Skip to main content

Syahrul Huzni (Bulan Duka)


Aku terkurung di tengah kayu pintu yang tertutup. Pintu itu terkunci, gerbangnya tergembok.

Siapa yang mengunci pintu? Kewajaran. Siapa yang menggembok gerbang? Keharusan.

La haula wala quwwata illa billah al-‘Aliy al-‘Adhim. Sedangkan yang ada padaku hanya ketakberdayaan.

Terkadang aku harus melumpuhkan diri dengan melakukan hal-hal yang seharusnya tidak kulakukan, atau tidak melakukan hal-hal yang semestinya kulakukan.

Di saat lain aku memasuki ranjau dengan membuka sesuatu yang seharusnya tak kubuka, atau tidak menguakkan sesuatu yang semestinya kukuakkan.

Pintu gerbang keluar menuju Indonesia habis semua kuncinya tanpa ada yang bisa dipakai untuk membukanya.

Pintu gerbang masuk ke dalam kebun dan rumahku sendiri ketelingsut di bawah ribuan kaki-kaki yang berjejal, riuh rendah, gaduh oleh jutaan kata dan kalimat yang tak bersambung satu sama lain.

Daur wajib kuhentikan putarannya sampai hari yang kunantikan. Tinggal setetes demi setetes air liurku sendiri. Menemani detak-detik jantungku sendiri, menapaki ketakjubanku kepada rahasia-Nya janji-Nya:

Wa nuridu an namunna ‘alalladzina istudl’ifu fil ardli wa naj’aluhum aimmah wa naj’aluhumul waritsin.

Ya Allah Ya Hayyu ya Qoyyum, Ya Habib ya Syafi’, jangan biarkan kaki kami menapak di jalan yang tidak menuju ridla-Mu.

Aku sedih dan berputus asa pada Indonesia dan kebunku sendiri. Tetapi aku gembira dan bergairah oleh rahmat dan pertolongan-Mu.

Subuh 20 Oktober 2017
Emha Ainun Nadjib
#Tajuk



Comments

Popular posts from this blog

BANI ZAHID VAN KAUMAN

Setetes makna dari Al-Quran bisa menjadi tujuh samudera ilmu bagi kehidupan kita. itu pun, kalau kita syukuri: La adzidannakum, akan Kutambah lagi, kata Allah. Lebih dari itu, tetes ilmu itu dengan kehidupan kita terus 'bekerja' untuk menjadi ilmu demi ilmu lagi. Sungguh Allah membimbing kita untuk menjadi 'arif (mengetahui) dan 'alim (mengerti), bahkan 'amil, pekerja dari pengetahuan dan pengertian dari-Nya itu. Maka, di hari kedua 'kopi Al-Quran', bertamulah ke rumah kontrakan saya seorang tua yang saleh. Bersepeda, memakai sarung, berpeci, sehat dan penuh senyum ceria. Betapa kagetnya saya! Sudah beberapa bulan ini saya straumatik' terhadap setiap tamu: begitu ada 'kulo nuwun' Iangsung saya merasa akan ditodong, dirampok, diperas . Tetapi kedatangan abah tua ini terasa sebagai embun yang menetesi ubun-ubun saya. Sambil rnenyalami beliau, saya bertanyatanya dalam .hati: "Pantaskah saya mendapat kehormatan ditamui seorang yang sampai usia s...

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...