Skip to main content

Ilir-ilir10)

Yang penting sekarang kita sedang terus berupaya menyempurnakan kemerdekaan itu. Baik kemerdekaan untuk memilih kebenaran maupun kebebasan untuk ngotot mempertahankan pendapat dan pembenaran.

Baik kemerdekaan untuk bersatu maupun kebebasan untuk semakin asyik memecah belah hubungan kemanusiaan, hubungan sosial, politik dan kebudayaan kita.

Pokoknya, semakin banyak golongan yang saling bertentangan, kita merasa semakin dewasa.

Semakin banyak partai politik, rasanya semakin demokratis. Semakin banyak benturan dan perang saudara, rasanya semakin modern kita.

Kita mendadak bangun dan mendadak sudah berada di lapangan sepakbola zaman baru, pas di depan kotak penalti yang ribut. Kemudian tiba-tiba bola masuk ke dalam gawang, dan kita bersorak-sorak riang gembira, karena kita merasa kaki kitalah yang bikin gol itu.

Namun itu tidak penting. Sebab yang utama dari ili-ilir kita sekarang adalah tidak jelasnya mana gawang mana bola, siapa kiper siapa gelandang, mana wasit mana penonton.

Kita berjingkrak-jingkrak kegirangan padahal bola sedang masuk ke gawang kita sendiri.

Kita bersuit-suit dan hampir mabuk padahal yang dijegal dari belakang itu adalah striker kita sendiri.

Kita marah-marah kepada kiper yang dengan sigap menangkap bola pengancam gawangnya.

Pandangan mata kita sedemikian kaburnya, sehingga yang kita tatap di lapangan adalah prasangka-prasangka kita sendiri. Kemudian dengan mantap prasangka dan kecurigaan itulah yang kita jadikan dalil untuk menilai segala yang terjadi di lapangan.

Comments

Popular posts from this blog

MATI KETAWA CARA REFOTNASI(4)

Seri PadangBulan (87) MATI KETAWA CARA REFOTNASI Bagian 4 ------------------------------------------------------------------------ Jangan Mau Jadi Akar. Kalau Pohon tak Berbuah Blimbing Tidak ada satu forum, jamaah maupun komunitas rakyat yang tidak bertanya dan menggelisahkan soal lahirnya terlalu banyak partai politik dewasa ini. Saya wajib menjawab sebisa-bisanya. "Begini lho, pohon itu kalau tak ada akarnya kan tidak akan tumbuh. Partai yang akar dukungannya dari rakyat tidak mantap, tentu mati sendiri. Kita harus jadi akar pohon yang mana. Lha selama ini Anda-Anda sudah bertemu dengan parpol yang mana?" "Belum ada." "Belum ada parpol yang bertamu ke rumah Anda?" "Belum!!" "Belum ada parpol yang melamar hati rakyat?" "Belum!!" "Belum ada parpol yang melakukan pendidikan politik langsung di kampung Anda ini?" "Belum!!" Selama Orde Baru kebanyakan Anda menjadi akar pohon besar rindang namun tidak ada buah...

MOHON BERSABAR

Seri PadangBulan (98) MOHON BERSABAR ------------------------------------------------------------------------ Markas Hamas, Padangbulan, Kiai Kanjeng, Cak Nun, (tempat program-program "Shalawat, Bernyanyi, Pendidikan Politik, Jamaah Ekonomi, Silaturahmi Kebangsaan danKemanusiaan" digodog) memohon dengan sangat para pengundang di bawah ini (yang terdaftar sampai 10 Nopember 1998) bersabar menunggu giliran jawaban. Undangan acara-acara terpaksa dimohon kearifannya untuk diskedul seirama dengan effisien dan effektifnya route perjalanan acara Cak Nun/Hamas/Kiai Kanjeng. Setiap lingkaran wilayah dirangkaikan menjadi satu putaran, agar mondar-mandirnya Cak Nun/Hamas/Kiai Kanjeng tidak terlalu boros waktu dan tenaga. Sehari maksimal 5 (lima) acara yang diperhitungkan pembagian waktunya di suatu lingkaran wilayah yang bisa dijangkau. Yang manusiawi sepertinya cukup 3 (acara) dalam sehari. Contoh terakhir (10 Nopember 1998), acara Cak Nun/Kiai Kanjeng/Hamas di Undip, kemudian IAIN ...

Buang Angin dan Ludah 2009

Koran SINDO, Jum'at, 14/12/2007 SOBIRIN terperosok masuk sumur.Lebih akurat rasa bahasanya dalam Jawa: kejeguratau kejebur sumur. Bahasa Indonesia mengadaptasinya menjadi "tercebur", tapi secara tata bahasa itu dipaksakan. Alhasil, Pak Sobirin harus ditolong, para tetangga beramai- ramai mengupayakan berbagai cara untuk mengentaskan beliau dari dasar sumur yang sangat dalam itu. Ributlah seluruh kampung siang itu. Tetapi itu tak cukup.Ada keributan yang lain.Di beberapa rumah berlangsung juga keriuhan banyak orang karena rumah-rumah itu adalah posko tim sukses beberapa calon lurah.Keributan di sumur Sobirin bahkan sebenarnya dikalahkan oleh riuh rendah posko-posko. Bahkan ketika orang-orang di sekitar sumur ribut panik dan teriak satu sama lain untuk menolong Sobirin, lewatlah rombongan kampanye calon lurah. Sungguh dinamis dan hangat suasana demokrasi di kampung itu.Yang segerombolan sibuk mengerjakan tugas kemanusiaan menolong orang tercebur sumur, sejumlah...