Skip to main content

MENOMERDUAKAN KENIKMATAN PRIBADI

Seri PadangBulan (109)

MENOMERDUAKAN KENIKMATAN PRIBADI

------------------------------------------------------------------------

Kewajiban atau keseyogyaan berpuasa tak terbatas pada bulan Ramadhan. Puasa itu kapan saja.

Kita bisa dan boleh membeli ranjang dan kasur tidur seharga 65 juta rupiah. Tapi kita pilih yang harganya satu juta rupiah saja.

Itulah puasa. Kepekaan untuk melihat kemashlahatan sosial, dan kita pilih itu, kita letakkan di atas kenikmatan pribadi.

Kita mengerti bahwa sisa yang 64 juta rupiah lebih afdhal dan barakah jika kita manfaatkan untuk keperluan lain yang lebih rasional dalam konteks bahwa kita ini makhluk sosial.

Kita infaq - kan uang itu bagi kepentingan orang banyak untuk menggapai nilai moral dan karomahnya lebih tinggi. Kita memperoleh kematangan puasa dan kedewasaan beragama, apabila kenikmatan pribadi telah kita nomerduakan sesudah kemashlahatan bersama.

Tabungan sorga kita lebih melimpah, kalau memang kita ini percaya akan adanya sorga.

Comments

Popular posts from this blog

MATI KETAWA CARA REFOTNASI(4)

Seri PadangBulan (87) MATI KETAWA CARA REFOTNASI Bagian 4 ------------------------------------------------------------------------ Jangan Mau Jadi Akar. Kalau Pohon tak Berbuah Blimbing Tidak ada satu forum, jamaah maupun komunitas rakyat yang tidak bertanya dan menggelisahkan soal lahirnya terlalu banyak partai politik dewasa ini. Saya wajib menjawab sebisa-bisanya. "Begini lho, pohon itu kalau tak ada akarnya kan tidak akan tumbuh. Partai yang akar dukungannya dari rakyat tidak mantap, tentu mati sendiri. Kita harus jadi akar pohon yang mana. Lha selama ini Anda-Anda sudah bertemu dengan parpol yang mana?" "Belum ada." "Belum ada parpol yang bertamu ke rumah Anda?" "Belum!!" "Belum ada parpol yang melamar hati rakyat?" "Belum!!" "Belum ada parpol yang melakukan pendidikan politik langsung di kampung Anda ini?" "Belum!!" Selama Orde Baru kebanyakan Anda menjadi akar pohon besar rindang namun tidak ada buah...

MOHON BERSABAR

Seri PadangBulan (98) MOHON BERSABAR ------------------------------------------------------------------------ Markas Hamas, Padangbulan, Kiai Kanjeng, Cak Nun, (tempat program-program "Shalawat, Bernyanyi, Pendidikan Politik, Jamaah Ekonomi, Silaturahmi Kebangsaan danKemanusiaan" digodog) memohon dengan sangat para pengundang di bawah ini (yang terdaftar sampai 10 Nopember 1998) bersabar menunggu giliran jawaban. Undangan acara-acara terpaksa dimohon kearifannya untuk diskedul seirama dengan effisien dan effektifnya route perjalanan acara Cak Nun/Hamas/Kiai Kanjeng. Setiap lingkaran wilayah dirangkaikan menjadi satu putaran, agar mondar-mandirnya Cak Nun/Hamas/Kiai Kanjeng tidak terlalu boros waktu dan tenaga. Sehari maksimal 5 (lima) acara yang diperhitungkan pembagian waktunya di suatu lingkaran wilayah yang bisa dijangkau. Yang manusiawi sepertinya cukup 3 (acara) dalam sehari. Contoh terakhir (10 Nopember 1998), acara Cak Nun/Kiai Kanjeng/Hamas di Undip, kemudian IAIN ...

Buang Angin dan Ludah 2009

Koran SINDO, Jum'at, 14/12/2007 SOBIRIN terperosok masuk sumur.Lebih akurat rasa bahasanya dalam Jawa: kejeguratau kejebur sumur. Bahasa Indonesia mengadaptasinya menjadi "tercebur", tapi secara tata bahasa itu dipaksakan. Alhasil, Pak Sobirin harus ditolong, para tetangga beramai- ramai mengupayakan berbagai cara untuk mengentaskan beliau dari dasar sumur yang sangat dalam itu. Ributlah seluruh kampung siang itu. Tetapi itu tak cukup.Ada keributan yang lain.Di beberapa rumah berlangsung juga keriuhan banyak orang karena rumah-rumah itu adalah posko tim sukses beberapa calon lurah.Keributan di sumur Sobirin bahkan sebenarnya dikalahkan oleh riuh rendah posko-posko. Bahkan ketika orang-orang di sekitar sumur ribut panik dan teriak satu sama lain untuk menolong Sobirin, lewatlah rombongan kampanye calon lurah. Sungguh dinamis dan hangat suasana demokrasi di kampung itu.Yang segerombolan sibuk mengerjakan tugas kemanusiaan menolong orang tercebur sumur, sejumlah...