Skip to main content

INNA LILLAHI

Seri PadangBulan (140)
------------------------------------------------------------------------
Kalau Tuhan menganugerahi saya rejeki, tentu saja biasanya saya ucapkan alhamdulillah. Tapi sering juga saya ucapkan inna lillahi wa inna ilaihi roji'un. Artinya, segala sesuatu, termasuk rejeki yang saya terima serta diri saya sendiri ini, adalah milik Allah, berasal dari Allah dan kembali juga kepada Allah. Persoalan saya hanyalah bagaimana menentukan cara agar rejeki di tangan saya ini bisa kembali kepadanya melalui proses yang baik serta memproduk kemuliaan nilai hidup. Jadi saya harus memilih dengan seksama apakah rejeki ini saya pakai untuk membiayai keburukan, kejahatan, kemaksiatan atau perusakan sosial. Ataukah saya gunakan untuk memproduksi pertolongan bagi sesama, untuk menciptakan perimbangan ekonomi dengan tetangga, menyumbang keadilan sosial, atau produk-produk lain yang disukai oleh Allah dan para malaikatNya.

Comments

Popular posts from this blog

MATI KETAWA CARA REFOTNASI(4)

Seri PadangBulan (87) MATI KETAWA CARA REFOTNASI Bagian 4 ------------------------------------------------------------------------ Jangan Mau Jadi Akar. Kalau Pohon tak Berbuah Blimbing Tidak ada satu forum, jamaah maupun komunitas rakyat yang tidak bertanya dan menggelisahkan soal lahirnya terlalu banyak partai politik dewasa ini. Saya wajib menjawab sebisa-bisanya. "Begini lho, pohon itu kalau tak ada akarnya kan tidak akan tumbuh. Partai yang akar dukungannya dari rakyat tidak mantap, tentu mati sendiri. Kita harus jadi akar pohon yang mana. Lha selama ini Anda-Anda sudah bertemu dengan parpol yang mana?" "Belum ada." "Belum ada parpol yang bertamu ke rumah Anda?" "Belum!!" "Belum ada parpol yang melamar hati rakyat?" "Belum!!" "Belum ada parpol yang melakukan pendidikan politik langsung di kampung Anda ini?" "Belum!!" Selama Orde Baru kebanyakan Anda menjadi akar pohon besar rindang namun tidak ada buah...

MOHON BERSABAR

Seri PadangBulan (98) MOHON BERSABAR ------------------------------------------------------------------------ Markas Hamas, Padangbulan, Kiai Kanjeng, Cak Nun, (tempat program-program "Shalawat, Bernyanyi, Pendidikan Politik, Jamaah Ekonomi, Silaturahmi Kebangsaan danKemanusiaan" digodog) memohon dengan sangat para pengundang di bawah ini (yang terdaftar sampai 10 Nopember 1998) bersabar menunggu giliran jawaban. Undangan acara-acara terpaksa dimohon kearifannya untuk diskedul seirama dengan effisien dan effektifnya route perjalanan acara Cak Nun/Hamas/Kiai Kanjeng. Setiap lingkaran wilayah dirangkaikan menjadi satu putaran, agar mondar-mandirnya Cak Nun/Hamas/Kiai Kanjeng tidak terlalu boros waktu dan tenaga. Sehari maksimal 5 (lima) acara yang diperhitungkan pembagian waktunya di suatu lingkaran wilayah yang bisa dijangkau. Yang manusiawi sepertinya cukup 3 (acara) dalam sehari. Contoh terakhir (10 Nopember 1998), acara Cak Nun/Kiai Kanjeng/Hamas di Undip, kemudian IAIN ...

Suluk Tuhu Linglung (2)

Terlebih yang belum yakin benar ia Terbelenggu hanya oleh tata krama Sembahyang sunnah dan fardhu tak putus-putusnya Agar tertabiri ketidaktahuannya Puasa dan sedekah Juga zakat fitrah-nya Dijadikan berhala yang dipuja-puja Sungguh mereka yang sedemikian terlena Belum seberapa baktinya Pengetahuannya masih biasa-biasa saja.