang mBulan, tapi karena Cak Nun tidak mungkin membagi waktu rata, akhirnya baru beberapa tempat yang sudah bisa didatangi. Namun bagi kami, tidak penting apakah Cak Nun datang atau tidak, yang penting pola pengajian yang dialogis dan mengedepankan dialog dengan hati dapat dilaksanakan di mana-mana,papar Hilman Farikhi, Sekretaris HAMAS-Padhang mBulan.

Karena itu menurut Hilman apa yang dilakukan teman-teman di Sulawesi yang menyelenggarakan PAPPERANDANG ATE yakni pengajian rutin dua bulan sekali di Mandar, Polmas, dan pengajian rutin di Masjid Al-Markas, Ujung Pandang, yang selalu dihadiri Emha, adalah salah satu upaya menyelenggarakan pengajian rutin yang mengedepankan 'dialog hati'.

Bahkan ternyata beberapa tempat juga sudah mengadakan. Seperti di Tasikmalaya, ada pengajian Bulan Priangan, yang dirintis KH.Miftah, adalah salah seorang jamaah Padhang mBulan, Jombang. Kami bahagian karena bulan lalu bisa hadir ke sana,papar Emha. Insya Allah beberapa saat lagi kami akan hadir,tambahnya.

Para remaja Islam Gondanglegi, Malang (RISGO), juga telah melakukan perintisan yang sama. Namanya, Pengajian Tombo Ati. Mudah-mudahan pengajian kami ini juga rutin, papar Rama, salah seorang pengurusnya. Awalnya kami ingin rutin tiga bulan sekali, mudah-mudahan nanti bisa rutin setiap bulan.

Berbeda dengan pengajian pada umumnya, yang berlaku di acara ini adalah untuk masyarakat umum, namun tidak memakai pola ceramah-monoton. Jamaah bebas menyampaikan pendapat, mengkritik, termasuk pada kiainya. Tapi semua tetap dalam frame 'hati yang dingin'.

Beberapa wilayah minta pola pengajian seperti ini. Misalnya, di Pati dan Semarang, minta rutin bulanan, juga di Depok, Tanjung Priok, Lampung, Riau, dan Samarinda. Tapi semua masih kami akomodasi, belum dapat dijadwalkan, karena waktunya masih berbagi. Tambah Hilman. (Sis,Jambul)

Comments

Popular posts from this blog

MATI KETAWA CARA REFOTNASI(4)

Seri PadangBulan (87) MATI KETAWA CARA REFOTNASI Bagian 4 ------------------------------------------------------------------------ Jangan Mau Jadi Akar. Kalau Pohon tak Berbuah Blimbing Tidak ada satu forum, jamaah maupun komunitas rakyat yang tidak bertanya dan menggelisahkan soal lahirnya terlalu banyak partai politik dewasa ini. Saya wajib menjawab sebisa-bisanya. "Begini lho, pohon itu kalau tak ada akarnya kan tidak akan tumbuh. Partai yang akar dukungannya dari rakyat tidak mantap, tentu mati sendiri. Kita harus jadi akar pohon yang mana. Lha selama ini Anda-Anda sudah bertemu dengan parpol yang mana?" "Belum ada." "Belum ada parpol yang bertamu ke rumah Anda?" "Belum!!" "Belum ada parpol yang melamar hati rakyat?" "Belum!!" "Belum ada parpol yang melakukan pendidikan politik langsung di kampung Anda ini?" "Belum!!" Selama Orde Baru kebanyakan Anda menjadi akar pohon besar rindang namun tidak ada buah...

MOHON BERSABAR

Seri PadangBulan (98) MOHON BERSABAR ------------------------------------------------------------------------ Markas Hamas, Padangbulan, Kiai Kanjeng, Cak Nun, (tempat program-program "Shalawat, Bernyanyi, Pendidikan Politik, Jamaah Ekonomi, Silaturahmi Kebangsaan danKemanusiaan" digodog) memohon dengan sangat para pengundang di bawah ini (yang terdaftar sampai 10 Nopember 1998) bersabar menunggu giliran jawaban. Undangan acara-acara terpaksa dimohon kearifannya untuk diskedul seirama dengan effisien dan effektifnya route perjalanan acara Cak Nun/Hamas/Kiai Kanjeng. Setiap lingkaran wilayah dirangkaikan menjadi satu putaran, agar mondar-mandirnya Cak Nun/Hamas/Kiai Kanjeng tidak terlalu boros waktu dan tenaga. Sehari maksimal 5 (lima) acara yang diperhitungkan pembagian waktunya di suatu lingkaran wilayah yang bisa dijangkau. Yang manusiawi sepertinya cukup 3 (acara) dalam sehari. Contoh terakhir (10 Nopember 1998), acara Cak Nun/Kiai Kanjeng/Hamas di Undip, kemudian IAIN ...

Buang Angin dan Ludah 2009

Koran SINDO, Jum'at, 14/12/2007 SOBIRIN terperosok masuk sumur.Lebih akurat rasa bahasanya dalam Jawa: kejeguratau kejebur sumur. Bahasa Indonesia mengadaptasinya menjadi "tercebur", tapi secara tata bahasa itu dipaksakan. Alhasil, Pak Sobirin harus ditolong, para tetangga beramai- ramai mengupayakan berbagai cara untuk mengentaskan beliau dari dasar sumur yang sangat dalam itu. Ributlah seluruh kampung siang itu. Tetapi itu tak cukup.Ada keributan yang lain.Di beberapa rumah berlangsung juga keriuhan banyak orang karena rumah-rumah itu adalah posko tim sukses beberapa calon lurah.Keributan di sumur Sobirin bahkan sebenarnya dikalahkan oleh riuh rendah posko-posko. Bahkan ketika orang-orang di sekitar sumur ribut panik dan teriak satu sama lain untuk menolong Sobirin, lewatlah rombongan kampanye calon lurah. Sungguh dinamis dan hangat suasana demokrasi di kampung itu.Yang segerombolan sibuk mengerjakan tugas kemanusiaan menolong orang tercebur sumur, sejumlah...