Menggendong masalah Keraton dan Indonesia sangat ‘njarem’ di hati. Sebab itu adalah lubang dan retakan di dalam rongga nasionalisme keindonesiaanku. Aku keluar rumah, berlari ke lapangan sepakbola. Menghela napas panjang dengan irama perlahan-lahan, sambil kaki berlari-lari kecil, tetapi tidak dalam irama yang sama dengan ritme napasku. Cucu-cucuku kesebelasan nasional U-19 sedang berjuang di medan laga Myanmar, dan mestinya itu membuat hati Indonesia kita tergetar. Di AFC U-19 2014 bersama istri dan seorang teman aku nongol di Yangon dan Naypyidaw, Myanmar, tanpa diketahui sebelumnya oleh Evan Dimas dkk. Juga kami tidak merasa siapa-siapa sehingga harus memberitahukan partisipasi kami terhadap perjuangan U-19, kepada Coach Indra Sjafri, BTN, maupun para pengurus PSSI di sana. Kami mengikuti proses mereka, ranjau-ranjau yang menghadang mereka, tetapi kami hanya suporter, penggembira berkibarnya Merah Putih di bagian bumi manapun. Tidak penting untuk diceritakan apa yang kami lakuk...
Blog ini Insya Allah dapat digunakan sebagai media untuk gudang dokumentasi Padhang mBulan Net milist (padhang-mbulan@yahoogroups.com) juga newsletter Kenduri Cinta (kenduricinta@yahoogroups.com) Terima kasih utk teman2 PmBNet yg telah selama ini posting utk Padhang mBulan Net, juga media2 online yang telah membantu kami untuk mengkoleksi tulisan2 Cak Nun. Mudah-mudahan bermanfaat untuk kita semua.