Skip to main content

CATATAN HITAM TRAGEDI SEMANGGI

Seri PadangBulan (116)

CATATAN HITAM TRAGEDI SEMANGGI

------------------------------------------------------------------------

Catatan Hitam Tragedi Semanggi :
Perjuangan Mahasiswa Baru Mulai,
Hari Depan Di Tangan Mereka

Assalamu'Alaikum Wr. Wb.

(1) Masa Depan di Tangan Mahasiswa
Tragedi Semanggi adalah momentum awal perjuangan mahasiswa. Dan sepanjang mereka sadar menjaga kemurnian perjuangan mereka, maka dengan segala kekurangan mereka yang khas kaum muda: demi Allah hari depan adalah milik mereka, demi Allah Indonesia masa depan adalah apa yang mereka ucapkan di permukaan jalanan sejarah hari-hari ini.

Mungkin benar orang yang mengatakan bahwa Gerakan 10 Nopember 1998 mahasiswa lebih tepat dilakukan pada pertengahan Mei atau paling lambat 22 Mei 1998, di mana delegitimasi Suharto dibarengi dengan delegitimasi 'produser'nya yakni MPR, bersamaan dengan pengalihan kekuasaan dari keduanya ke MPR-Sementara yang entah bernama Dewan Negara atau Komite Reformasi yang bertugas mempersiapkan undang-undang dan pelaksanaan Pemilu secepatnya, sehingga tidak perlu ada pemerintahan Habibie yang kontraversinya bertele-tele dan meminta banyak korban.

Ketika itu kaum mahasiswa justru menuntuk diadakannya SI-MPR dan memilih membiarkan Habibie naik. Namun secara substansial ketidaktepatan momentum itu tidak mengurangi kesucian muatan tuntutan dan perjuangan kaum mahasiswa.

(2) Infaq Nyawa Kaum Mahasiswa
Ini surat dari "orangtua". Surat kepedihan dan surat kebahagiaan. Kepedihan karena besar dan mendalamnya pengorbanan kalian kaum mahasiswa untuk kebenaran dan cinta rakyat. Kebahagiaan karena kemuliaan hati, totalitas tekad dan "infaq nyawa" kaum mahasiswa, yang tinggi derajatnya di hadapan Allah swt. dan di hadapan nurani kemanusiaan.

Surat ini tidak kami layangkan melalui penampilan di media massa, melalui konferensi pers atau press-release, sebab kami bukan siapa-siapa, tidak punya akses ke media, bukan tokoh, dan ada kemungkinan kaum mahasiswa sendiri tidak percaya kepada kami. Kami bukan apa-apa dan bukan siapa-siapa, kami belum tentu dipercaya oleh kaum mahasiswa sendiri, sehingga bisa malah dituduh oportunis yang memanfaatkan gerakan mahasiswa untuk oportunisme dan mencari popularitas.

Namun dengan tulus kami sampaikan salam perjuangan bagi para mahasiswa dan pemuda bangsa ini. Semoga setiap pengorbanan kalian diterima sebagai amal ibadah yang merupakan perjalanan menuju Allah SWT, dan jadilah kalian para syuhada, kekasih Allah SWT dan kekasih para pecinta kebenaran dan keadilan.

(3) Kebanggan dan Optimisme Republik Indonesia
Bila saat ini kami masih optimis terhadap Republik tercinta ini, itu dikarenakan alasan yang amat sedikit saja, yaitu antara lain kehadiran para mahasiswa / pemuda yang penuh kepedulian, keberanian berkorban bagi kepentingan rakyat negeri ini.

Harapan bangsa ini ada pada saudara-saudara dan tidak pada ABRI ataupun pada pemimpin-pemimpin yang penuh gaya yang ditampilkan di media TV dan koran-koran. Anda telah korbankan jiwa anda, meski tidak sedikitpun terbetik dalam pikiran, bahkan untuk menjadi Camat sekalipun. Luruskan hati kalian, hadapkanlah wajah kalian pada Allah SWT. Bersihkan niat anda dan teruslah berjuang, niscaya Allah SWT menanti di ujung perjalanan Anda. Insya Allah.

Betapa bangganya kami bila memiliki anak-anak seperti Anda.

(4) Perjuangan Nabipun Dicemari Penyusup
Jika ada "tokoh-tokoh pemimpin" bangsa ini yang berkata : "Gerakan mahasiswa ini telah ditunggangi, dimanfaatkan oleh petualang-petualang politik disusupi para kriminal, bahwa mahasiswa bergerak karena dibayar", bersiap dan bersegeralah kaum mahasiswa membuktikan kebersihan perjuangannya.

Bersegeralah menunjukkan kepada Republik Indonesia dan dunia bahwa semua sinyalemen itu tidak mempengaruhi kemurnian dan perjuangan mahasiswa. Bahwa sinyalemen itu tidak layak dijadikan tolok ukur kita dalam menilai perjuangan mahasiswa.

Jangankan mahasiswa, para Nabi sekalipun dalam perjuangannya ada saja para petualang, pengkhianat disekitarnya yang memanfaatkan dan mengambil keuntungan dari perjuangan para Nabi. Tapi kita semua yakin perjuangan para Nabi itu tetap merupakan risalah Ilahi.

(5) Adakah "Pemimpin" Yang Tidak Memanfaatkan Gerakan Mahasiswa?
Cobalah kita merenung, adakah pemimpin yang tidak berpikir untuk memanfaatkan gerakan mahasiswa ini bagi kepentingan diri, kelompok, partai, rezim dan macam-macam lagi?

Seyogyanya kita semua orang tua dan para "pemimpin" bertaubat dan malu terhadap diri dan tingkah laku kita sendiri. Seharusnya kita tahu diri dan tidak pantas menatap wajah mahasiswa dan pemuda-pemuda kita yang polos dan berani itu.

Tidakkah semua tokoh itu telah mendapatkan manfaat dari gerakan mahasiswa, setelah para mahasiswa berhasil menumbangkan Soeharto? Yang kemudian tokoh-tokoh itu masing-masing mencari posisi yang menguntungkan diri, kelompok dan pertainya ?. Sementara rakyat dibiarkan menonton perlombaan yang menjijikkan sekaigus memalukan dari para tokoh-tokohnya.

(6) Mahasiswa Adalah Yatim Piatu
Kami ingin menyampaikan pesan tulus pada para mahasiswa, bahwa Anda saat ini tidak mempunyai pemimpin, tidak mempunyai tokoh. Anda yatim piatu. Tidak berayah dan beribu. Yang ada di TV dan koran itu, tidak lebih dari foto model, sebuah kerinduan Anda terhadap pemimpin.

Mana mungkin ! mana mungkin ! ada ayah, ibu yang tega membiarkan ana

Comments

SEKJEN PENA 98 said…
Memang banyak yang pergi
Tidak sedikit yang lari
Sebagian memilih diam bersembuyi
Tapi… Perubahan adalah kepastian
dan untuk itulah kami bertahan
Sebab kami tak lagi punya pilihan
Selain terus melawan sampai keadilan ditegakan!

Kawan… kami masih ada
Masih bergerak
Terus melawan!
www.pena-98.com
www.adiannapitupulu.blogspot.com
alumni STAN said…
nice blog n good articel..!

Popular posts from this blog

BANI ZAHID VAN KAUMAN

Setetes makna dari Al-Quran bisa menjadi tujuh samudera ilmu bagi kehidupan kita. itu pun, kalau kita syukuri: La adzidannakum, akan Kutambah lagi, kata Allah. Lebih dari itu, tetes ilmu itu dengan kehidupan kita terus 'bekerja' untuk menjadi ilmu demi ilmu lagi. Sungguh Allah membimbing kita untuk menjadi 'arif (mengetahui) dan 'alim (mengerti), bahkan 'amil, pekerja dari pengetahuan dan pengertian dari-Nya itu. Maka, di hari kedua 'kopi Al-Quran', bertamulah ke rumah kontrakan saya seorang tua yang saleh. Bersepeda, memakai sarung, berpeci, sehat dan penuh senyum ceria. Betapa kagetnya saya! Sudah beberapa bulan ini saya straumatik' terhadap setiap tamu: begitu ada 'kulo nuwun' Iangsung saya merasa akan ditodong, dirampok, diperas . Tetapi kedatangan abah tua ini terasa sebagai embun yang menetesi ubun-ubun saya. Sambil rnenyalami beliau, saya bertanyatanya dalam .hati: "Pantaskah saya mendapat kehormatan ditamui seorang yang sampai usia s...

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...