Skip to main content

Peneguhan Kembali Kemerdekaan Manusia Maiyah

Bismillahi-Rahmanir-Rahim, Bismillahi-‘Alimil-Hakim, Bismillahil-‘Adlil-Matin, Bismillahil‘Azizin-Nashir, Bismillahil-Mubinil-Khobi, Bismillahir-Robbil-Qodir

  1. Dengan ini saya kukuhkan kembali posisi Maiyah yang membangun dan menjaga Kedaulatan Manusia pada diri siapapun saja, dalam mengelola kehidupan pada formasi dan skala apapun, serta dalam mendaulatkan perhubungannya dengan Allah swt.
  2. Maiyah menjaga bahwa Kedaulatan itu tidak dicampuri oleh siapapun termasuk dan terutama oleh saya. Antara Manusia dengan Dunia, antara Manusia dengan Indonesia, hendaknya tidak ada Emha. Juga antara Manusia dengan Allah, hanya ada Rasulullah, tidak boleh diganggu atau dicampuri oleh siapapun terutama Emha.
  3. Di Maiyah tidak ada pengkultusan, fanatisme buta, feodalisme serta berbagai kemudaratan lainnya. Manusia Jamaah Maiyah merdeka dari Mbah Nun, CN, Emha atau saya, dari dan pada arti apapun.
  4. Dari jarak pandang saya, terdapat tiga satuan, yakni Nilai Maiyah, Jamaah Maiyah dan CN. Ini satuan kecil di dalam satuan besar Segitiga Allah, Rasulullah dan kita semua, yang di dalamnya terdapat berbagai satuan misalnya Kaum Muslimin, Ummat Manusia dan Indonesia.
  5. Nilai Maiyah adalah titipan dari Allah swt yang wajib saya sampaikan kepada siapa saja yang kemudian mungkin melingkar sebagai Jamaah Maiyah. Nilai itu dari Allah kepada saya pasti sangat benar, tetapi dari saya kepada Jamaah Maiyah belum tentu benar.
  6. Oleh karena itu Jamaah Maiyah tidak terikat kepada saya, melainkan merdeka untuk mengikatkan diri atau membebaskan diri dari sumber Nilai Maiyah yakni Allah swt.
  7. Dengan demikian pula maka Jamaah Maiyah bukan ummatnya CN, bukan santrinya CN, bukan anak buah CN, bukan pengikut CN, melainkan Jamaah Maiyah adalah ummatnya, santrinya,  anak buahnya dan pengikut Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw.
  8. Bahasa jelasnya, di dalam keadaan atau peristiwa apapun Jamaah Maiyah tidak punya kewajiban untuk mengikuti atau membela CN, melainkan berposisi merdeka untuk mengikuti dan membela Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw, atau memposisikan diri sebaliknya.
  9. Jamaah Maiyah juga berada dalam kemerdekaan untuk memilih sikap apapun terhadap Nilai Maiyah, merumuskannya, menata atau memperjuangkannya, mensosialisasikan atau menerapkannya, kepada Ummat Manusia atau Bangsa Indonesia, atau sikap sebaliknya dan atau apapun, dengan tanggungjawab langsung kepada Allah swt dan Rasulullah Muhammad saw, dan tidak kepada saya.
  10. Seluruh pernyataan ini tidak membatalkan, bahkan tetap mensupport, semua dan setiap program Maiyah yang telah disusun.


Shadaqallahul-‘Adhim.

Muhammad Ainun Nadjib

Comments

Popular posts from this blog

MATI KETAWA CARA REFOTNASI(4)

Seri PadangBulan (87) MATI KETAWA CARA REFOTNASI Bagian 4 ------------------------------------------------------------------------ Jangan Mau Jadi Akar. Kalau Pohon tak Berbuah Blimbing Tidak ada satu forum, jamaah maupun komunitas rakyat yang tidak bertanya dan menggelisahkan soal lahirnya terlalu banyak partai politik dewasa ini. Saya wajib menjawab sebisa-bisanya. "Begini lho, pohon itu kalau tak ada akarnya kan tidak akan tumbuh. Partai yang akar dukungannya dari rakyat tidak mantap, tentu mati sendiri. Kita harus jadi akar pohon yang mana. Lha selama ini Anda-Anda sudah bertemu dengan parpol yang mana?" "Belum ada." "Belum ada parpol yang bertamu ke rumah Anda?" "Belum!!" "Belum ada parpol yang melamar hati rakyat?" "Belum!!" "Belum ada parpol yang melakukan pendidikan politik langsung di kampung Anda ini?" "Belum!!" Selama Orde Baru kebanyakan Anda menjadi akar pohon besar rindang namun tidak ada buah...

MOHON BERSABAR

Seri PadangBulan (98) MOHON BERSABAR ------------------------------------------------------------------------ Markas Hamas, Padangbulan, Kiai Kanjeng, Cak Nun, (tempat program-program "Shalawat, Bernyanyi, Pendidikan Politik, Jamaah Ekonomi, Silaturahmi Kebangsaan danKemanusiaan" digodog) memohon dengan sangat para pengundang di bawah ini (yang terdaftar sampai 10 Nopember 1998) bersabar menunggu giliran jawaban. Undangan acara-acara terpaksa dimohon kearifannya untuk diskedul seirama dengan effisien dan effektifnya route perjalanan acara Cak Nun/Hamas/Kiai Kanjeng. Setiap lingkaran wilayah dirangkaikan menjadi satu putaran, agar mondar-mandirnya Cak Nun/Hamas/Kiai Kanjeng tidak terlalu boros waktu dan tenaga. Sehari maksimal 5 (lima) acara yang diperhitungkan pembagian waktunya di suatu lingkaran wilayah yang bisa dijangkau. Yang manusiawi sepertinya cukup 3 (acara) dalam sehari. Contoh terakhir (10 Nopember 1998), acara Cak Nun/Kiai Kanjeng/Hamas di Undip, kemudian IAIN ...

HAK UNTUK TIDAK MATI (Juga untuk Bunuh Diri)

Sebelum bisa kutemukan Iblis untuk kutantang berkelahi, malah salah satu dari diriku yang mempertengkariku. “Apa maksudmu menyimpulkan Bapak Hak Asasi Manusia adalah Iblis?” Aku tidak mau ditekan oleh diriku yang ini. Aku tetap mencoba santai dan tersenyum, sehingga ia sedikit merasa kuremehkan. “Lho kan kamu sendiri yang menyodorkan kesimpulan itu kepadaku”, kataku, “bahwa Hak Asasi Manusia awal mulanya adalah Hak Asasi Iblis” Diriku itu pernah menguraikan kepadaku bahwa Iblislah yang pertama-tama mengklaim hak Tuhan sebagai hak-nya. Tidak logis bahwa Iblis punya hak. Atas dasar apa Iblis merasa punya hak. Iblis tidak punya saham apapun atas eksistensinya. Iblis tidak mampu menciptakan dirinya sendiri. Iblis tidak punya kesanggupan untuk menciptakan sehelai rumput pun, apalagi jagat raya yang dahsyat dan mengagumkan. Iblis hanya diadakan oleh Tuhan. Iblis hanya makhluk yang diselenggarakan oleh Tuhan. Seluruh komponen yang menjadikan ia adalah Iblis bukanlah ciptaan dirinya sendiri, m...