Skip to main content

Bersedih dan Bisu (Untuk Anak Cucu Maiyahku, 4)

Maiyah adalah bagian dari Ummat Islam dan bangsa Indonesia, meskipun ia tidak membatasi dirinya dan tidak bisa dibatasi untuk hanya berada dan berlangsung di wilayah dan skala itu.

Maiyah melihat bahwa sangat dekat waktu di depan hidungnya: bangsa Indonesia sedang ditimpa bahaya besar yang mengancam eksistensinya, martabat dan keamanan tanah airnya. Sementara Ummat Islam sedang mengalami pertentangan yang sangat mendasar dan serius di antara mereka, meskipun keduanya tidak merasa apa-apa dan tidak menyadari bagaimana-bagaimana.

Maiyah tidak berada pada posisi manapun dalam pertentangan itu, meskipun bisa ditimpa akibat-akibat langsung maupun tak langsung, di masa kini dan masa-masa berikutnya, oleh bahaya dan ancaman itu.

Di dalam dirinya Maiyah membangun jiwa pendamai, perekat dan pemersatu. Tetapi ia berada di tengah bangsa dan ummat yang secara permanen memelihara dan memantapi permusuhan, secara sadar menolak kerekatan, dan tidak pernah terlihat melakukan sesuatu menuju ukhuwah, persatuan dan penyatuan.

Maiyah seperti berkunjung ke Rumah Sakit, duduk di tepi ranjang pasien yang semakin parah sakitnya. Namun Maiyah tidak mungkin mengemukakan hal-hal tentang sakit dan penyakit kepada pasien yang sedang terbaring sakit.

Sedangkan Rumah Sakit itu tidak ada Dokternya. Si Pasien juga tidak pernah bertanya tentang obat dan Dokter, kepada siapapun, apalagi mempercayakan jawabannya kepada Maiyah. Maka tugas Maiyah tinggal dua.

Pertama, mengkreatifi mataair Maiyah untuk kebahagiaan hidup para pelakunya. Kedua, kepada yang di luar mataair dan kebunnya, Maiyah bersedih dan membisu.

Mataair Maiyah 7,
Kadipiro, November 2017
#Tajuk
https://www.caknun.com/2017/bersedih-dan-bisu/


Comments

Popular posts from this blog

MATI KETAWA CARA REFOTNASI(4)

Seri PadangBulan (87) MATI KETAWA CARA REFOTNASI Bagian 4 ------------------------------------------------------------------------ Jangan Mau Jadi Akar. Kalau Pohon tak Berbuah Blimbing Tidak ada satu forum, jamaah maupun komunitas rakyat yang tidak bertanya dan menggelisahkan soal lahirnya terlalu banyak partai politik dewasa ini. Saya wajib menjawab sebisa-bisanya. "Begini lho, pohon itu kalau tak ada akarnya kan tidak akan tumbuh. Partai yang akar dukungannya dari rakyat tidak mantap, tentu mati sendiri. Kita harus jadi akar pohon yang mana. Lha selama ini Anda-Anda sudah bertemu dengan parpol yang mana?" "Belum ada." "Belum ada parpol yang bertamu ke rumah Anda?" "Belum!!" "Belum ada parpol yang melamar hati rakyat?" "Belum!!" "Belum ada parpol yang melakukan pendidikan politik langsung di kampung Anda ini?" "Belum!!" Selama Orde Baru kebanyakan Anda menjadi akar pohon besar rindang namun tidak ada buah...

MOHON BERSABAR

Seri PadangBulan (98) MOHON BERSABAR ------------------------------------------------------------------------ Markas Hamas, Padangbulan, Kiai Kanjeng, Cak Nun, (tempat program-program "Shalawat, Bernyanyi, Pendidikan Politik, Jamaah Ekonomi, Silaturahmi Kebangsaan danKemanusiaan" digodog) memohon dengan sangat para pengundang di bawah ini (yang terdaftar sampai 10 Nopember 1998) bersabar menunggu giliran jawaban. Undangan acara-acara terpaksa dimohon kearifannya untuk diskedul seirama dengan effisien dan effektifnya route perjalanan acara Cak Nun/Hamas/Kiai Kanjeng. Setiap lingkaran wilayah dirangkaikan menjadi satu putaran, agar mondar-mandirnya Cak Nun/Hamas/Kiai Kanjeng tidak terlalu boros waktu dan tenaga. Sehari maksimal 5 (lima) acara yang diperhitungkan pembagian waktunya di suatu lingkaran wilayah yang bisa dijangkau. Yang manusiawi sepertinya cukup 3 (acara) dalam sehari. Contoh terakhir (10 Nopember 1998), acara Cak Nun/Kiai Kanjeng/Hamas di Undip, kemudian IAIN ...

Buang Angin dan Ludah 2009

Koran SINDO, Jum'at, 14/12/2007 SOBIRIN terperosok masuk sumur.Lebih akurat rasa bahasanya dalam Jawa: kejeguratau kejebur sumur. Bahasa Indonesia mengadaptasinya menjadi "tercebur", tapi secara tata bahasa itu dipaksakan. Alhasil, Pak Sobirin harus ditolong, para tetangga beramai- ramai mengupayakan berbagai cara untuk mengentaskan beliau dari dasar sumur yang sangat dalam itu. Ributlah seluruh kampung siang itu. Tetapi itu tak cukup.Ada keributan yang lain.Di beberapa rumah berlangsung juga keriuhan banyak orang karena rumah-rumah itu adalah posko tim sukses beberapa calon lurah.Keributan di sumur Sobirin bahkan sebenarnya dikalahkan oleh riuh rendah posko-posko. Bahkan ketika orang-orang di sekitar sumur ribut panik dan teriak satu sama lain untuk menolong Sobirin, lewatlah rombongan kampanye calon lurah. Sungguh dinamis dan hangat suasana demokrasi di kampung itu.Yang segerombolan sibuk mengerjakan tugas kemanusiaan menolong orang tercebur sumur, sejumlah...