Skip to main content

BANI ZAHID VAN KAUMAN

Setetes makna dari Al-Quran bisa menjadi tujuh samudera ilmu bagi kehidupan kita. itu pun, kalau kita syukuri: La adzidannakum, akan Kutambah lagi, kata Allah.
Lebih dari itu, tetes ilmu itu dengan kehidupan kita terus 'bekerja' untuk menjadi ilmu demi ilmu lagi. Sungguh Allah membimbing kita untuk menjadi 'arif (mengetahui) dan 'alim (mengerti), bahkan 'amil, pekerja dari pengetahuan dan pengertian dari-Nya itu.
Maka, di hari kedua 'kopi Al-Quran', bertamulah ke rumah kontrakan saya seorang tua yang saleh.

Bersepeda, memakai sarung, berpeci, sehat dan penuh senyum ceria.
Betapa kagetnya saya!
Sudah beberapa bulan ini saya straumatik' terhadap setiap tamu: begitu ada 'kulo nuwun' Iangsung saya merasa akan ditodong, dirampok, diperas . Tetapi kedatangan abah tua ini terasa sebagai embun yang menetesi ubun-ubun saya.
Sambil rnenyalami beliau, saya bertanyatanya dalam .hati: "Pantaskah saya mendapat kehormatan ditamui seorang yang sampai usia senjanya tampak tetap fillah seperti ini?"
Ia seorang Haji. Tinggal di kampung Ketanggungan. Di samping silaturahim, beliau bermaksud mengobrolkan bagian-bagian tertentu dari Secangkir Kopi. Tapi, sebagaimana lazimnya model keramahan bangsa kita, kami bicara dulu tentang asal-usul.
Beliau gembira saya berasal dari Jombang. Di tahun 20-an beliau pernah mondok di Tebuireng, dan pertama-tama yang didatanginya adalah nak-ndulurn beliau yang tinggal di kecamatan Sumobito bernama Haji Imam Zahid.
Giliran saya yang terkejut. - Zahid adalah buyut saya. Kami di Jawa Timur menghimpun kekeluargaan kami dalam nama 'Bani Zahid', dan setiap !dui Fithri ngumpul. Lebih gamblang lagi Haji Ketanggungan ini mengemukakan bahwa Haji Zahid adalah orang Kauman Yogya yang sesudah istrinya meninggal lantas pindah ke .Jombang dan beranak cucu. Maka, pastilah kini ada dua 'Bani Zahid'. Satu versi Yogya, satu versi Jombang. Tamu saya itu menyebut Hall Huri, sebagai seorang famili dekat Haji Zahid. Ia kini masih sugeng dan aktif di Masjid Kauman. Alhamdulillah.
Alangkah berbahagia menemukan sedulur. Alangkah damai kehidupan jika kapan-kapan kita menemukan cabang-ranting semua ikhwan kita hingga Qabil dan Adam.
Namun yang tak kalah penting dari nyala obor' itu adalah nasihat-nasihat tamu saya. Ketika saya bercerita tentang Salman cucu Haji Zahid yang menjadi 'ekstremis' dan dieksekusi oleh Pemerintah, beliau mengatakan: "Tidak apa-apa jadi apa pun, asal tetap di jalan Allah. La takhaf wa laa tahzan ..."
Maka, sepulang beliau, dalam rangka bersyukur, saya membuka Al-Quran, dan Allah menganugerahkan Surah Al-Hajj (ya Allah!) yang di ayat ke-15 berkisah tentang musuh Muhammad: "Barangsiapa yang menyangka bahwa Allah tidak akan menolongnya (Muhammad) di dunia dan akhirat, maka hendaklah ia merentangkan tali ke langit dan hendaklah ia melaluinya, kemudian hendaklah ia pikirkan apakah tipu dayanya dapat melenyapkan apa yang menyakitkan hatinya . . ."
Benar, ya Allah. Kami orang Islam tidak 100% percaya bahwa Engkau sudah, sedang, dan akan menolong kami. Engkau seolah 'abstrak' bagi kami. Yang 'konkret' ialah jarninan-jaminan kecil pragmatis-ekonomis-politis di depan mata kami.
(Emha Ainun Nadjib/"Secangkir Kopi Jon Pakir"/Mizan/1996/PadhangmBulanNetDok)

*) Nak-ndulur: sanak saudara.

Comments

Popular posts from this blog

KENDURI CINTA SI UDIN (Hal Salah Tujuan dan Skedul 2018)

Salah seorang sesepuh anak-anak saya di Kenduri Cinta Jakarta, Ustadz Noorshofa, bercerita tentang Udin, anak muda Betawi yang tiba-tiba di suatu larut malam dibangunkan dari tidurnya oleh Malaikat Izroil. Lho. Bagaimana si Udin bisa tahu bahwa itu Baginda Izroil? Apakah ia pernah berkenalan sebelumnya? Tidak. Belum. Udin tahu saja. Tahu begitu saja. Apa kau kira yang kau tak tahu pasti tidak benar atau tidak ada. Jangan pikir kehidupan ini sebatas yang kau tahu. Jangan sangka hidup ini hanya sejauh yang kau tahu. Pun jangan simpulkan bahwa pengetahuan hanya segala sesuatu yang kau tampung di memori otakmu. Jangan bersombong diri bahwa yang punya akses untuk tahu hanyalah potensi intelektualmu. Jangan klaim bahwa pori-porimu, sel-sel tubuhmu, atau mata dan telingamu itu sendiri tak memiliki dialektika dengan pengetahuan. Kau menyimpulkan bahwa dirimu adalah kau sendiri, atau kau hanyalah dirimu sendiri. Kalau yang menemui Udin bukan Izroil, kira-kira siapa yang punya ke...

TUHAN LEPAS TANGAN

Logika dan dialektika vertikal tentang kepemimpinan yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi sungguh mengerikan. Kepada Abdurahman bin Samurah beliau berpesan: “Jangan meminta jabatan. Sebab kalau engkau menjabat karena permintaanmu, maka Allah akan melepas jabatan itu kepadamu tanpa Ia turut campur”.     Tuhan lepas tangan. Bayangkan bagaimana menjalani hidup dengan posisi dicuekin oleh Tuhan. Kita sendiri yang harus bertanggung jawab. Kalau ada masalah, Tuhan tidak menolong. Kalau memimpin dengan baik dan sukses, Tuhan belum tentu meridloi. Tuhan tidak turut campur tidak berarti kita merdeka. Kita dibiarkan melakukan apa saja, karena perkaranya sudah jelas: di ujung jalan nanti neraka menanti kita.     Asalkan kita manusia, sehingga memiliki akal, logika, kecerdasan untuk imajinasi dan simulasi ke depan, maka lepas tangannya Tuhan itu sudah merupakan semacam adzab. Seperti anak yang saking nakalnya, Bapaknya lepas tangan, membiarkannya...