Skip to main content

Posts

MENCARI INDONESIA DI KAKI U-19 (Yang hebat pasti bukan Indonesia)

Menggendong masalah Keraton dan Indonesia sangat ‘njarem’ di hati. Sebab itu adalah lubang dan retakan di dalam rongga nasionalisme keindonesiaanku. Aku keluar rumah, berlari ke lapangan sepakbola. Menghela napas panjang dengan irama perlahan-lahan, sambil kaki berlari-lari kecil, tetapi tidak dalam irama yang sama dengan ritme napasku. Cucu-cucuku kesebelasan nasional U-19 sedang berjuang di medan laga Myanmar, dan mestinya itu membuat hati Indonesia kita tergetar. Di AFC U-19 2014 bersama istri dan seorang teman aku nongol di Yangon dan Naypyidaw, Myanmar, tanpa diketahui sebelumnya oleh Evan Dimas dkk. Juga kami tidak merasa siapa-siapa sehingga harus memberitahukan partisipasi kami terhadap perjuangan U-19, kepada Coach Indra Sjafri, BTN, maupun para pengurus PSSI di sana. Kami mengikuti proses mereka, ranjau-ranjau yang menghadang mereka, tetapi kami hanya suporter, penggembira berkibarnya Merah Putih di bagian bumi manapun. Tidak penting untuk diceritakan apa yang kami lakuk...

GUDÈL NGELONI KEBO (Yuwaswisu fi Shudurinnas)

Bertubi-tubi sejumlah pembaca bertanya: “Kok tulisan Sampeyan mubeng-munyer, berputar-putar dan bertele-tele?”     “Saya menyesuaikan karakter dan irama”, saya menjawab seperlunya, “apa yang tidak mubeng-munyer di Negeri ini. Indonesia maupun Yogya. Yang mana yang tidak berputar-putar dan bertele-tele” “Nulis yang efektif dong, menuju sasaran”, aku dikejar lewat Japri. “Aku menikmati istidraj”, sekenanya kujawab, “Treatment Tuhan ke manusia kan ada empat” “Apa saja empat itu?” “Pertama, hidayah, bersikap normal, ngasih tahu baik-baik. Kalau benar dijunjung. Kalau baik dibalas kebaikan berlipat. Kalau bijaksana ditinggikan derajatnya. Kalau mulia disempurnakan pangkat rohaninya” “Lantas?” “Kemudian istidraj. Mbombong. Menyorong searah dengan gejala perilaku manusia. Ana ‘inda dhonni ‘abdi bii. Aku berlaku sesuai dengan prasangka manusia atas-Ku. Kalau manusia muter-muter, ya Kuputer-puter. Kalau manusia meniupkan kabut, ya Kutambahi kabut. Kalau manusia menyamar-nyamarkan,...

MIN HAITSU YOGYA LA YAHTASIB (Lima Pilar NKRI)

Framing tulisanku adalah area Majelis Ilmu. Yang tiap hari kutulis ini, apalagi tentang Yogya, bukan paparan pengetahuan, bukan pendapat keilmuan, atau pandangan sosial, apalagi pernyataan politik. Yang kulakukan adalah pembelajaran dialektika di antara pertanyaan dengan jawaban. Tanpa kritik, kecaman, tuduhan, saran atau harapan apapun kepada Keraton Yogya maupun Negara Indonesia. Di samping menambah isi gudang di rumah untuk anak cucuku kelak, ini hanya menjalankan kewajiban “bebrayan” untuk menjawab pertanyaan. Memang kalau pakai demokrasi, tak ada kewajiban menjawab pertanyaan, kecuali bagi yang dimandati dan digaji untuk mengurusi pertanyaan dan mencari jawaban. Tetapi kalau berada dalam silaturahmi, kemesraan sosial dan kasih sayang sesama pelaku sejarah – tidak tega membiarkan orang bertanya-tanya tanpa kita bantu mencari jawaban. Hampir 3-4 kali dalam seminggu saya ketemu ribuan kaum muda, rata-rata 4-5 jam, kalau forum Maiyahan bisa 7-8 jam, di berbagai daerah. Forum kami beba...

REVOLUSI KONSTITUSI (Apa Allah itu laki-laki?)

Yogya adalah universitas pembelajaran ilmuku. Kehidupan rakyat Yogya adalah pesantren lelaku tirakatku. 47 tahun domisili Yogyaku adalah sumur tanpa dasar di jauh padang pasir pengembaraanku. Aku berjalan dari Tugu, mencari keutamaan hidup di Jl. Margo Utomo. Supaya kelak kudapatkan kemuliaan derajat di Jl. Margo Mulyo. Kemudian siapa tahu bisa kucapai Jl. Pangurakan yang menyibak alun-alun Demokrasi di depan Keraton Yogya – di mana kemerdekaan sejati telah kucapai, di mana setiap pergerakan dan arah langkahku persis seperti yang dulu Tuhan merancang kelahiranku di bumi. Posisiku kini menapakkan kaki di Jalan Malioboro, mengupayakan diri  “menjadi Wali kang Ngumboro”, tapi sampai setua ini tak kunjung tiba ke tahap transformasi Jalan Kemuliaan, dan kelihatannya mustahil akan pernah kucapai Pangurakan hidup. Jadi jangan tanyakan kepadaku apakah angin siklon dan anti-siklon di Yogya itu adalah  tentang fatwa Mahkamah Konstitusi bahwa Raja Yogya boleh perempuan, bahkan boleh siap...

SIKLON DAN ANTI-SIKLON DI YOGYA (Keris kok Bawahan Pedang)

Makin banyak orang bertanya kepada saya: kok kayaknya ada sesuatu di Yogya? Bagaimana saya menjawabnya? Apakah saya punya hak atau kewajiban untuk menjawabnya? Apakah saya punya pengetahuan untuk menjawabnya? Andaikan saya sedikit tahu tentang itu, lantas menjawabnya: jangan-jangan itu bukan pengetahuan saya, melainkan pendapat saya. Dan kalau itu pendapat saya, jangan-jangan itu ternyata adalah bias dari posisi saya, dari selera saya, atau malah dari kepentingan saya. Kemudian kalau ternyata itu bias, bagaimana kalau kemelencengan atau pembiasan itu berasal dari ketidaklengkapan informasi yang saya peroleh dari luar. Atau malah merupakan produk dari prasangka dari dalam diri sendiri. Lebih parah lagi kalau prasangka itu ternyata hasil dari takhayul atau pengkhayalan subjektif dalam diri saya. Kalau dari obrolan di angkringan, diskusi di forum, atau di koran dan media lain di Yogya saya mendengar kata mangku, paugeran, buwono, sabda, diskriminasi, wangsit, raja, bumi, perempuan, bawono...

MENGHISAB KEDERMAWANAN TUHAN (Robbun Tidak Ghofur)

Sudah siap “Sekam Terpendam di Tlatah Yogya”, tapi kusimpan dulu. Kita menyelam ke pembelajaran nilai yang ‘universal’ saja dulu. Sebelum menyelam aku sempat menoleh menatap Indonesia. Ternyata tetap saja berkecamuk adrenalin cintaku kepadanya: Wahai Indonesia, sebenarnya kita ini mau apa sih? “Aku Indonesia” itu maunya apa? Mau pergi ke mana? Gawang tendangan bola kita yang mana? Cita-cita kita apa? Mau Kaya? Atau mau hebat? Kuat? Pintar? Baik? Kuasa? Kalau mau kaya, wahai para ahli kekayaan terangkanlah dibanding ketika merdeka, sekarang ini apakah kita makin kaya, atau malah semakin miskin? Atau jelaskanlah kaya itu bagaimana? Kaya itu merdeka dari utang, ataukah semakin banyak utang berarti makin kaya? Menurut kriteria dunia, yang kaya itu Negaranya, pejabatnya ataukah rakyatnya? Kalau tukang bakso menabung sekeping demi sekeping uang selama puluhan tahun untuk biaya naik haji, lantas Negara meminjamnya entah untuk apa – siapa di antara mereka berdua yang kaya? Kami rakyat kecil ta...

RAHMATAN LIL’ALAMIN DARI BOROBUDUR ("Nobel" Prize untuk Ummat Islam Magelang)

Apa? Borobudur dikepung oleh 200.000 orang dari 185 Laskar dari seluruh Nusantara? Borobudur diputihkan? Borobudur dikepung? Apa-apaan ini? Aksi Bela Rohingya? Mau balas dendam? Nyawa bayar nyawa? Kapolri Tito Karnavian, di Mekah, terloncat berdiri karena mendengar kabar itu. Ia mempercepat jadwal pulangnya dari berhaji. Langsung terbang ke Jakarta. Malam tiba, dan langsung mengadakan rapat khusus dengan para perwira Mabes. Laskar apa itu yang berani-beraninya akan mengepung Candi Borobudur? Pasukan dari mana itu yang merencanakan kekejaman untuk mencederai Borobudur? Apakah karena Borobudur adalah monumen spiritual Kaum Budha sedunia, lantas harus menanggung balas dendam atas penderitaan Kaum Muslimin di Rohingya? Apakah mereka hendak merobohkan keajaiban dunia itu? 185 Laskar dari berbagai daerah berkumpul di Magelang untuk bersama-sama menyerbu Borobudur? Laskar-laskar itu tak sekadar datang dari seputar Magelang, Yogya dan Semarang? Tapi juga dari daerah-daerah Jawa Tengah l...

PEMIMPIN YANG 'TUHAN' (Jilbab Kanjeng Ratu Kidul)

Manusia yang paling sial di dunia adalah yang tak seorangpun berani menyalahkannya. Pemimpin yang paling berbahaya bagi rakyatnya adalah pemimpin yang semua orang tidak mengemukakan kebenaran kepadanya, baik karena takut, kepentingan untuk menjilat, atau karena sikap kemunafikan. Ketika pemimpin ini bertelanjang bulat pun bawahannya membungkuk dan bilang “Jas dan dasi Bapak bagus sekali”. Kalau orang yang demikian itu kebetulan seorang pemimpin, maka ia bisa disebut “Pemimpin Yang Tuhan”. Sebab can do no wrong. Ia dianggap tidak mungkin salah. Ia diyakini selalu benar. Maka selalu harus dipuji, dilindungi, dibela: kalau perlu dengan toh nyowo, bertaruh nyawa. Segala keburukan, asal dia yang melakukan: menjadi kebaikan. Segala kebodohan, asal dia yang melakukan: menjadi kepiawaian. Segala kekonyolan, asal dia yang melakukan: menjadi kemuliaan. Ia bagaikan Tuhan itu sendiri. Minimal tajalli-Nya. Kondisi itu membuat pihak lain yang berseberangan melakukan ekstremitas dan kemutlakan sikap ...

BERKAH DILEMPAR SENDAL

Seperti dilempar sendal muka saya. Sebagaimana janji-Nya ‘allamal insana ma lam ya’lam – Ia mengajari yang manusia belum tahu. “Pancer” kami menyuruh saya berhenti menulis Pancasila. Jangan GR seolah-olah itu tema penting bagi Indonesia. Jangan salah sangka terhadap pekikan-pekikan Pancasila. Maka Seri Pancasila sampai 17, stop di 14. Alhamdulillah seri-14 tulisan saya berjudul “Pancasila Setengah Hati”. Para sahabat ikut nimbrung: “Saya memang menemukan semacam kecenderungan serius bahwa orang ditimpa kemalasan terhadap Pancasila. Begitu di judul ada kata Pancasila, langsung “pindah channel”. Kecuali bagi yang mau jualan Pancasila untuk goal politiknya.” Bersahutan-sahutanlah ketiga sahabat itu: “Kita hanya melihat kulit, terus menyimpulkan isi. Kita terpesona penampilan, terus menyembah. Atau fobi simbol-simbol, terus muntah. Kita bertengkar sedunia karena tampilan, institusi, nama, ikon, display, judul, papan nama dan topeng-topeng. Disangka kalau Seri Pancasila berarti fokusnya Pan...

PANCASILA SETENGAH HATI (Seri Pancasila, 14)

Tulisan ini rencananya berjudul “Khilafah Yesus”, tetapi tidak dengan setiap kata kita siap bersilaturahmi. Beda satu huruf, bisa tawur. Habibi dicintai, kalau Habib dibenci, padahal hanya huruf “I”, atau “I”nya ditaruh di sela huruf yang lain: Habaib – banyak orang merasa ngeri. Indonesia sedang sangat berkabut. Penglihatan kita samar-samar. Mau bela yang anti Allahu Akbar, ada maklum-maklum juga tapi salah. Mau bela yang teriak Allahu Akbar, kebenarannya cedera oleh ketidaktepatan di baliknya. Begitulah. Gara-gara sekilas saya menyebut tentang situasi Keraton Yogya hari ini, sahabat-sahabat saya memprotes. Padahal saya belum menyebut Serat Suryorojo HB-II yang diijtihadi oleh HB-V menjadi Serat Purwokondho, yang menyatakan “kalau sampai Rajanya….maka Keraton akan ambruk”. Paugeran itu secara resmi berlaku sampai hari ini. Belum lagi kalau melebar sampai ke Serat Srimpi Jemparingan, Serat Tapel Adam, Kitab Tuhfat An-Nafis, sampai Kiai Sangkelat, Kiai Kopek dan Kiai Joko Piturun. “Kena...

SETOR DAN SEDEKAH PANCASILA (Seri Pancasila, 13)

Sedang asyik membaca “dlahak kubro” keputusan konstitusi bahwa siapapun boleh jadi Raja Yogya, sambil mulai nulis “Horee! Saya Bisa Jadi Raja Yogya!” — mendadak Pancasila menepuk bahu saya dan berkata keras: “Sudahlah, nggak usah nulis lagi tentang saya. Saya tidak butuh itu semua….”     Saya menjawab spontan: “Lho saya yang butuh…” Saya terus menyentuh-nyentuh kepustakaan primer sumber konstitusi Keraton Ngayogyakartahadiningrat, Mataram Islam: yakni “Serat Suluk Garwa Kencana”, “Serat Iskandar Zulkarnain”, “Serat Yusup”, “Serat Usulbiyah”, bahkan melirik “Tajussalatin” dan “Bustanussalatin”. Bahkan saya siapkan Tumpengan untuk revolusi Yogya. Tumpeng artinya “metu mempeng”. Kalau sudah keluar keputusan, harus tandang maksimal. Cancut Taliwondo. Tapi akhirnya terpaksa stop dulu. Sebab Pancasila membantah: “Kamu hanya memakai saya untuk bahan setoranmu kepada Tuhan. Kamu menjual saya ke Tuhan, supaya beres masalahmu dengan Dia dan tidak dimarahi”     “Bukan...

JAB SWING HOOK PANCASILA (Seri Pancasila, 12)

Pancasila adalah karakter manusia. Andaikan tak ada Pemerintah (petugas pengelolaan) Indonesia, masih ada Negara (teritorial) Indonesia. Kalau tak ada Negara Indonesia, masih ada rakyat (baca: ra’iyat, kedaulatan dan kepemimpinan) Indonesia. Kalau tak ada rakyat Indonesia, masih ada bangsa Indonesia. Kalau tak ada bangsa Indonesia, masih ada manusia Indonesia. Kalau masih ada manusia, berarti tetap ada Pancasila. Atau terserah bagaimana terminologi atau strata makna sosiologis dan antropologisnya. Saya adalah bagian dari “pernikahan” sejarah Indonesia. Ibarat keluarga “rahmah, mawaddah wa sakinah”: berkat limpahan rahmah (anugerah cinta universal) saya sangat mencintai manusia. Berkat mawaddah (pasokan cinta khusus) saya sangat mencintai manusia Indonesia. Maka tak kan pernah berhenti saya memperjuangkan sakinah (kemapanan kekeluargaan dengan) Indonesia. Cinta kepada Indonesia bukan barang jadi. Tuhan bilang “litaskunu ilaiha”, bukan “litaskunu fiha”. Kalau “fiha”, di dalamnya, berarti...

AQIL BALIGH PANCASILA (Seri Pancasila, 11 )

Jelas pandangan sahabat saya itu adalah hasil pikiran orang yang hidup di tengah hutan. Kurang pergaulan. Ketinggalan zaman. Indonesia sudah gebyar-gebyar, gedung-gedung canggih, cahaya berpendar-pendar, teknologi tinggi dan canggih menjadi urat saraf dan aliran darah Indonesia. Tapi sahabat saya itu seperti makhluk pra-sejarah. Ultra-ortodoks. Jumud bin mbegugug. Pernah saya sindirkan itu, tapi sahabat saya tersenyum dan menjawab: “Siapa tak tahu Indonesia makin gebyar? Tapi rajinlah menghitung: berapa persen dari Indonesia yang milik Indonesia? Apakah Indonesia semakin menjadi milik Indonesia atau semakin menjadi bukan milik Indonesia? Saya tidak mengerti kenapa makin banyak manusia yang bahagia dan bangga menjadi jongos…” Ketika di hadapannya saya mendengarkan omongan sahabat itu, hampir semuanya ingin saya bantah. Tetapi, ini masalahnya, begitu saya berkumpul dengan anak-anak, hampir semua omongan sahabat itu rasanya saya setuju. Seakan-akan semua pandangan sahabatku itulah yang di...